23 JUL 2026
Lithium Anjlok ke Terendah 5 Bulan — Kekhawatiran Surplus 2027 Kembali

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Lithium Anjlok ke Terendah 5 Bulan — Kekhawatiran Surplus 2027 Kembali
Pasar

Lithium Anjlok ke Terendah 5 Bulan — Kekhawatiran Surplus 2027 Kembali

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juli 2026 pukul 15.43 · Sumber: MINING.com ↗
7 Skor

Penurunan tajam harga lithium menekan sentimen komoditas baterai global, dengan implikasi langsung terhadap daya saing nikel Indonesia sebagai bahan baku baterai NMC.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Harga lithium futures di China jatuh ke level terendah lima bulan pada Selasa, mencapai 136.800 yuan per ton sebelum ditutup di 144.000 yuan (turun 4,95% hari itu) dan terus melemah 0,7% ke 143.000 yuan pada Rabu. Kontrak telah kehilangan hampir 30% dari puncak dua tahun di atas 200.000 yuan yang tercapai pada pertengahan Mei 2026. Meski demikian, harga masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun lalu dan masih mencatat kenaikan sekitar 22% secara year-to-date. Penurunan ini dipicu oleh restart tambang-tambang besar yang sebelumnya dihentikan. Raksasa baterai CATL telah mengaktifkan kembali tambang Jianxiawo, menambah sekitar 46.000 ton kapasitas tahunan (setara 3% pasokan global).

Produsen Australia seperti Mineral Resources (Bald Hill), Core Lithium (Finniss), dan ekspansi Mt Marion juga kembali beroperasi, memicu ekspektasi pasar bahwa pasokan akan kembali surplus pada 2027. Di sisi permintaan, data masih menunjukkan kekuatan: produksi baterai listrik dan penyimpanan energi China mencapai 191,7 GWh pada Mei, naik lebih dari 55% secara tahunan, sementara Departemen Pertahanan AS mengumumkan pembelian lithium hingga USD300 juta untuk stok nasional. Faktor lain yang mendukung pengetatan pasokan jangka panjang adalah keputusan Zimbabwe yang tetap memberlakukan larangan ekspor konsentrat lithium mulai 1 Januari 2027, menolak permintaan industri untuk menunda. Namun, aksi restart yang masif telah membalikkan sentimen pasar.

Bagi Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia yang mengandalkan hilirisasi untuk baterai NMC (nikel-mangan-kobalt), penurunan harga lithium membawa implikasi ganda. Di satu sisi, harga lithium yang lebih rendah membuat baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) yang tidak membutuhkan nikel menjadi lebih kompetitif secara biaya. Jika tren ini berlanjut, produsen kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi dapat beralih dari NMC ke LFP, mengurangi proyeksi permintaan nikel kelas baterai.

Di sisi lain, jika pasokan lithium jangka panjang berlimpah dan murah, investasi smelter nikel di Indonesia yang dirancang untuk pasar baterai NMC bisa kehilangan daya tarik. Pemerintah Indonesia dan pelaku industri perlu mencermati dinamika ini.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga lithium yang berkelanjutan dapat mengubah peta persaingan teknologi baterai global. Baterai LFP yang lebih murah dan aman menjadi semakin kompetitif dibanding NMC, yang berarti permintaan nikel kelas baterai — andalan hilirisasi Indonesia — berpotensi melambat. Ini berdampak langsung pada proyek smelter nikel senilai puluhan miliar dolar dan prospek Pendapatan Negara dari ekspor nikel olahan.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan harga lithium memperkuat daya saing baterai LFP, yang tidak membutuhkan nikel. Jika tren ini berlanjut, permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik bisa berkurang, mengancam keekonomian smelter nikel di Indonesia yang sebagian besar mengolah nikel menjadi bahan baku NMC.
  • Emiten nikel terintegrasi seperti PT Vale Indonesia (INCO), PT Aneka Tambang (ANTM), dan PT Merdeka Battery Materials (MBMA) berpotensi mengalami tekanan valuasi jika pasar mulai memperhitungkan risiko substitusi teknologi. Investor perlu mencermati panduan manajemen terkait struktur kontrak penjualan dan biaya produksi.
  • Di sisi lain, produsen kendaraan listrik global dan perusahaan penyimpanan energi akan diuntungkan oleh biaya baterai yang lebih rendah. Hal ini dapat mempercepat adopsi EV secara global, yang dalam jangka panjang tetap mendukung permintaan nikel — meski dengan pangsa yang lebih kecil per unit baterai.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga lithium kontrak Guangzhou di kisaran 130.000–145.000 yuan. Jika tembus ke bawah 130.000, tekanan bearish pada sentimen komoditas baterai akan semakin dalam.
  • Risiko yang perlu dicermati: pengumuman restart tambang tambahan dari produsen lithium besar (Albemarle, SQM, atau proyek baru di Afrika dan Amerika Selatan) yang dapat mempercepat timeline surplus 2027.
  • Sinyal penting: respons pasar saham Indonesia terhadap emiten nikel, terutama volume perdagangan dan perubahan kepemilikan asing. Jika terjadi aksi jual asing di saham nikel secara konsisten, itu menandakan ekspektasi perubahan fundamental.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah produsen nikel terbesar dunia dan tengah gencar mengembangkan hilirisasi untuk menghasilkan produk nikel kelas baterai. Harga lithium yang rendah meningkatkan daya saing baterai LFP (tanpa nikel) dibandingkan NMC. Jika pangsa LFP meningkat secara global, proyeksi permintaan nikel untuk baterai bisa melambat, sehingga mengurangi volume ekspor nikel olahan Indonesia dan berpotensi mempengaruhi surplus neraca perdagangan. Namun, pertumbuhan permintaan kendaraan listrik yang masih tinggi (produksi baterai China naik 55% YoY) dapat menyangga penyerapan nikel. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan strategi diversifikasi — misalnya memasuki produksi LFP di dalam negeri atau mempercepat eksplorasi lithium sendiri — untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis baterai.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.