Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

12 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Beranda / Pasar / Asing Jual Saham Bank Besar Rp 2,6 Triliun, Beralih ke EMAS dan Energi
Pasar

Asing Jual Saham Bank Besar Rp 2,6 Triliun, Beralih ke EMAS dan Energi

Tim Redaksi Feedberry ·11 Mei 2026 pukul 16.47 · Sinyal tinggi · Sumber: Feedberry ↗
Feedberry Score
6.5 / 10

Ringkasan Eksekutif

Investor asing net sell Rp 2,6 triliun di tiga bank besar pekan lalu, sementara net buy terbesar di EMAS mencapai Rp 289,5 miliar.

Fakta Kunci

Selama pekan 13-17 April, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 2,6 triliun pada saham tiga bank terbesar Indonesia: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Selain itu, asing juga mencatatkan net sell Rp 554,7 miliar pada PT Bumi Resources Tbk. Di sisi lain, mereka melakukan aksi beli bersih (net buy) di sektor energi dan pertambangan, dengan net buy terbesar pada PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencapai Rp 289,5 miliar. Emiten lain yang dibeli termasuk PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, dan PT Astra International Tbk.

Transmisi Dampak

Rotasi portofolio ini menunjukkan pergeseran risk appetite investor asing dari sektor perbankan — yang sensitif terhadap NIM dan risiko kredit — ke sektor komoditas. Aksi jual di bank besar dipicu oleh ekspektasi suku bunga BI yang masih tinggi (6,00%) dan tekanan pada margin bunga bersih (NIM) akibat kompetisi dana pihak ketiga. Sementara itu, pembelian di EMAS dan saham energi didorong oleh kenaikan harga emas global yang menembus rekor tertinggi di atas USD 3.300 per troy ounce pada April 2025. Mekanisme transmisi: ekspektasi suku bunga tinggi membuat yield obligasi menarik, sehingga asing mengurangi eksposur perbankan dan beralih ke aset komoditas yang diuntungkan oleh ketegangan geopolitik global.

Konteks Pasar

IHSG pada periode tersebut berada di level 6.905,6, menunjukkan tekanan dari arus keluar asing. Sektor keuangan menjadi yang paling tertekan, sementara sektor basic materials dan energi justru menguat. Dengan PBV EMAS mencapai 17,85 kali, valuasi ini mencerminkan premium karena prospek emas, meskipun ROE negatif -7,22% menunjukkan perusahaan belum menghasilkan laba bersih. Perbandingan dengan peer seperti PT Bumi Resources Tbk yang dijual asing Rp 554,7 miliar menunjukkan divergensi: asing keluar dari saham batubara, namun masuk ke emas dan energi terintegrasi. EMAS menjadi penerima manfaat utama net buy asing mingguan, menandakan kepercayaan terhadap prospek emiten tambang emas muda.

Yang Harus Dipantau

  1. Rilis laporan keuangan Q1-2025 EMAS pada akhir April — jika produksi emas dan pendapatan tumbuh signifikan, aksi beli asing bisa berlanjut; sebaliknya, jika laba masih negatif, koreksi teknikal mungkin terjadi. 2) Rapat dewan gubernur BI pada 23-24 April — keputusan suku bunga akan mempengaruhi aliran modal asing; jika BI tetap dovish, pressure pada perbankan bisa berkurang. 3) Pergerakan harga emas global — jika terus menguat karena dorongan safe haven (konflik Timur Tengah, perlambatan ekonomi AS), minat asing pada EMAS akan bertahan.

Strategic Insight

Aksi asing minggu ini mengkonfirmasi tren struktural: investor global mulai merealokasi dana dari sektor keuangan defensif ke sektor komoditas siklikal, khususnya emas. Ini berbeda dengan pola 2023-2024 di mana perbankan menjadi favorit karena suku bunga tinggi. Fundamental EMAS memang belum kuat secara earning — terlihat dari PER negatif dan ROE negatif — namun pasar saat ini menghargai potensi produksi dan cadangan emas. Jika harga emas bertahan di atas USD 3.000, valuasi EMAS yang premium bisa terjustifikasi dalam jangka pendek. Yang berubah secara fundamental adalah persepsi asing terhadap Indonesia: dari ‘safety play’ perbankan menjadi ‘commodity play’. Implikasinya, sektor yang akan mendapat aliran dana asing ke depan adalah pertambangan emas, nikel, dan energi, bukan lagi bank.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.