Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

6 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Ekspor Kawat Baja RI Anjlok 48,5% dalam 5 Tahun — Impor Justru Naik, TKDN Masih Rendah

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Makro / Ekspor Kawat Baja RI Anjlok 48,5% dalam 5 Tahun — Impor Justru Naik, TKDN Masih Rendah
Makro

Ekspor Kawat Baja RI Anjlok 48,5% dalam 5 Tahun — Impor Justru Naik, TKDN Masih Rendah

Tim Redaksi Feedberry ·6 Mei 2026 pukul 12.45 · Confidence 7/10 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
Feedberry Score
6 / 10

Urgensi sedang karena tren penurunan ekspor sudah berlangsung 5 tahun, bukan kejutan mendadak. Dampak luas ke sektor logam dasar dan rantai pasok hilir. Dampak Indonesia tinggi karena sektor ini menyerap investasi Rp64,88 triliun dan jadi penopang tenaga kerja.

Urgensi 6
Luas Dampak 5
Dampak Indonesia 7

Ringkasan Eksekutif

Industri kawat besi dan baja nasional mengalami tekanan struktural: volume ekspor turun 48,5% dari 22.225 ton (2021) menjadi 11.442 ton (2025), sementara impor justru naik dari 135.793 ton menjadi 143.662 ton di periode yang sama. Produk kawat baja galvanis bahkan lebih parah — ekspornya ambruk 72,9% dari 6.557 ton menjadi hanya 1.777 ton. Di tengah kontraksi ekspor ini, investasi industri logam dasar masih tercatat Rp64,88 triliun pada Q1-2026 (13% dari total investasi nasional), menunjukkan ada kesenjangan antara daya tarik investasi dan daya saing ekspor. Masalah struktural lainnya adalah tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang masih rendah — terendah 2,9% pada kawat las — yang membuat produk lokal kurang kompetitif di pasar global dan justru mendorong ketergantungan impor.

Kenapa Ini Penting

Penurunan ekspor kawat baja bukan sekadar masalah satu subsektor — ini sinyal bahwa hilirisasi logam yang digenjot selama ini belum merata ke produk antara (intermediate goods). Sektor logam dasar yang menyerap investasi besar justru menunjukkan gejala deindustrialisasi dini: produksi dalam negeri tidak terserap ekspor, sementara impor mengisi celah permintaan domestik. Ini berpotensi menekan neraca perdagangan non-migas dan memperlemah ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan rupiah yang sedang berada di level terlemah dalam rentang data terverifikasi.

Dampak Bisnis

  • Produsen kawat baja lokal (21 perusahaan dengan kapasitas 1,05 juta ton/tahun) menghadapi utilisasi rendah karena ekspor menyusut sementara pasar domestik masih diisi impor — tekanan margin dan potensi PHK di sektor ini perlu diwaspadai.
  • Importir baja dan distributor bahan baku konstruksi justru diuntungkan oleh tren ini dalam jangka pendek, karena pasokan impor yang meningkat menekan harga domestik — tapi ini menciptakan ketergantungan yang berisiko jika rupiah terus melemah.
  • Efek cascading ke sektor konstruksi dan infrastruktur: jika produksi dalam negeri terus tertekan, proyek-proyek yang mewajibkan TKDN tinggi (seperti proyek pemerintah) bisa menghadapi kendala pasokan atau kenaikan biaya karena harus beralih ke produk lokal yang lebih mahal atau terbatas.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kebijakan Kemenperin terkait TKDN dan insentif ekspor — apakah ada relaksasi atau justru penguatan aturan TKDN yang bisa mengubah struktur biaya produsen.
  • Risiko yang perlu dicermati: tren impor kawat baja yang terus naik — jika mencapai titik impas dengan produksi domestik, ini bisa memicu gelombang PHK di sektor logam dasar yang selama ini jadi penopang investasi.
  • Sinyal penting: data neraca perdagangan baja dan logam dasar dari BPS dalam 2-3 kuartal ke depan — apakah penurunan ekspor sudah mencapai titik jenuh atau masih akan berlanjut.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.