Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

17 MEI 2026
Ekonom: RI Perlu Ubah Orientasi ke Outward Looking untuk Genjot Ekspor

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Ekonom: RI Perlu Ubah Orientasi ke Outward Looking untuk Genjot Ekspor
Makro

Ekonom: RI Perlu Ubah Orientasi ke Outward Looking untuk Genjot Ekspor

Tim Redaksi Feedberry ·16 Mei 2026 pukul 11.30 · Sinyal tinggi · Sumber: IDXChannel ↗
8.3 Skor

Kritik terhadap stagnasi pertumbuhan 5% dan seruan perubahan orientasi ekonomi menyentuh fondasi daya saing nasional — berdampak pada investasi, ekspor, dan lapangan kerja lintas sektor.

Urgensi
7
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
9
Analisis Indikator Makro
Indikator
Pertumbuhan Ekonomi (PDB)
Nilai Terkini
~5% (stagnan dalam beberapa tahun terakhir)
Tren
stabil
Sektor Terdampak
ManufakturEksporInvestasiBUMNUMKM

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons resmi pemerintah — apakah ada kebijakan konkret seperti paket insentif ekspor, penyederhanaan regulasi, atau perjanjian dagang baru yang menunjukkan pergeseran ke outward looking.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika tidak ada perubahan kebijakan yang berarti, Indonesia berisiko kehilangan daya saing lebih lanjut — data FDI kuartal II-2026 dan arus modal asing di SBN akan menjadi indikator awal.
  • 3 Sinyal penting: pernyataan Presiden atau Menteri Koordinator Perekonomian tentang arah kebijakan industri dan perdagangan — jika ada penekanan pada ekspor dan investasi bernilai tambah tinggi, itu sinyal positif.

Ringkasan Eksekutif

Ekonom Indef, Didik J. Rachbini, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di kisaran 5% dalam beberapa tahun terakhir merupakan tantangan serius yang membutuhkan perubahan fundamental. Menurutnya, kebijakan ekonomi nasional saat ini terlalu berorientasi ke dalam (inward looking), yang justru membatasi ruang gerak sektor industri. Didik mendorong pemerintah untuk kembali ke orientasi luar (outward looking) guna memacu kinerja ekspor, mencontoh Vietnam yang nilai perdagangan internasionalnya telah mencapai USD1.000 miliar. Ia juga menyoroti bahwa investasi yang masuk ke Indonesia saat ini didominasi sektor bernilai tambah rendah seperti jasa konsultasi, restoran, dan industri ekstraktif, sehingga transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas tidak optimal. Kecenderungan inward looking ini, menurut Didik, tidak hanya terjadi di pemerintah tetapi juga di sektor swasta dan BUMN, yang semakin memperparah kondisi. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan eksternal yang terlihat dari data pasar: IHSG stagnan di 6.723, rupiah melemah ke Rp17.491 per dolar AS, dan harga minyak Brent masih tinggi di USD109,26 per barel — kombinasi yang memperberat biaya impor dan beban fiskal Indonesia. Artikel terkait dari Apindo juga mengonfirmasi bahwa keluhan pengusaha China tentang birokrasi dan ketidakpastian regulasi juga dirasakan pebisnis lokal, memperkuat sinyal bahwa masalah iklim investasi bersifat struktural. Sementara itu, perlambatan Zona Euro dan potensi kenaikan suku bunga ECB membuat dolar AS tetap kuat, menekan rupiah lebih lanjut. Dalam konteks ini, seruan untuk outward looking bukan sekadar wacana akademis, melainkan respons terhadap tekanan kompetitif yang nyata dari negara tetangga dan tantangan eksternal yang menggerus daya saing Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Pertumbuhan 5% yang stagnan berarti Indonesia tidak mampu mengejar ketertinggalan dari negara seperti Vietnam, yang perdagangannya sudah mencapai USD1.000 miliar. Jika orientasi inward looking terus dipertahankan, investasi berkualitas rendah akan mendominasi, transfer teknologi terhambat, dan lapangan kerja berkualitas sulit tercipta — ini mengancam prospek jangka panjang ekonomi Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan eksportir dan manufaktur berorientasi ekspor akan diuntungkan jika pemerintah benar-benar beralih ke outward looking — insentif, kemudahan birokrasi, dan akses pasar bisa meningkat. Namun, jika hanya wacana tanpa aksi, ekspektasi bisnis bisa kecewa.
  • Sektor jasa konsultasi, restoran, dan industri ekstraktif yang saat ini mendominasi investasi berisiko kehilangan pangsa jika pemerintah mulai memprioritaskan investasi bernilai tambah tinggi seperti manufaktur dan teknologi.
  • BUMN dan perusahaan swasta yang selama ini nyaman dengan orientasi inward looking akan terpaksa beradaptasi — ini bisa memicu restrukturisasi, efisiensi, atau bahkan divestasi jika tidak mampu bersaing di pasar global.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi pemerintah — apakah ada kebijakan konkret seperti paket insentif ekspor, penyederhanaan regulasi, atau perjanjian dagang baru yang menunjukkan pergeseran ke outward looking.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika tidak ada perubahan kebijakan yang berarti, Indonesia berisiko kehilangan daya saing lebih lanjut — data FDI kuartal II-2026 dan arus modal asing di SBN akan menjadi indikator awal.
  • Sinyal penting: pernyataan Presiden atau Menteri Koordinator Perekonomian tentang arah kebijakan industri dan perdagangan — jika ada penekanan pada ekspor dan investasi bernilai tambah tinggi, itu sinyal positif.