5 JUN 2026
Ekonom Ramal Rupiah ke Rp25.000 Akhir 2026 – Krisis Kepercayaan Jadi Pangkal

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Ekonom Ramal Rupiah ke Rp25.000 Akhir 2026 – Krisis Kepercayaan Jadi Pangkal
Forex & Crypto

Ekonom Ramal Rupiah ke Rp25.000 Akhir 2026 – Krisis Kepercayaan Jadi Pangkal

Tim Redaksi Feedberry ·4 Juni 2026 pukul 15.00 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
9.3 Skor

Prediksi ekstrem dari ekonom terkemuka dengan argumen domestik sistemik, ditambah tekanan eksternal dari DXY tinggi dan minyak naik – dampaknya langsung ke seluruh sektor dan stabilitas makro.

Urgensi
9
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
10

Ringkasan Eksekutif

Ekonom Ferry Latuhihin memprediksi rupiah dapat menembus Rp25.000 per dolar AS pada akhir 2026, dengan proyeksi antara Rp20.000 pada Juni, Rp22.000 pada Juli, dan terus melemah hingga akhir tahun. Saat ini rupiah diperdagangkan di Rp18.034 per dolar AS, level yang sudah mendekati area terlemah dalam data terbaru. Ferry menegaskan bahwa pelemahan bukan semata karena faktor eksternal seperti geopolitik Timur Tengah atau suku bunga AS, melainkan bersumber dari persoalan domestik yang sistemik. Ia menunjukkan bahwa rupiah melemah terhadap ringgit Malaysia dan dolar Singapura – artinya ketika mata uang lain menguat terhadap dolar AS, rupiah justru tetap tertekan. Ini menandakan krisis kepercayaan investor terhadap kebijakan dalam negeri, yang diperparah oleh perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat dan ketidakpastian regulasi.

Dari sisi fundamental fiskal, APBN per Maret 2026 mencatat defisit Rp240,1 triliun (0,93% PDB) dengan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun – utang baru digunakan untuk membayar bunga utang lama. Tekanan global juga tidak mereda: imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,46%, indeks dolar DXY di 118,88, dan suku bunga The Fed di 3,63% dengan potensi kenaikan 25 bps lagi. Harga minyak Brent yang diperkirakan bertahan di US$110–120 per barel akibat konflik AS-Iran menambah beban subsidi energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Ferry menilai kenaikan BI Rate tidak akan cukup membalikkan sentimen selama kepercayaan investor belum pulih. Dampak dari skenario ini sangat luas.

Sektor importir – manufaktur, ritel, dan perusahaan dengan utang valas – akan menghadapi kenaikan biaya langsung yang menekan margin. Emiten properti dan infrastruktur yang memiliki utang dolar akan mencatat kerugian kurs dan meningkatkan beban bunga.

Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan sawit diuntungkan dalam konversi pendapatan dolar ke rupiah, tetapi efek positif ini terbatas jika permintaan global melambat. Bank Indonesia berada dalam dilema: menahan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas rupiah atau melonggarkan untuk mendorong pertumbuhan – dengan tekanan eksternal yang kuat, ruang pelonggaran tampak tertutup.

Mengapa Ini Penting

Prediksi ini bukan sekadar opini – ia menggambarkan hilangnya kepercayaan investor yang sudah terlihat dari outflow asing, IHSG ambrol, dan yield SBN yang naik. Jika kepercayaan tidak segera dipulihkan melalui kebijakan fiskal-moneter yang kredibel, depresiasi rupiah bisa berakselerasi dan memicu krisis kepercayaan yang lebih dalam, menggerus daya beli dan menghambat investasi. Ini adalah peringatan struktural bahwa masalah Indonesia bukan hanya eksternal, melainkan kegagalan membangun kredibilitas kebijakan di mata pasar.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dan emiten dengan utang dolar (properti, infrastruktur, maskapai) akan mengalami kenaikan biaya langsung: beban bunga membengkak dan margin laba tergerus. Jika rupiah benar mencapai Rp22.000 per dolar, biaya impor bahan baku bisa naik lebih dari 20%, memaksa penyesuaian harga jual yang berisiko menurunkan permintaan.
  • Sektor properti dan konsumsi yang bergantung pada kredit perumahan dan konsumen akan tertekan ganda: suku bunga tinggi lebih lama karena BI harus menjaga stabilitas rupiah, dan daya beli masyarakat tergerus inflasi impor. Pengembang properti dengan utang dolar berpotensi menghadapi kesulitan likuiditas jika hedging tidak memadai.
  • Eksportir komoditas (sawit, batu bara, nikel) diuntungkan secara pendapatan karena penjualan dolar dikonversi ke rupiah lebih besar, namun keuntungan ini bisa terhapus jika permintaan global melemah akibat resesi atau jika harga komoditas turun. Efek positif bersifat sementara dan tidak merata – hanya emiten dengan biaya produksi rendah yang benar-benar menikmati margin tambahan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level psikologis rupiah di Rp18.200 – jika tembus, intervensi BI kemungkinan besar akan diintensifkan, namun jika gagal menahan, ekspektasi depresiasi semakin kuat dan akselerasi pelemahan bisa terjadi dalam hitungan hari.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi PCE AS (personal consumption expenditures) minggu depan – jika di atas ekspektasi, probabilitas kenaikan Fed 25 bps naik, memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih lanjut. Dampak ke Indonesia akan langsung terasa melalui outflow asing dari SBN dan IHSG.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi BI dan pemerintah mengenai langkah mitigasi – apakah ada kebijakan baru seperti perluasan fasilitas hedging, penerbitan SUN valas, atau pengumuman reformasi fiskal kredibel. Jika tidak ada respons yang memadai dalam 1-2 minggu, tekanan pasar akan meningkat dan prediksi Rp25.000 semakin dianggap realistis.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.