6 JUN 2026
Ekonom Bantah RI Menuju Krisis 1998 — Tapi Tekanan Rupiah dan Defisit APBN Nyata

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Ekonom Bantah RI Menuju Krisis 1998 — Tapi Tekanan Rupiah dan Defisit APBN Nyata
Makro

Ekonom Bantah RI Menuju Krisis 1998 — Tapi Tekanan Rupiah dan Defisit APBN Nyata

Tim Redaksi Feedberry ·6 Juni 2026 pukul 11.55 · Sumber: Detik Finance ↗
8 Skor

Artikel membantah krisis ala 1998, namun data pasar menunjukkan rupiah di 18.015, IHSG 5.595, dan minyak $93 — tekanan simultan di fiskal, moneter, dan sektor riil membuat risiko tetap tinggi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, secara tegas membantah narasi bahwa Indonesia menuju krisis seperti 1998. Dalam keterangan tertulisnya, ia menjelaskan bahwa struktur ekonomi saat ini jauh lebih kuat — fondasi kebijakan lebih kokoh, instrumen moneter lebih lengkap, dan sektor perbankan tidak kolaps seperti saat krisis Asia. Pada 1998, nilai tukar rupiah melemah dari Rp4.000 menjadi lebih dari Rp16.000 per dolar AS, sementara inflasi melonjak dan ekonomi terkontraksi. Kini, rupiah memang tertekan ke level 18.015 per dolar AS, IHSG berada di 5.595, dan harga minyak Brent bertahan di $93 per barel — namun Josua menilai tekanan ini lebih bersumber dari sentimen global dan perubahan pola konsumsi domestik, bukan kegagalan fundamental.

Ia juga menekankan bahwa program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan investasi jangka panjang untuk SDM dan ekonomi daerah, bukan beban jangka pendek. Meski demikian, data pasar terkini menunjukkan tekanan yang tidak bisa diabaikan. Rupiah di 18.015 sudah berada di area terlemah dalam setahun terakhir, IHSG masih tertahan di bawah 6.000, dan minyak Brent di atas $90 memperkuat imported inflation. Di sisi fiskal, defisit APBN yang membesar menjadi perhatian meski Josua tidak menyebut angka detail dalam pernyataannya.

Yang tidak terlihat dari bantahan ini adalah bahwa perbandingan dengan 1998 memang tidak tepat secara struktur, tetapi tekanan saat ini datang dari arah yang berbeda: kombinasi penguatan dolar global, suku bunga The Fed yang masih tinggi di 3,63%, yield US 10Y di 4,47%, dan indeks dolar broad yang kuat. Ini menciptakan badai sempurna bagi emerging market, termasuk Indonesia. Sektor importir — khususnya yang bergantung pada bahan baku impor — menghadapi kenaikan biaya langsung. Perusahaan dengan utang valas menanggung beban kurs.

Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan sawit diuntungkan dari konversi pendapatan dolar ke rupiah, namun efek positif ini bisa terbatas jika permintaan global melambat. Bank Indonesia berada dalam dilema: menahan suku bunga untuk menstabilkan rupiah atau melonggarkan untuk mendorong pertumbuhan. Sampai Juni 2026, BI Rate belum berubah selama tujuh bulan, sementara inflasi terkendali di kisaran 2,4%. Namun jika tekanan rupiah berlanjut, BI mungkin terpaksa menaikkan bunga — sebuah langkah yang akan menekan kredit dan konsumsi. Investor dan pelaku usaha perlu mencermati bahwa optimisme berbasis data memang penting, tetapi sinyal dari pasar keuangan tidak boleh diabaikan. Level psikologis rupiah di 18.000 sudah terlampaui. Jika terus melemah ke 18.200–18.500, biaya impor dan cicilan utang dolar akan melonjak signifikan.

Dalam 1–2 minggu ke depan, perhatian tertuju pada respons BI: apakah ada intervensi lebih agresif atau kenaikan suku bunga darurat. Data inflasi AS (PCE Core) dan nonfarm payrolls akan menjadi katalis berikutnya — jika kembali panas, dolar makin perkasa dan rupiah makin tertekan. Risiko terbesar adalah jika kepercayaan investor terus tergerus, menciptakan capital flight yang memperkuat depresiasi secara self-fulfilling.

Mengapa Ini Penting

Bantahan resmi dari ekonom senior ini penting karena memberi perspektif bahwa fundamental tidak seburuk 1998. Namun, tekanan pasar saat ini — rupiah di level terlemah, IHSG rendah, dan minyak tinggi — menunjukkan bahwa risiko tetap nyata, terutama bagi bisnis yang bergantung pada impor, utang valas, atau belanja konsumen. Yang berubah secara struktural adalah bahwa sumber tekanan kini lebih bersifat global dan sulit dikendalikan secara unilateral.

Dampak ke Bisnis

  • Importir bahan baku dan barang konsumsi: kenaikan biaya impor akibat rupiah lemah langsung menekan margin, terutama di sektor manufaktur, ritel, dan FMCG. Perusahaan yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) valas akan merasakan dampak paling besar.
  • Emiten properti dan infrastruktur: perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar akan mencatat kerugian kurs dan peningkatan beban bunga. Jika BI menaikkan suku bunga, biaya kredit baru juga semakin mahal, memperlambat penjualan dan proyek.
  • Eksportir komoditas (batu bara, sawit): diuntungkan oleh konversi pendapatan dolar yang lebih tinggi ke rupiah, namun efek ini bisa terbatas jika permintaan global melambat akibat resesi di negara maju. Sektor ini perlu dipantau untuk downside risk.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan rupiah di level 18.000–18.200. Jika tembus 18.200, tekanan pada impor dan utang valas semakin intensif, dan BI kemungkinan akan merespons dengan intervensi atau kenaikan suku bunga.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS (PCE Core) dan nonfarm payrolls minggu depan. Jika data kembali panas, ekspektasi kenaikan Fed semakin kuat, dolar makin perkasa, dan emerging market termasuk Indonesia tertekan lebih lanjut.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi BI dan pemerintah tentang langkah stabilisasi. Jika ada koordinasi tiga lembaga (Kemenkeu, BI, OJK) yang menghasilkan kebijakan konkret — seperti kenaikan suku bunga atau penguatan intervensi — itu bisa menjadi katalis positif. Sebaliknya, jika hanya pernyataan optimisme tanpa aksi, pasar bisa kecewa.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.