Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Perang Iran sudah berlangsung 5 bulan, survei menunjukkan penolakan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya — berdampak pada prospek eskalasi/deeskalasi konflik, yang memengaruhi harga minyak global dan sentimen risiko di emerging markets termasuk Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
Sebuah survei terbaru Washington Post-Ipsos mengungkapkan bahwa 68% warga Amerika menilai perang Iran di bawah Presiden Trump 'tidak layak diperjuangkan', dengan hanya 28% mendukungnya. Selisih negatif 40 poin ini lebih buruk daripada titik terendah opini publik selama perang Irak maupun Afghanistan. Survei Washington Post-ABC News pada akhir April mencatat 61% responden menyebut perang Iran sebagai 'kesalahan' — sebuah angka yang pada perang Irak baru tercapai setelah hampir empat tahun, dan pada perang Vietnam setelah lebih dari enam tahun. Lebih mencolok lagi, dukungan awal terhadap serangan ke Iran hanya 41% dalam survei CNN — tingkat dukungan awal terendah yang pernah tercatat untuk setiap operasi militer internasional AS.
Survei Universitas Quinnipiac juga menemukan bahwa 45% pemilih terdaftar menilai perang tersebut justru membuat posisi AS lebih lemah di dunia, sementara hanya 33% yang mengatakan Amerika menjadi lebih kuat. Kecepatan runtuhnya dukungan publik ini menjadi sinyal politik yang sangat kuat bagi pemerintahan Trump. Dalam konteks Indonesia, dinamika ini tidak bisa diabaikan. Perang Iran yang sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah berkontribusi pada lonjakan harga minyak global — Brent sempat menembus US$90 per barel — yang secara langsung menekan beban subsidi energi dalam APBN, memperlebar defisit, dan memperumit kebijakan moneter Bank Indonesia. Namun, jika tekanan publik di AS terus menguat, ada kemungkinan tekanan politik terhadap Trump untuk mengurangi eskalasi atau bahkan mencari jalan keluar dari konflik.
Sebaliknya, jika perang berlarut-larut, dampaknya terhadap rantai pasok energi global, stabilitas kawasan Timur Tengah, dan sentimen risk-off di pasar keuangan global akan terus membebani Indonesia. Dua hingga empat minggu ke depan menjadi periode kritis.
Mengapa Ini Penting
Survei ini bukan sekadar angka opini — ini adalah alarm politik yang bisa mengubah arah kebijakan luar negeri AS. Dalam sejarah, ketika dukungan publik terhadap perang ambruk pada level ini, Presiden AS cenderung mengambil langkah de-eskalasi atau menarik pasukan. Jika itu terjadi, harga minyak global bisa turun drastis, meringankan beban subsidi BBM Indonesia dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebaliknya, jika Trump justru mengeraskan posisi untuk melawan opini publik, risiko eskalasi konflik dan lonjakan harga energi tetap besar. Bagi investor dan pengusaha Indonesia, ini adalah indikator awal dari kemungkinan perubahan besar di pasar energi global dalam 6-12 bulan ke depan.
Dampak ke Bisnis
- Sektor energi dan transportasi paling langsung terdampak. Jika war ends, penurunan harga minyak bisa memangkas beban impor minyak Indonesia hingga miliaran dolar, memperbaiki neraca perdagangan dan mengurangi tekanan pada rupiah. Sebaliknya, jika war escalates, biaya logistik, avtur, dan operasional alat berat akan terus naik.
- Emiten dengan utang dolar AS (terutama di sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur) akan diuntungkan oleh pelemahan dolar jika de-eskalasi terjadi, karena USD/IDR bisa turun. Namun jika konflik memicu flight-to-safety dolar, rupiah bisa tertekan lebih lanjut, meningkatkan beban pembayaran utang mereka.
- Sektor pertambangan batu bara dan panas bumi bisa mendapat tailwind dari harga energi yang tetap tinggi jika perang berlanjut, tetapi efek makronya — inflasi, suku bunga tinggi, daya beli turun — akan menjadi counterweight yang signifikan bagi seluruh pasar saham.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pidato atau pernyataan resmi Gedung Putih mengenai strategi Iran dalam 2 minggu ke depan — jika ada sinyal pengurangan pasukan atau gencatan senjata, harga minyak bisa langsung turun 5-10%.
- Risiko yang perlu dicermati: jika dukungan Kongres terhadap perang ikut runtuh (misalnya voting resolusi), Trump bisa kehilangan legitimasi, memicu kebijakan yang tidak menentu — ini menjadi risiko ketidakpastian tinggi.
- Sinyal penting: harga minyak Brent — jika tembus di atas US$95, tekanan terhadap APBN Indonesia semakin kritis, kemungkinan pemerintah harus merevisi asumsi makro APBN dan menambah penerbitan utang.
Konteks Indonesia
Meski survei ini murni tentang opini publik AS, dampaknya signifikan bagi Indonesia melalui dua saluran utama: (1) harga minyak global yang memengaruhi beban subsidi dan defisit APBN, dan (2) sentimen risiko global yang memengaruhi aliran modal asing, nilai tukar rupiah, dan IHSG.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.