Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

5 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Defisit APBN Kuartal I 2026 Tembus Rp240,1 Triliun – Naik 130% YoY, Mendekati 1% PDB
Beranda / Makro / Defisit APBN Kuartal I 2026 Tembus Rp240,1 Triliun – Naik 130% YoY, Mendekati 1% PDB
Makro

Defisit APBN Kuartal I 2026 Tembus Rp240,1 Triliun – Naik 130% YoY, Mendekati 1% PDB

Tim Redaksi Feedberry ·5 Mei 2026 pukul 08.08 · Confidence 5/10 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
Feedberry Score
8.7 / 10

Defisit melebar tajam di awal tahun, mendekati batas psikologis 1% PDB hanya dalam satu kuartal — sinyal tekanan fiskal yang perlu direspons cepat karena berdampak langsung pada belanja, utang, dan kepercayaan investor.

Urgensi 8
Luas Dampak 9
Dampak Indonesia 9

Ringkasan Eksekutif

Defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB, naik 130% dibanding periode sama tahun lalu. Pendapatan negara Rp574,9 triliun tertinggal jauh dari belanja Rp815 triliun, dengan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun. Pemerintah masih menargetkan defisit tahunan 2,68% PDB, artinya ruang fiskal di sisa tahun akan sangat ketat.

Kenapa Ini Penting

Defisit yang melebar di awal tahun berarti pemerintah harus menahan belanja atau mencari pendanaan tambahan — dampaknya bisa ke penundaan proyek, kenaikan penerbitan utang, atau tekanan pada nilai tukar rupiah yang sudah di level terlemah dalam setahun.

Dampak Bisnis

  • Belanja pemerintah pusat Rp610,3 triliun dan TKD Rp204,8 triliun sudah terserap 21,2% dari target tahunan — jika pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengejar, sisa tahun berpotensi ada pemotongan anggaran.
  • Keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun menunjukkan penerimaan negara belum cukup menutup belanja di luar bunga utang — artinya pemerintah harus menerbitkan lebih banyak surat utang, yang bisa menekan likuiditas perbankan dan menaikkan imbal hasil obligasi.
  • Penerimaan pajak Rp394,8 triliun tumbuh 20,7% YoY, namun basisnya masih rendah dibanding belanja — tekanan ekstensifikasi dan intensifikasi pajak kemungkinan akan meningkat, berdampak pada kepatuhan dan biaya usaha.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi pendapatan negara di bulan April–Juni 2026 — jika pertumbuhan pajak melambat, risiko pelebaran defisit semakin nyata.
  • Risiko yang perlu dicermati: arah suku bunga SUN dan yield obligasi pemerintah — jika imbal hasil naik karena kekhawatiran fiskal, biaya utang membengkak dan ruang fiskal semakin sempit.
  • Sinyal yang perlu diawasi: pernyataan resmi Kemenkeu tentang opsi pembiayaan defisit — apakah akan lebih banyak lelang SUN, pinjaman bilateral, atau penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.