Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
DayOne Pertimbangkan IPO Ganda Singapura-AS, INA Jadi Investor
← Kembali
Beranda / Korporasi / DayOne Pertimbangkan IPO Ganda Singapura-AS, INA Jadi Investor
Korporasi

DayOne Pertimbangkan IPO Ganda Singapura-AS, INA Jadi Investor

Tim Redaksi Feedberry ·17 Mei 2026 pukul 07.36 · Sinyal menengah · Confidence 6/10 · Sumber: Kontan ↗
6 Skor

IPO data center global dengan partisipasi Otoritas Investasi Indonesia (INA) membuka jalur valuasi dan eksposur bagi investor Indonesia, meski dampak langsung ke pasar domestik terbatas.

Urgensi
6
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Masih dalam tahap pertimbangan, belum ada jadwal pasti.
Alasan Strategis
Memanfaatkan permintaan infrastruktur data center global yang didorong oleh AI dan komputasi awan, serta memperluas basis investor melalui pencatatan saham ganda di Singapura dan AS.
Pihak Terlibat
DayOneGDS HoldingsCoatue ManagementSoftBank Vision FundKen GriffinOtoritas Investasi Indonesia (INA)

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pernyataan resmi DayOne mengenai bursa dan jadwal IPO — apakah finalnya memilih pencatatan ganda atau tunggal, dan di bursa mana.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: valuasi IPO yang tidak transparan — putaran Seri C tidak mengungkapkan valuasi, sehingga risiko overpricing perlu diwaspadai oleh investor yang terpapar melalui INA.
  • 3 Sinyal penting: rencana ekspansi DayOne ke Indonesia setelah IPO — jika perusahaan mengumumkan investasi data center di Indonesia, ini akan menjadi katalis positif bagi sektor infrastruktur digital dalam negeri.

Ringkasan Eksekutif

Operator pusat data global DayOne, yang sebelumnya bernama GDS International, sedang mempertimbangkan pencatatan saham ganda di Singapura dan Amerika Serikat. Rencana ini masih dalam tahap awal dan belum final, terutama untuk opsi Singapura. DayOne awalnya hanya berencana IPO di New York, namun pejabat bursa Singapura mendorong agar perusahaan juga mencatatkan sahamnya di sana. Perusahaan menolak berkomentar, dan informasi ini diperoleh Reuters dari sumber anonim. DayOne lahir dari pemisahan GDS Holdings yang berbasis di Shanghai pada Januari 2025. Perusahaan ini telah mengumpulkan lebih dari US$2 miliar dalam pendanaan Seri C pada Januari lalu, dipimpin oleh investor lama Coatue Management, dengan partisipasi dari SoftBank Vision Fund, pendiri Citadel Securities Ken Griffin, dan dana kekayaan negara Indonesia, Otoritas Investasi Indonesia (INA). Valuasi pada putaran tersebut tidak diungkapkan. GDS Holdings masih memegang saham minoritas di DayOne. Langkah IPO ini menjadi sinyal bahwa permintaan infrastruktur data center global — yang didorong oleh ledakan AI dan komputasi awan — masih sangat tinggi. DayOne, yang berbasis di Singapura, memposisikan diri sebagai pemain regional yang melayani kebutuhan pusat data di Asia Tenggara dan sekitarnya. Bagi Indonesia, kehadiran INA sebagai investor di DayOne memberikan eksposur tidak langsung ke sektor yang sedang tumbuh pesat ini. Namun, karena IPO direncanakan di luar negeri, dampak langsung ke pasar modal domestik terbatas. Yang perlu dipantau adalah apakah DayOne akan memanfaatkan dana IPO untuk ekspansi ke Indonesia, mengingat kebutuhan data center di dalam negeri terus meningkat seiring digitalisasi ekonomi dan regulasi kedaulatan data. Jika DayOne masuk ke Indonesia, persaingan dengan pemain lokal seperti Telkom dan penyedia data center lainnya akan semakin ketat. Dalam 1-4 minggu ke depan, perkembangan yang perlu diperhatikan adalah pernyataan resmi DayOne mengenai jadwal dan bursa IPO, serta respons pasar terhadap prospektus awal jika dirilis. Investor Indonesia yang terpapar melalui INA perlu mencermati valuasi yang akan ditawarkan, karena putaran Seri C sebelumnya tidak mengungkapkan angka valuasi. Selain itu, keputusan akhir untuk melakukan pencatatan ganda atau tunggal akan memengaruhi likuiditas saham dan basis investor di masa depan.

Mengapa Ini Penting

IPO DayOne bukan sekadar berita korporasi biasa — ini adalah cerminan dari booming infrastruktur AI global yang juga melibatkan modal Indonesia melalui INA. Bagi investor Indonesia, ini membuka jendela valuasi sektor data center yang selama ini sulit diakses langsung. Jika IPO sukses, INA bisa mendapatkan return yang signifikan, yang pada gilirannya memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi infrastruktur digital. Sebaliknya, jika valuasi terlalu tinggi dan pasar koreksi, risiko kerugian juga ikut ditanggung secara tidak langsung oleh negara.

Dampak ke Bisnis

  • Partisipasi INA di DayOne memberikan eksposur tidak langsung ke sektor data center global bagi Indonesia. Keberhasilan IPO akan meningkatkan nilai investasi INA dan memperkuat daya tarik Indonesia sebagai mitra investasi infrastruktur digital.
  • Jika DayOne menggunakan dana IPO untuk ekspansi ke Indonesia, persaingan di pasar data center domestik akan semakin ketat. Pemain lokal seperti Telkom dan penyedia data center independen harus bersiap menghadapi kompetitor global dengan modal besar.
  • Keputusan IPO ganda di Singapura dan AS — bukan di Indonesia — menunjukkan bahwa pasar modal domestik masih belum menjadi tujuan utama bagi perusahaan teknologi global. Ini menjadi sinyal bagi BEI dan OJK untuk terus meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi DayOne mengenai bursa dan jadwal IPO — apakah finalnya memilih pencatatan ganda atau tunggal, dan di bursa mana.
  • Risiko yang perlu dicermati: valuasi IPO yang tidak transparan — putaran Seri C tidak mengungkapkan valuasi, sehingga risiko overpricing perlu diwaspadai oleh investor yang terpapar melalui INA.
  • Sinyal penting: rencana ekspansi DayOne ke Indonesia setelah IPO — jika perusahaan mengumumkan investasi data center di Indonesia, ini akan menjadi katalis positif bagi sektor infrastruktur digital dalam negeri.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.