23 MEI 2026
CT: Uang Bukan Modal Utama Usaha — Kemauan & Jaringan Lebih Penting

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / UMKM / CT: Uang Bukan Modal Utama Usaha — Kemauan & Jaringan Lebih Penting
UMKM

CT: Uang Bukan Modal Utama Usaha — Kemauan & Jaringan Lebih Penting

Tim Redaksi Feedberry ·23 Mei 2026 pukul 11.52 · Sinyal rendah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
4.7 Skor

Berita motivasi bisnis dari tokoh nasional, dampak langsung rendah tapi relevan untuk ekosistem UMKM dan perbankan mikro.

Urgensi
3
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, dan Hery Gunardi, Direktur Utama BBRI, memberikan tips memulai usaha dalam acara Jogja Financial Festival 2026 yang digelar CNBC Indonesia bersama LPS pada 22-23 Mei. CT menekankan bahwa uang bukan modal satu-satunya — ada modal lain yang lebih penting: kemauan untuk memulai, networking, dan menjaga amanah. Hery Gunardi menambahkan ide bisnis, kemampuan melihat pasar, mengembangkan produk, serta mental daya juang sebagai kunci sukses. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan biaya hidup yang makin tinggi dan formula budgeting 50/30/20 mulai sulit diterapkan, seperti yang dibahas artikel terkait CNN Indonesia.

Di sisi lain, riset Deloitte 2026 menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial Indonesia sangat siap AI, namun minim pelatihan dari perusahaan — menunjukkan ada gap antara semangat wirausaha dan dukungan sistem.

Implikasi dari pesan CT dan Hery ini berganda. Pertama, bagi calon pengusaha muda, ini adalah pengingat bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk tidak memulai — yang lebih krusial adalah kesiapan mental dan jejaring. Kedua, bagi perbankan seperti BBRI, pernyataan ini sejalan dengan strategi pembiayaan UMKM yang tidak hanya menyalurkan kredit tetapi juga memberikan pendampingan dan akses pasar. Ketiga, bagi ekosistem startup dan inkubator bisnis, ini memperkuat pentingnya program pengembangan kapasitas non-finansial. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa diskusi ini terjadi di tengah kondisi makro yang menekan: IHSG di 6.162, USD/IDR di 17.712, dan harga minyak Brent di atas $100 per barel.

Tekanan biaya hidup dan suku bunga tinggi (Fed Funds Rate 3,64%, US 10Y 4,57%) membuat akses permodalan tradisional semakin mahal. Oleh karena itu, pesan CT tentang modal non-uang menjadi relevan secara kontekstual. Ke depan, perlu dipantau realisasi program pembiayaan UMKM dari BBRI dan bank lain, apakah akan diikuti dengan peningkatan pendampingan non-finansial. Juga, respons dari komunitas startup — apakah tren wirausaha akan meningkat atau justru terhambat oleh kondisi ekonomi. Sinyal penting adalah data penyaluran KUR pada kuartal II 2026 serta tingkat partisipasi dalam program inkubasi bisnis. Jika terjadi peningkatan minat wirausaha di tengah tekanan ekonomi, ini bisa menjadi katalis pertumbuhan sektor UMKM yang lebih tangguh.

Mengapa Ini Penting

Di tengah tekanan biaya hidup dan akses kredit yang ketat, pernyataan CT dan Hery memberikan perspektif bahwa modal finansial bukan satu-satunya penghalang. Ini menggeser fokus ke pengembangan kapasitas non-finansial sebagai prioritas — sebuah sinyal bagi perbankan, pemerintah, dan ekosistem startup untuk menyesuaikan strategi pendampingan UMKM yang lebih holistik.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi perbankan ritel seperti BBRI, diskusi ini memperkuat justifikasi produk kredit mikro yang tidak hanya fokus pada agunan, tetapi juga pada kualitas ide dan jejaring peminjam. Ini dapat meningkatkan penyaluran KUR dengan risiko lebih terkelola jika diimbangi pendampingan.
  • Bagi pelatihan dan inkubator bisnis, pesan ini membuka peluang untuk menawarkan program akselerasi yang menekankan networking dan pembangunan mental wirausaha — layanan yang dapat dikomersialkan ke calon pengusaha muda atau korporasi yang ingin mengembangkan intrapreneurship.
  • Bagi calon pengusaha, ini adalah dorongan untuk memanfaatkan sumber daya non-finansial seperti komunitas, mentor, dan platform digital. Namun, risiko yang perlu dicermati adalah potensi overconfidence tanpa perencanaan keuangan yang matang, yang bisa berujung pada kegagalan usaha di tengah tekanan biaya operasional.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau dalam 1-2 bulan ke depan: realisasi penyaluran KUR dan program pendampingan BBRI — apakah ada peningkatan jumlah debitur baru dari kalangan muda yang mengikuti seminar ini.
  • Risiko yang perlu dicermati jika tren wirausaha meningkat tanpa dukungan sistem: potensi kenaikan NPL kredit mikro, terutama jika kondisi makro memburuk dan biaya hidup terus naik.
  • Sinyal penting untuk ekosistem startup: apakah muncul inisiatif kolaborasi antara perbankan dan platform digital untuk menyediakan akses networking dan pelatihan, seperti yang disarankan oleh Hery Gunardi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.