Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

15 MEI 2026
CEO Raspberry Pi Peringatkan Risiko Overestimasi AI: Bisa Perparah Krisis Talenta Teknologi Global

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / CEO Raspberry Pi Peringatkan Risiko Overestimasi AI: Bisa Perparah Krisis Talenta Teknologi Global
Teknologi

CEO Raspberry Pi Peringatkan Risiko Overestimasi AI: Bisa Perparah Krisis Talenta Teknologi Global

Tim Redaksi Feedberry ·14 Mei 2026 pukul 23.01 · Sinyal menengah · Confidence 3/10 · Sumber: BBC Business ↗
5.7 Skor

Peringatan dari tokoh industri teknologi global ini relevan untuk Indonesia karena memperkuat narasi bahwa adopsi AI tidak serta-merta menggantikan tenaga kerja, namun justru memperdalam kekurangan talenta digital — masalah yang sudah akut di Indonesia.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons dari perusahaan teknologi besar di Indonesia (GoTo, Bukalapak, Traveloka) terhadap narasi AI dan rekrutmen talenta — apakah mereka justru memperkuat atau meredam kekhawatiran publik tentang AI.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika tren overestimasi AI berlanjut, minat siswa SMA dan mahasiswa untuk mengambil jurusan STEM (sains, teknologi, teknik, matematika) di Indonesia bisa menurun, memperparah kesenjangan talenta digital yang sudah ada.
  • 3 Sinyal penting: data pendaftaran program studi teknologi di universitas-universitas Indonesia pada tahun ajaran 2026/2027 — jika terjadi penurunan signifikan, itu akan menjadi konfirmasi awal dari kekhawatiran Upton.

Ringkasan Eksekutif

Pendiri dan CEO Raspberry Pi, Eben Upton, memperingatkan bahwa klaim berlebihan tentang kemampuan kecerdasan buatan (AI) justru berisiko membuat orang enggan menekuni profesi di bidang teknologi, yang pada akhirnya dapat memperburuk kekurangan tenaga kerja terampil dan merugikan pertumbuhan ekonomi. Dalam wawancara dengan podcast Big Boss Interview BBC, Upton menyatakan bahwa beberapa pihak 'sangat cenderung melebih-lebihkan kemampuan alat-alat AI' dan memperingatkan bahwa narasi yang menyebut AI akan menghancurkan banyak pekerjaan komputasi dalam beberapa tahun ke depan adalah keliru. Menurutnya, overestimasi ini dapat 'mendistorsi pilihan orang dengan cara yang justru memperburuk kekurangan keterampilan, bukan memperbaikinya'. Upton mengakui bahwa alat seperti ChatGPT dan Claude memang memicu prediksi kehilangan pekerjaan besar-besaran, terutama bagi pekerja teknologi dan lulusan baru. Amazon, Meta, dan Microsoft telah mengaitkan puluhan ribu PHK dengan AI selama setahun terakhir. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa teknologi ini dijadikan kambing hitam untuk mengurangi jumlah karyawan setelah perekrutan besar-besaran pasca-pandemi oleh banyak perusahaan besar. Upton menekankan bahwa melebih-lebihkan kemampuan chatbot untuk menggantikan manusia dapat 'menggagalkan banyak kerja baik yang telah dilakukan, tidak hanya oleh Raspberry Pi, tetapi juga oleh banyak organisasi lain' dalam mendorong orang untuk berkarir di bidang teknologi. Ia menambahkan bahwa risiko kerusakan terjadi justru di momen antusiasme luar biasa terhadap alat-alat yang memang sangat canggih ini. Upton juga menyoroti bahwa belum ada data yang cukup untuk memberikan panduan rasional kepada anak-anak tentang pilihan pendidikan di masa depan AI. 'Jawabannya adalah: tunggu lima tahun, tunggu sepuluh tahun, dan mungkin saat itu kita akan tahu sesuatu,' katanya. Ditanya apakah fenomena ini dapat merusak pertumbuhan ekonomi, ia menjawab tegas: 'Tentu saja. Kita membutuhkan pasokan insinyur.' Raspberry Pi, yang perangkatnya menjadi komputer buatan perusahaan Inggris dengan penjualan terbanyak, didirikan Upton pada 2012 karena ia khawatir generasi muda tidak lagi mendapatkan keterampilan komputasi karena ponsel dan konsol game menggantikan perangkat yang mudah diprogram. Perusahaan ini melantai di Bursa Efek London pada 2024 dan menjadi kisah sukses bagi pasar saham Inggris di tengah banyaknya perusahaan lain yang memilih listing di AS, termasuk pembuat chip asal Cambridge, Arm. Upton juga mengakui bahwa Inggris memiliki kapasitas industri yang 'sangat besar', namun biaya energi yang tinggi menjadi tantangan bagi perusahaan. Inggris memiliki salah satu biaya energi tertinggi di antara negara-negara G7 dalam beberapa tahun terakhir, yang terbukti merugikan dunia usaha. 'Satu-satunya alasan saya tidak membuat objek rekayasa di Inggris adalah biaya energi yang tinggi, dan kita perlu melakukan sesuatu tentang itu,' kata Upton. 'Kami sangat beruntung tidak menjalankan pabrik pupuk atau kilang minyak.'

Mengapa Ini Penting

Peringatan Upton ini penting karena membalikkan narasi dominan yang selama ini menyebut AI sebagai ancaman langsung bagi pekerjaan. Jika narasi overestimasi ini terus berkembang, dampaknya bukan hanya pada sektor teknologi global, tetapi juga pada keputusan investasi sumber daya manusia di Indonesia — terutama di tengah upaya pemerintah dan korporasi untuk mempercepat transformasi digital dan meningkatkan jumlah talenta teknologi lokal.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi perusahaan teknologi dan startup di Indonesia, risiko overestimasi AI dapat menghambat rekrutmen talenta muda yang justru sangat dibutuhkan untuk mengembangkan produk dan layanan berbasis AI. Jika generasi muda enggan masuk ke bidang STEM karena khawatir digantikan AI, maka ekosistem digital Indonesia yang sedang tumbuh akan menghadapi krisis talenta yang lebih parah.
  • Bagi korporasi non-teknologi yang sedang melakukan transformasi digital, seperti perbankan, ritel, dan manufaktur, kekurangan talenta teknologi akan memperlambat adopsi AI dan otomatisasi yang sebenarnya bisa meningkatkan efisiensi. Ini berarti investasi dalam infrastruktur digital berisiko tidak optimal karena kurangnya sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan memeliharanya.
  • Bagi pemerintah Indonesia, narasi ini menjadi pengingat bahwa kebijakan pendidikan dan pelatihan vokasi harus tetap fokus pada pengembangan keterampilan teknologi dasar, bukan hanya pelatihan penggunaan alat AI. Jika tidak, program-program seperti Kartu Prakerja dan Digital Talent Scholarship bisa kehilangan relevansi jika calon pesertanya sudah terlebih dahulu terdiskualifikasi oleh ketakutan akan AI.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons dari perusahaan teknologi besar di Indonesia (GoTo, Bukalapak, Traveloka) terhadap narasi AI dan rekrutmen talenta — apakah mereka justru memperkuat atau meredam kekhawatiran publik tentang AI.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika tren overestimasi AI berlanjut, minat siswa SMA dan mahasiswa untuk mengambil jurusan STEM (sains, teknologi, teknik, matematika) di Indonesia bisa menurun, memperparah kesenjangan talenta digital yang sudah ada.
  • Sinyal penting: data pendaftaran program studi teknologi di universitas-universitas Indonesia pada tahun ajaran 2026/2027 — jika terjadi penurunan signifikan, itu akan menjadi konfirmasi awal dari kekhawatiran Upton.

Konteks Indonesia

Peringatan CEO Raspberry Pi ini relevan untuk Indonesia karena Indonesia sedang gencar mendorong transformasi digital dan pengembangan talenta teknologi melalui berbagai program pemerintah dan swasta. Jika narasi bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia terlalu dominan, hal ini bisa menghambat upaya peningkatan jumlah lulusan STEM yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Selain itu, biaya energi tinggi yang disebut Upton sebagai tantangan bagi Inggris juga relevan untuk Indonesia, di mana biaya listrik dan energi menjadi faktor penting dalam daya saing industri manufaktur dan teknologi.

Konteks Indonesia

Peringatan CEO Raspberry Pi ini relevan untuk Indonesia karena Indonesia sedang gencar mendorong transformasi digital dan pengembangan talenta teknologi melalui berbagai program pemerintah dan swasta. Jika narasi bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia terlalu dominan, hal ini bisa menghambat upaya peningkatan jumlah lulusan STEM yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Selain itu, biaya energi tinggi yang disebut Upton sebagai tantangan bagi Inggris juga relevan untuk Indonesia, di mana biaya listrik dan energi menjadi faktor penting dalam daya saing industri manufaktur dan teknologi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.