Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
CEO Danantara Klaim Yield Saham BUMN 11%, PBV Bank Masih di Bawah 1x

Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / CEO Danantara Klaim Yield Saham BUMN 11%, PBV Bank Masih di Bawah 1x
Pasar

CEO Danantara Klaim Yield Saham BUMN 11%, PBV Bank Masih di Bawah 1x

Tim Redaksi Feedberry ·19 Mei 2026 pukul 10.02 · Sinyal menengah · Confidence 8/10 · Sumber: Tempo Bisnis ↗
6 Skor

Pernyataan resmi dari CEO Danantara memberikan sinyal positif bagi valuasi BUMN, namun belum didukung data aksi nyata — urgensi sedang karena tidak ada keputusan baru, dampak luas ke sektor perbankan dan pertambangan BUMN.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Data Pasar
Instrumen
IHSG
Harga Terkini
6.371
Perubahan %
0,00%
Katalis
  • ·Pernyataan CEO Danantara tentang yield saham BUMN di atas 10-11%
  • ·Data fundamental emiten: net income agregat naik 21,5%
  • ·Tekanan eksternal: rupiah melemah ke Rp17.700, harga minyak Brent di atas USD109

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: realisasi aksi buyback atau pembelian saham BUMN oleh Danantara — jika terjadi dalam 2-4 minggu ke depan, ini akan menjadi sinyal kuat bahwa pernyataan Rosan bukan sekadar retorika.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut — jika USD/IDR menembus Rp17.700, yield tinggi dalam rupiah akan tergerus oleh depresiasi mata uang, mengurangi daya tarik bagi investor asing.
  • 3 Sinyal penting: hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 20 Mei dan FOMC Meeting Minutes pada 21 Mei — jika BI menaikkan suku bunga atau The Fed hawkish, tekanan terhadap IHSG dan saham BUMN akan meningkat.

Ringkasan Eksekutif

CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa saham-saham BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menawarkan imbal hasil atau yield di atas 10 hingga 11 persen, dengan fundamental yang kuat dan harga yang masih undervalued. Dalam pernyataannya di BEI pada Selasa, 19 Mei 2026, Rosan secara spesifik menyebut saham perbankan Himbara dan sektor mineral sebagai contoh emiten dengan yield menarik. Ia juga menekankan bahwa price-to-book value (PBV) saham bank BUMN masih berada di bawah 1 kali, sementara dalam kondisi normal seharusnya bisa mencapai 2 hingga 3 kali — menunjukkan potensi apresiasi yang signifikan jika valuasi kembali ke level wajar. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan berat yang dihadapi IHSG, yang berdasarkan data pasar terkini berada di level 6.371 dengan rupiah melemah ke Rp17.700 per dolar AS dan harga minyak Brent bertahan di atas USD109 per barel. Kunjungan Rosan ke BEI dilakukan bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria dalam rangka inspeksi mendadak (sidak) yang juga membahas penguatan bursa di tengah gejolak politik global. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna turut memberikan data pendukung, menyebutkan bahwa net income emiten secara agregat meningkat 21,5 persen — memperkuat narasi fundamental yang solid. Namun, yang tidak disebut dalam pernyataan Rosan adalah bahwa yield tinggi sering kali merupakan kompensasi atas risiko yang lebih tinggi, termasuk risiko likuiditas dan volatilitas harga. Dalam konteks saat ini, tekanan eksternal dari ekspektasi suku bunga Fed yang tetap tinggi, konflik Iran-AS yang masih alot, dan keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index menjadi faktor yang membatasi potensi kenaikan harga saham BUMN dalam jangka pendek. Selain itu, pernyataan bahwa saham bank BUMN masih undervalued perlu diuji dengan data aktual: PBV di bawah 1x memang menunjukkan harga di bawah nilai buku, tetapi belum tentu murah jika kualitas aset memburuk atau prospek laba menurun. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah realisasi aksi korporasi dari Danantara — apakah akan ada pembelian kembali saham (buyback) oleh BUMN atau Danantara sendiri untuk membuktikan keyakinan terhadap undervaluation tersebut. Juga, hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 20 Mei dan FOMC Meeting Minutes pada 21 Mei akan menjadi penentu arah suku bunga dan nilai tukar, yang secara langsung mempengaruhi daya tarik saham BUMN bagi investor asing. Jika rupiah terus melemah, yield tinggi dalam rupiah bisa tergerus oleh depresiasi mata uang ketika dikonversi ke dolar AS.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan CEO Danantara ini penting karena datang dari pengelola aset BUMN terbesar di Indonesia — bukan sekadar analis atau manajer investasi. Jika Danantara benar-benar percaya saham BUMN undervalued, implikasinya adalah potensi aksi beli besar-besaran oleh institusi negara yang bisa menopang IHSG. Namun, jika ini hanya pernyataan tanpa aksi nyata, kredibilitas pasar justru bisa tergerus. Yang juga tidak obvious: yield 11% bisa menjadi sinyal bahwa risiko yang dipersepsikan pasar atas BUMN masih tinggi — karena dalam teori keuangan, yield tinggi adalah kompensasi atas risiko tinggi.

Dampak ke Bisnis

  • Saham bank BUMN seperti BBRI, BMRI, dan BBNI berpotensi mendapat sentimen positif jika Danantara atau BUMN terkait melakukan aksi buyback — namun tanpa aksi nyata, efeknya hanya sementara dan bisa memicu aksi jual jika ekspektasi tidak terpenuhi.
  • Emiten sektor mineral BUMN seperti ANTM dan PTBA juga disebut sebagai contoh yield tinggi — kenaikan harga komoditas seperti nikel dan batu bara bisa menjadi katalis tambahan, namun tekanan dari pelemahan rupiah dan biaya impor tetap menjadi risiko.
  • Pernyataan ini bisa mempengaruhi keputusan investor institusi dan reksa dana untuk menambah alokasi ke saham BUMN — jika diikuti data fundamental yang solid, potensi re-rating valuasi PBV dari di bawah 1x menuju 1,5-2x bisa terjadi dalam 6-12 bulan ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi aksi buyback atau pembelian saham BUMN oleh Danantara — jika terjadi dalam 2-4 minggu ke depan, ini akan menjadi sinyal kuat bahwa pernyataan Rosan bukan sekadar retorika.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut — jika USD/IDR menembus Rp17.700, yield tinggi dalam rupiah akan tergerus oleh depresiasi mata uang, mengurangi daya tarik bagi investor asing.
  • Sinyal penting: hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 20 Mei dan FOMC Meeting Minutes pada 21 Mei — jika BI menaikkan suku bunga atau The Fed hawkish, tekanan terhadap IHSG dan saham BUMN akan meningkat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.