Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

16 MEI 2026
Camilan Bawang Goreng UliMus Raup Omzet Rp10 Juta/Bulan dari Rumah

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / UMKM / Camilan Bawang Goreng UliMus Raup Omzet Rp10 Juta/Bulan dari Rumah
UMKM

Camilan Bawang Goreng UliMus Raup Omzet Rp10 Juta/Bulan dari Rumah

Tim Redaksi Feedberry ·16 Mei 2026 pukul 01.54 · Sinyal rendah · Sumber: Detik Finance ↗
3 Skor

Kisah sukses UMKM individual dengan omzet kecil, tidak berdampak sistemik, namun relevan sebagai contoh pemberdayaan ekonomi rumah tangga di tengah tekanan daya beli.

Urgensi
2
Luas Dampak
3
Dampak Indonesia
4

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: perkembangan omzet UliMus dalam 6-12 bulan ke depan — apakah mampu naik ke level Rp20-30 juta/bulan atau justru stagnan.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: persaingan di segmen camilan bawang goreng crispy yang semakin ramai — diferensiasi produk dan kemasan menjadi kunci.
  • 3 Sinyal penting: apakah UliMus mulai mendapatkan akses pembiayaan formal atau kemitraan dengan platform e-commerce — ini akan menjadi indikator scaling usaha.

Ringkasan Eksekutif

Romauli Sri Astuti Sitoris, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun, berhasil membangun usaha camilan bawang goreng crispy bernama UliMus dari dapur rumahnya di tahun 2022. Berawal dari inovasi sederhana untuk membuat anaknya yang tidak suka bawang goreng menjadi doyan, produk ini justru diminati teman-teman sekelas sang anak di pondok pesantren. Dengan modal awal kurang dari Rp500 ribu, Uli mulai menjual secara rutin setiap bulan saat menjenguk anaknya, hingga akhirnya memutuskan serius menekuni usaha ini setelah usaha suaminya bangkrut akibat pandemi. Kini, omzet UliMus telah mencapai Rp10 juta per bulan dan terus merambah pasar lebih luas. Faktor kunci keberhasilan Uli adalah perubahan pola pikir setelah mengikuti pelatihan UMKM di Rumah BUMN BRI pada tahun 2023. Tanpa latar belakang bisnis — ia lulusan D3 Keperawatan dan selama belasan tahun menjadi ibu rumah tangga — Uli awalnya hanya berpikir 'asal jualan'. Pelatihan pemasaran digital membuka wawasannya tentang pentingnya strategi marketing dan media sosial untuk keberlanjutan usaha. Ia mulai merapikan profil usaha di platform digital dan secara perlahan memperluas jangkauan pasar. Nama UliMus sendiri merupakan gabungan dari nama Uli dan suaminya, Mustofa, mencerminkan usaha keluarga yang dibangun bersama. Dampak dari kisah ini bersifat inspiratif dan edukatif bagi pelaku UMKM lain, terutama ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha dari rumah. Keberhasilan Uli menunjukkan bahwa modal kecil bukanlah hambatan mutlak — yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, beradaptasi dengan teknologi digital, dan konsisten menjalankan usaha. Namun, perlu dicatat bahwa skala omzet Rp10 juta per bulan masih tergolong mikro dan belum cukup untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan bisnis secara umum. Kisah ini juga menyoroti peran penting lembaga pendamping UMKM seperti Rumah BUMN BRI dalam memberikan akses pelatihan dan pembinaan yang mengubah pola pikir pengusaha pemula. Yang perlu dipantau ke depan adalah apakah UliMus mampu mempertahankan pertumbuhan dan melakukan scaling usaha — misalnya dengan memperluas saluran distribusi, meningkatkan kapasitas produksi, atau mendapatkan akses pembiayaan formal. Tantangan utama UMKM camilan rumahan biasanya adalah konsistensi kualitas, kemasan, dan daya tahan produk. Jika UliMus berhasil naik kelas, kisah ini bisa menjadi model replikasi bagi program pemberdayaan UMKM di daerah lain. Namun, data pembanding historis atau target pertumbuhan spesifik tidak tersedia dari sumber ini.

Mengapa Ini Penting

Kisah ini relevan karena menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi — inflasi pangan, pelemahan rupiah yang menaikkan biaya impor bahan baku, dan daya beli yang tertekan — masih ada ruang bagi UMKM mikro untuk tumbuh dengan inovasi sederhana dan pemanfaatan pelatihan digital. Ini menjadi sinyal bahwa program pendampingan UMKM seperti Rumah BUMN BRI memiliki dampak nyata pada perubahan pola pikir pengusaha, yang lebih penting dari sekadar bantuan modal.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi pelaku UMKM lain: kisah ini menjadi bukti bahwa modal kecil (di bawah Rp500 ribu) dan tanpa latar belakang bisnis bukan halangan untuk memulai usaha, asalkan ada kemauan belajar dan adaptasi digital.
  • Bagi lembaga pendamping UMKM: keberhasilan UliMus menegaskan efektivitas program pelatihan yang fokus pada perubahan pola pikir dan strategi marketing digital, bukan sekadar bantuan modal fisik.
  • Bagi sektor perbankan dan fintech: potensi pembiayaan mikro untuk UMKM camilan rumahan yang sudah memiliki track record omzet stabil, namun data spesifik mengenai akses kredit tidak tersedia dari sumber ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan omzet UliMus dalam 6-12 bulan ke depan — apakah mampu naik ke level Rp20-30 juta/bulan atau justru stagnan.
  • Risiko yang perlu dicermati: persaingan di segmen camilan bawang goreng crispy yang semakin ramai — diferensiasi produk dan kemasan menjadi kunci.
  • Sinyal penting: apakah UliMus mulai mendapatkan akses pembiayaan formal atau kemitraan dengan platform e-commerce — ini akan menjadi indikator scaling usaha.