Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

15 MEI 2026
BRICS Gagal Capai Konsensus, Pertemuan Berakhir Tanpa Deklarasi Bersama

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / BRICS Gagal Capai Konsensus, Pertemuan Berakhir Tanpa Deklarasi Bersama
Makro

BRICS Gagal Capai Konsensus, Pertemuan Berakhir Tanpa Deklarasi Bersama

Tim Redaksi Feedberry ·15 Mei 2026 pukul 13.09 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
5.3 Skor

Urgensi sedang karena tidak ada keputusan langsung; dampak luas ke geopolitik dan tata kelola global; Indonesia sebagai anggota baru BRICS terdampak secara diplomatik dan potensi ekonomi jangka panjang.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: hasil KTT BRICS paruh kedua 2026 — apakah para pemimpin bisa mencapai konsensus yang gagal dicapai di tingkat menteri, atau perpecahan justru semakin dalam.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: eskalasi konflik Iran-AS-Israel yang melibatkan UEA — dapat memicu gangguan rantai pasok minyak dan memperburuk tekanan inflasi global yang berdampak ke Indonesia.
  • 3 Sinyal penting: pernyataan resmi Indonesia pasca pertemuan — apakah Menlu Sugiono akan mengambil posisi yang lebih jelas atau tetap netral, karena ini akan menentukan persepsi investor terhadap stabilitas politik Indonesia.

Ringkasan Eksekutif

Pertemuan menteri luar negeri BRICS di New Delhi pada 14-15 Mei 2026 berakhir tanpa deklarasi bersama karena negara anggota gagal mencapai konsensus pada dua isu utama: status otoritas Palestina atas Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta hak navigasi di Laut Merah dan Selat Bab Al-Mandab. Ketidaksepakatan ini mencerminkan perpecahan internal yang semakin dalam di antara anggota BRICS, terutama terkait konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan sekutu AS, Uni Emirat Arab (UEA). Iran secara terbuka meminta BRICS untuk mengecam operasi militer AS dan Israel, serta menuding UEA terlibat dalam serangan terhadap wilayahnya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa salah satu negara anggota menolak bagian tertentu dari deklarasi, meskipun ia tidak menyebut UEA secara langsung. Sebagai gantinya, pertemuan hanya menghasilkan pernyataan tuan rumah India yang mengakui adanya perbedaan pandangan di antara anggota. Meskipun demikian, negara-negara BRICS menegaskan kembali komitmen terhadap tiga pilar utama: politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta pertukaran antar masyarakat. Mereka juga menekankan pentingnya reformasi tata kelola global, khususnya di PBB dan Dewan Keamanan, untuk meningkatkan keterwakilan negara berkembang. Indonesia, yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, turut hadir dalam pertemuan ini sebagai anggota baru BRICS. Kegagalan mencapai konsensus ini menjadi ujian awal bagi efektivitas BRICS sebagai forum multilateral di tengah polarisasi geopolitik global. Araghchi berharap situasi dapat berubah ketika para pemimpin negara anggota bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada paruh kedua tahun ini. Yang perlu dipantau: apakah KTT BRICS mendatang dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih konkret, atau justru memperdalam perpecahan yang ada. Bagi Indonesia, dinamika ini penting karena posisi sebagai anggota baru yang harus menavigasi kepentingan nasional di tengah blok yang terfragmentasi. Dampak ekonomi potensial meliputi terhambatnya inisiatif perdagangan dan investasi intra-BRICS, serta melemahnya posisi tawar kolektif negara berkembang dalam reformasi institusi keuangan global.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan BRICS mencapai konsensus bukan sekadar kegagalan diplomatik — ini adalah sinyal bahwa blok ekonomi yang diproyeksikan sebagai penyeimbang G7 mulai kehilangan kohesi di saat dunia justru membutuhkan forum multilateral yang efektif. Bagi Indonesia, sebagai anggota baru, ini berarti potensi manfaat ekonomi dari keanggotaan BRICS — seperti akses ke New Development Bank atau inisiatif perdagangan preferensial — bisa tertunda atau terhambat oleh friksi internal. Lebih penting lagi, perpecahan ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang tidak secara otomatis memiliki suara yang seragam, dan Indonesia harus lebih cermat dalam memilih aliansi strategis yang benar-benar memberikan nilai tambah ekonomi.

Dampak ke Bisnis

  • Potensi tertundanya inisiatif perdagangan dan investasi intra-BRICS yang dapat membuka akses pasar baru bagi eksportir Indonesia, terutama di sektor komoditas dan manufaktur.
  • Melemahnya posisi tawar kolektif BRICS dalam reformasi lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia — artinya akses Indonesia ke sumber pendanaan alternatif melalui New Development Bank mungkin tidak secepat yang diharapkan.
  • Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat menjaga premi risiko harga minyak tetap tinggi, memberatkan APBN Indonesia yang sudah defisit akibat subsidi energi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil KTT BRICS paruh kedua 2026 — apakah para pemimpin bisa mencapai konsensus yang gagal dicapai di tingkat menteri, atau perpecahan justru semakin dalam.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi konflik Iran-AS-Israel yang melibatkan UEA — dapat memicu gangguan rantai pasok minyak dan memperburuk tekanan inflasi global yang berdampak ke Indonesia.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi Indonesia pasca pertemuan — apakah Menlu Sugiono akan mengambil posisi yang lebih jelas atau tetap netral, karena ini akan menentukan persepsi investor terhadap stabilitas politik Indonesia.

Konteks Indonesia

Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, keanggotaan ini membuka peluang diversifikasi mitra dagang dan akses pendanaan alternatif. Di sisi lain, perpecahan internal BRICS — terutama terkait konflik Timur Tengah — memaksa Indonesia untuk menavigasi kepentingan diplomatik yang saling bertentangan. Indonesia memiliki hubungan baik dengan Iran, UEA, dan Arab Saudi, sehingga harus menjaga keseimbangan. Dampak ekonomi langsung mungkin tidak segera terasa, tetapi dalam jangka menengah, efektivitas BRICS sebagai blok ekonomi akan menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh Indonesia dari keanggotaannya. Selain itu, ketidakstabilan di Timur Tengah yang menjadi sumber perpecahan BRICS juga berdampak langsung pada harga minyak dan biaya impor energi Indonesia.

Konteks Indonesia

Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, keanggotaan ini membuka peluang diversifikasi mitra dagang dan akses pendanaan alternatif. Di sisi lain, perpecahan internal BRICS — terutama terkait konflik Timur Tengah — memaksa Indonesia untuk menavigasi kepentingan diplomatik yang saling bertentangan. Indonesia memiliki hubungan baik dengan Iran, UEA, dan Arab Saudi, sehingga harus menjaga keseimbangan. Dampak ekonomi langsung mungkin tidak segera terasa, tetapi dalam jangka menengah, efektivitas BRICS sebagai blok ekonomi akan menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh Indonesia dari keanggotaannya. Selain itu, ketidakstabilan di Timur Tengah yang menjadi sumber perpecahan BRICS juga berdampak langsung pada harga minyak dan biaya impor energi Indonesia.