Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
Bitwise Sebut HYPE Sangat Undervalued — Valuasi 10-14x Buyback vs Robinhood 20x+

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitwise Sebut HYPE Sangat Undervalued — Valuasi 10-14x Buyback vs Robinhood 20x+
Forex & Crypto

Bitwise Sebut HYPE Sangat Undervalued — Valuasi 10-14x Buyback vs Robinhood 20x+

Tim Redaksi Feedberry ·19 Mei 2026 pukul 18.33 · Sinyal menengah · Confidence 3/10 · Sumber: CoinDesk ↗
4.3 Skor

Berita ini bersifat sektoral dan spekulatif di pasar kripto global; dampak langsung ke Indonesia terbatas pada sentimen risk appetite investor ritel kripto dan saham teknologi di IHSG, namun belum ada produk ETF HYPE di bursa lokal.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons resmi CFTC terhadap keluhan CME/ICE tentang Hyperliquid — jika regulator meluncurkan penyelidikan formal, ini bisa memicu aksi jual di seluruh pasar kripto dan aset berisiko global.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: potensi distorsi harga minyak global akibat perdagangan anonim di Hyperliquid — sebagai importir minyak netto, Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas harga energi yang tidak stabil.
  • 3 Sinyal penting: perkembangan volume perdagangan dan saldo USDC di Hyperliquid — jika terus bertambah, pendapatan protokol bisa melonjak dan memperkuat kasus valuasi Bitwise.

Ringkasan Eksekutif

Bitwise, manajer aset kripto institusional, menyatakan bahwa token HYPE milik Hyperliquid adalah salah satu aset kripto yang paling undervalued saat ini. Dalam laporan yang dirilis Selasa lalu, CIO Bitwise Matt Hougan mengidentifikasi dua kesalahan utama pasar dalam menilai HYPE: pertama, pasar masih memperlakukan Hyperliquid sebagai bursa derivatif kripto khusus, padahal platform ini telah berekspansi ke perdagangan saham, komoditas, valas, dan pasar prediksi — menjadikannya calon 'super-app' keuangan global. Kedua, pasar gagal memahami bagaimana token HYPE menangkap nilai dari aktivitas platform. Hougan memperkirakan Hyperliquid menghasilkan pendapatan tahunan antara USD800 juta hingga USD1 miliar, dan diperdagangkan pada kelipatan 10-14 kali arus pembelian kembali tokennya. Sebagai perbandingan, Robinhood dan CME Group diperdagangkan pada kelipatan valuasi yang jauh lebih tinggi meskipun pertumbuhannya lebih lambat. Mekanisme pembelian kembali HYPE menjadi kunci argumen Bitwise: 99% dari biaya perdagangan di platform digunakan untuk membeli kembali token HYPE, menciptakan hubungan langsung antara pertumbuhan platform dan nilai token. Ini berbeda dari proyek DeFi tradisional di mana nilai tidak selalu mengalir ke pemegang token. Hougan juga mencatat bahwa lingkungan regulasi AS di bawah Ketua SEC Paul Atkins yang baru lebih mendukung konsep 'super-app' keuangan yang menawarkan berbagai kelas aset dalam satu kerangka. HYPE diperdagangkan sekitar USD48,70 pada saat publikasi, naik lebih dari 8% dalam 24 jam. Namun, artikel terkait dari CoinDesk mengungkapkan bahwa CME Group dan Intercontinental Exchange (ICE) telah melaporkan kekhawatiran kepada CFTC dan anggota Kongres AS bahwa platform anonim Hyperliquid berpotensi memfasilitasi manipulasi pasar dan penghindaran sanksi, terutama pada patokan harga minyak global. Ini menambah dimensi risiko regulasi yang signifikan di tengah pertumbuhan eksplosif Hyperliquid. Bagi investor Indonesia, perkembangan ini relevan sebagai indikator arah adopsi institusional kripto dan potensi tekanan regulasi yang dapat memengaruhi risk appetite global. ETF Hyperliquid (THYP) dari 21Shares juga baru debut di AS dengan arus masuk USD1,2 juta pada hari pertama, menandai awal adopsi altcoin oleh investor institusi Wall Street. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons resmi CFTC terhadap keluhan CME/ICE — jika regulator bergerak agresif, ini bisa memicu aksi jual di seluruh pasar kripto dan aset berisiko, termasuk saham teknologi di IHSG.

Mengapa Ini Penting

Argumen Bitwise bahwa HYPE undervalued menantang narasi dominan bahwa kripto hanyalah aset spekulatif tanpa fundamental. Jika valuasi HYPE benar-benar menyempit ke arah Robinhood atau CME, ini bisa membuka pintu bagi revaluasi seluruh sektor token yang terkait dengan pendapatan platform — termasuk potensi dampak ke sentimen saham teknologi di IHSG yang sering bergerak searah dengan risk appetite global. Namun, risiko regulasi dari CME/ICE bisa menjadi batu sandungan besar yang membalikkan narasi ini.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi investor institusi global, argumen Bitwise dapat mendorong alokasi modal ke token berbasis pendapatan platform seperti HYPE, menggeser preferensi dari kripto spekulatif murni ke aset dengan metrik fundamental yang lebih terukur.
  • Bagi bursa tradisional seperti CME dan ICE, pertumbuhan Hyperliquid menjadi ancaman kompetitif langsung — jika platform terdesentralisasi ini berhasil menembus pasar komoditas dan saham, model bisnis bursa yang diatur ketat bisa terganggu.
  • Bagi Indonesia, sentimen positif terhadap kripto global dapat meningkatkan volume perdagangan kripto domestik dan mendorong minat terhadap saham teknologi di IHSG, meskipun dampak langsung masih terbatas karena belum ada produk ETF HYPE di bursa lokal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi CFTC terhadap keluhan CME/ICE tentang Hyperliquid — jika regulator meluncurkan penyelidikan formal, ini bisa memicu aksi jual di seluruh pasar kripto dan aset berisiko global.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi distorsi harga minyak global akibat perdagangan anonim di Hyperliquid — sebagai importir minyak netto, Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas harga energi yang tidak stabil.
  • Sinyal penting: perkembangan volume perdagangan dan saldo USDC di Hyperliquid — jika terus bertambah, pendapatan protokol bisa melonjak dan memperkuat kasus valuasi Bitwise.

Konteks Indonesia

Sebagai negara dengan pasar kripto ritel yang aktif dan menjadi importir minyak netto, Indonesia memiliki dua titik kerentanan dari perkembangan Hyperliquid. Pertama, sentimen positif terhadap kripto global dapat meningkatkan volume perdagangan di bursa kripto lokal dan mendorong minat terhadap saham teknologi di IHSG. Kedua, potensi distorsi harga minyak global akibat perdagangan anonim di Hyperliquid dapat membuat biaya impor energi Indonesia tidak stabil, mengingat Indonesia sangat bergantung pada patokan harga minyak global untuk impor BBM. Regulasi Bappebti dan OJK untuk aset digital Indonesia masih terpisah dari perkembangan ini, tetapi perubahan regulasi kripto di AS sering diikuti oleh penyesuaian kebijakan di Indonesia.

Konteks Indonesia

Sebagai negara dengan pasar kripto ritel yang aktif dan menjadi importir minyak netto, Indonesia memiliki dua titik kerentanan dari perkembangan Hyperliquid. Pertama, sentimen positif terhadap kripto global dapat meningkatkan volume perdagangan di bursa kripto lokal dan mendorong minat terhadap saham teknologi di IHSG. Kedua, potensi distorsi harga minyak global akibat perdagangan anonim di Hyperliquid dapat membuat biaya impor energi Indonesia tidak stabil, mengingat Indonesia sangat bergantung pada patokan harga minyak global untuk impor BBM. Regulasi Bappebti dan OJK untuk aset digital Indonesia masih terpisah dari perkembangan ini, tetapi perubahan regulasi kripto di AS sering diikuti oleh penyesuaian kebijakan di Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.