Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

18 MEI 2026
Bitcoin Tembus $77.000 — Yield AS dan Minyak Tekan Aset Berisiko Global

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Tembus $77.000 — Yield AS dan Minyak Tekan Aset Berisiko Global
Forex & Crypto

Bitcoin Tembus $77.000 — Yield AS dan Minyak Tekan Aset Berisiko Global

Tim Redaksi Feedberry ·18 Mei 2026 pukul 03.52 · Sinyal tinggi · Sumber: CoinDesk ↗
7 Skor

Koreksi Bitcoin di bawah $77.000 dipicu oleh kenaikan yield Treasury AS ke level tertinggi sejak 2007 dan harga minyak yang melonjak — kombinasi yang menekan risk appetite global dan berpotensi memicu outflow dari emerging market termasuk Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
6
Analisis Data Pasar
Instrumen
Bitcoin (BTC)
Harga Terkini
$77.000
Level Teknikal
Support $76.000; resistance $82.000
Katalis
  • ·Kenaikan yield Treasury AS 30 tahun ke 5,13% — tertinggi sejak 2007
  • ·Harga minyak WTI di atas $100 per barel akibat konflik Iran
  • ·Ekspektasi Fed tidak memangkas suku bunga hingga Juli (probabilitas 94-98%)
  • ·Rasio MVRV short-term holder di bawah 1 — pembeli baru rata-rata rugi

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: level $76.000 pada Bitcoin — jika jebol, koreksi lebih dalam ke $74.000–$75.000 terbuka dan risk-off global akan semakin intensif, berdampak langsung ke IHSG dan rupiah.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: arus keluar ETF spot Bitcoin — outflow $1 miliar dalam sepekan terakhir perlu dikonfirmasi apakah berlanjut; jika ya, tekanan jual di pasar kripto akan semakin dalam dan sentimen risk-off akan meluas.
  • 3 Sinyal penting: data PPI AS pada Kamis dan laporan keuangan Nvidia pada Rabu — keduanya akan menjadi barometer apakah tekanan inflasi meluas dan apakah sektor teknologi masih mampu menjadi motor penggerak pasar.

Ringkasan Eksekutif

Bitcoin jatuh di bawah $77.000 di sesi Asia, level terendah sejak awal Mei, didorong oleh tekanan makro yang semakin berat. Imbal hasil Treasury AS 30 tahun naik ke 5,13% — level tertinggi sejak 2007 — sementara yield 10 dan 2 tahun juga menyentuh puncak 12 bulan. Di sisi komoditas, harga minyak mentah WTI ditutup di atas $100 per barel akibat konflik Iran dan ancaman gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Kombinasi ini menekan aset berisiko secara luas, termasuk Bitcoin yang saat ini diperdagangkan sebagai aset risk-on, bukan sebagai lindung nilai. Data on-chain dari Binance Research menunjukkan gambaran yang beragam. Di satu sisi, hampir 60% pasokan Bitcoin tidak berpindah dalam lebih dari setahun, dan saldo di exchange berada di level terendah dalam enam tahun — sinyal bahwa long-term holder masih bertahan. Namun, rasio MVRV short-term holder saat ini berada di bawah 1, artinya pembeli baru rata-rata mengalami kerugian. Kondisi ini membuat pasar rentan terhadap aksi jual lebih lanjut karena investor yang rugi memiliki ruang yang sempit untuk menyerap guncangan makro berikutnya. Pasar prediksi Polymarket memberi probabilitas 98% bahwa Fed tidak akan memangkas suku bunga pada Juni, dan 94% pada Juli — artinya suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Ini meningkatkan biaya oportunitas memegang aset non-yielding seperti Bitcoin. Presto Research mencatat bahwa pasar kini menunggu katalis pekan ini: laporan keuangan Nvidia pada Rabu, data PPI AS pada Kamis, dan perkembangan CLARITY Act di Senat AS. Nvidia telah menjadi barometer risiko yang lebih luas karena perannya di pusat perdagangan AI, sementara PPI akan memberikan gambaran apakah tekanan inflasi meluas di luar energi. Bagi Indonesia, koreksi Bitcoin adalah sinyal risk-off global yang perlu dicermati. Pasar kripto ritel Indonesia yang aktif akan merasakan dampak langsung melalui penurunan volume perdagangan di bursa lokal seperti Indodax, Tokocrypto, atau Pintu. Namun, dampak tidak langsung yang lebih penting adalah potensi arus keluar modal asing dari emerging market. Jika aksi jual aset berisiko berlanjut — didorong oleh suku bunga tinggi AS dan dolar kuat — IHSG dan rupiah bisa ikut tertekan. Data terbaru menunjukkan USD/IDR berada di Rp17.655, level yang mencerminkan tekanan berkelanjutan. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan: (1) apakah Bitcoin mampu bertahan di atas $76.000 — jika jebol, koreksi lebih dalam ke $74.000–$75.000 terbuka; (2) arah arus dana ETF spot Bitcoin — outflow $1 miliar dalam sepekan terakhir perlu dikonfirmasi apakah berlanjut; (3) perkembangan CLARITY Act di lantai Senat AS yang bisa menjadi katalis berikutnya; (4) data inflasi Inggris (CPI) pekan depan yang bisa mempengaruhi ekspektasi suku bunga global.

Mengapa Ini Penting

Koreksi Bitcoin di bawah $77.000 bukan sekadar berita kripto — ini adalah barometer risk appetite global yang berdampak langsung ke Indonesia. Ketika aset berisiko global tertekan oleh yield tinggi dan minyak mahal, emerging market seperti Indonesia biasanya menjadi korban berikutnya melalui outflow portofolio dan pelemahan rupiah. Bagi pengusaha dan investor Indonesia, sinyal ini berarti biaya pendanaan lebih mahal, tekanan pada IHSG, dan risiko depresiasi rupiah yang bisa mengerek biaya impor.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada rupiah dan IHSG: Korelasi Bitcoin dengan risk appetite global membuat koreksi ini menjadi early warning bagi emerging market. Jika aksi jual berlanjut, arus keluar modal asing dari SBN dan saham Indonesia bisa meningkat, memperlemah rupiah yang sudah di Rp17.655 dan menekan IHSG.
  • Biaya impor membengkak: Rupiah yang tertekan akibat risk-off global akan langsung menaikkan biaya impor bahan baku dan barang modal bagi perusahaan manufaktur dan ritel yang bergantung pada pasokan luar negeri. Sektor consumer goods dan properti yang sensitif terhadap daya beli akan paling terdampak.
  • Suku bunga tinggi lebih lama: Ekspektasi bahwa Fed tidak akan memangkas suku bunga hingga setidaknya Juli memperkuat posisi dolar AS dan membatasi ruang gerak Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Ini berarti kredit akan tetap mahal, menekan sektor properti, otomotif, dan konsumsi yang bergantung pada pembiayaan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level $76.000 pada Bitcoin — jika jebol, koreksi lebih dalam ke $74.000–$75.000 terbuka dan risk-off global akan semakin intensif, berdampak langsung ke IHSG dan rupiah.
  • Risiko yang perlu dicermati: arus keluar ETF spot Bitcoin — outflow $1 miliar dalam sepekan terakhir perlu dikonfirmasi apakah berlanjut; jika ya, tekanan jual di pasar kripto akan semakin dalam dan sentimen risk-off akan meluas.
  • Sinyal penting: data PPI AS pada Kamis dan laporan keuangan Nvidia pada Rabu — keduanya akan menjadi barometer apakah tekanan inflasi meluas dan apakah sektor teknologi masih mampu menjadi motor penggerak pasar.

Konteks Indonesia

Koreksi Bitcoin di bawah $77.000 adalah sinyal risk-off global yang berdampak langsung ke Indonesia melalui tiga jalur. Pertama, pasar kripto ritel Indonesia yang aktif — dengan volume perdagangan di bursa lokal seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu — akan merasakan dampak langsung berupa penurunan volume dan potensi aksi jual. Kedua, korelasi Bitcoin dengan aset berisiko global membuat koreksi ini menjadi early warning bagi emerging market: jika aksi jual berlanjut, arus keluar modal asing dari SBN dan saham Indonesia bisa meningkat, memperlemah rupiah yang sudah di Rp17.655 dan menekan IHSG. Ketiga, ekspektasi suku bunga tinggi AS yang lebih lama membatasi ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga kredit tetap mahal dan menekan sektor-sektor domestik yang bergantung pada pembiayaan.

Konteks Indonesia

Koreksi Bitcoin di bawah $77.000 adalah sinyal risk-off global yang berdampak langsung ke Indonesia melalui tiga jalur. Pertama, pasar kripto ritel Indonesia yang aktif — dengan volume perdagangan di bursa lokal seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu — akan merasakan dampak langsung berupa penurunan volume dan potensi aksi jual. Kedua, korelasi Bitcoin dengan aset berisiko global membuat koreksi ini menjadi early warning bagi emerging market: jika aksi jual berlanjut, arus keluar modal asing dari SBN dan saham Indonesia bisa meningkat, memperlemah rupiah yang sudah di Rp17.655 dan menekan IHSG. Ketiga, ekspektasi suku bunga tinggi AS yang lebih lama membatasi ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga kredit tetap mahal dan menekan sektor-sektor domestik yang bergantung pada pembiayaan.