24 MEI 2026
Bitcoin Siap Outperform Lagi? Klaim Connors Kontras dengan Tekanan Pasar

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Siap Outperform Lagi? Klaim Connors Kontras dengan Tekanan Pasar
Forex & Crypto

Bitcoin Siap Outperform Lagi? Klaim Connors Kontras dengan Tekanan Pasar

Tim Redaksi Feedberry ·23 Mei 2026 pukul 19.00 · Sinyal menengah · Sumber: CoinDesk ↗
7 Skor

Klaim optimistis dari figur kredibel di tengah tekanan pasar menciptakan ketegangan yang perlu diwaspadai; dampak ke Indonesia melalui risk appetite global dan arus modal.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Mark Connors, mantan global head portfolio management Credit Suisse, menyatakan bahwa bitcoin telah keluar dari periode underperformance terpanjangnya terhadap S&P 500 (142 hari) dan siap mengalahkan saham, obligasi, serta emas. Ia mendasarkan pandangannya pada inflasi yang persistif, harga minyak yang tetap tinggi secara struktural, dan lingkungan suku bunga 'higher-for-longer' yang justru menekan obligasi, membuat bitcoin lebih menarik sebagai penyimpan nilai. Connors juga melihat pergeseran investor dari emas ke bitcoin, serta peran teknologi AI dan blockchain sebagai kunci melawan tekanan inflasi. Namun, optimisme ini bertepatan dengan tekanan jual signifikan di pasar kripto global. Data terkini menunjukkan outflow besar dari spot Bitcoin ETF dan harga yang terkoreksi dari puncak terbaru.

Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi sikap hawkish Fed membuat aset non-yielding seperti bitcoin kurang kompetitif dalam jangka pendek. Ketegangan antara narasi bullish Connors dan realitas pasar saat ini menciptakan ketidakpastian yang perlu dicermati investor. Bagi Indonesia, bitcoin tetap menjadi barometer risk appetite global. Jika bitcoin benar-benar memasuki fase outperformance seperti diklaim Connors, sentimen risk-on dapat mendorong arus modal masuk ke emerging market, termasuk Indonesia — menopang IHSG yang saat ini berada di level 6.162 dan rupiah yang tertekan di Rp17.712 per dolar AS. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut, risiko outflow asing dari SBN dan saham Indonesia akan meningkat, memperlemah rupiah lebih lanjut.

Mengapa Ini Penting

Klaim Mark Connors bukan sekadar opini; ia adalah figur dengan pengalaman puluhan tahun di manajemen portofolio institusional, sehingga pandangannya bisa memengaruhi alokasi modal investor global. Jika fase outperformance bitcoin benar-benar dimulai, ini bisa mengubah peta alokasi aset tradisional dan memperkuat adopsi institusional aset digital. Bagi Indonesia, perubahan risk appetite global memiliki transmisi langsung ke arus modal, nilai tukar, dan likuiditas pasar — sehingga pembaca perlu mencermati apakah narasi ini akan terbukti atau hanya menjadi false signal di tengah tekanan pasar saat ini.

Dampak ke Bisnis

  • Jika bitcoin memasuki fase outperformance, sentimen risk-on global akan membaik: investor asing cenderung kembali ke aset emerging market, termasuk saham dan obligasi Indonesia, yang dapat menopang IHSG dan meredakan tekanan pada rupiah.
  • Sebaliknya, jika tekanan jual bitcoin berlanjut, risiko outflow asing dari Indonesia meningkat. Ini akan menekan IHSG lebih lanjut dan memperlemah rupiah, terutama karena saat ini rupiah sudah berada di level tertekan terhadap dolar AS.
  • Sektor teknologi dan kripto lokal — mulai dari exchange kripto hingga startup blockchain — akan terpengaruh oleh arah sentimen global. Regulasi Bappebti dan OJK bisa menjadi lebih ketat jika volatilitas kripto mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga bitcoin dalam 2 minggu ke depan — apakah mampu bertahan di atas level psikologis dan membentuk pola reversal, atau justru melanjutkan koreksi lebih dalam.
  • Risiko yang perlu dicermati: rilis data inflasi AS dan hasil rapat FOMC berikutnya — jika memberi sinyal hawkish, tekanan pada aset berisiko termasuk bitcoin akan berlanjut, memperkuat outflow dari emerging market.
  • Sinyal penting: keputusan CFTC terkait opsi indeks Bitcoin (QBTC) dan pernyataan resmi dari Michael Saylor mengenai rencana penjualan Bitcoin perusahaannya — dua peristiwa ini bisa menjadi katalis yang membalikkan sentimen pasar.

Konteks Indonesia

Indonesia sebagai emerging market sangat sensitif terhadap perubahan risk appetite global. Bitcoin berperan sebagai barometer sentimen risk-on/risk-off: saat bitcoin menguat, biasanya diikuti oleh inflow ke aset berisiko di negara berkembang; saat melemah, risiko outflow meningkat. Dengan IHSG di level 6.162 dan rupiah di Rp17.712 per dolar AS, potensi tekanan tambahan dari pelemahan bitcoin perlu diwaspadai. Sebaliknya, jika klaim outperformance Connors terbukti, Indonesia bisa menjadi salah satu penerima manfaat dari kembalinya modal asing.

Konteks Indonesia

Indonesia sebagai emerging market sangat sensitif terhadap perubahan risk appetite global. Bitcoin berperan sebagai barometer sentimen risk-on/risk-off: saat bitcoin menguat, biasanya diikuti oleh inflow ke aset berisiko di negara berkembang; saat melemah, risiko outflow meningkat. Dengan IHSG di level 6.162 dan rupiah di Rp17.712 per dolar AS, potensi tekanan tambahan dari pelemahan bitcoin perlu diwaspadai. Sebaliknya, jika klaim outperformance Connors terbukti, Indonesia bisa menjadi salah satu penerima manfaat dari kembalinya modal asing.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.