Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Bitcoin 90 Hari Uptrend Rekor — Analis Sebut Bull Market Rally
Rekor uptrend Bitcoin dalam bear market menarik secara teknis, tetapi dampak ke Indonesia bersifat tidak langsung melalui sentimen risk appetite global — urgensi sedang, dampak terbatas pada investor kripto ritel dan saham teknologi IHSG.
- Instrumen
- Bitcoin (BTC/USD)
- Harga Terkini
- $78.000–$83.000
- Level Teknikal
- Resistance $88.000–$90.000 (weekly supertrend), support $76.000–$77.000
- Katalis
-
- ·Penembusan resistance jangka panjang di $77.000
- ·Akumulasi long-term holders mencapai 71,6% dari total suplai
- ·Tekanan makro dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan probabilitas kenaikan suku bunga Fed
Key Takeaways
- 1 Yang perlu dipantau: level harga Bitcoin di $76.000–$77.000 sebagai support kunci — jika ditembus ke bawah, risiko koreksi ke $70.000 meningkat dan bisa memicu risk-off global.
- 2 Risiko yang perlu dicermati: hasil notulen FOMC mendatang — jika hawkish dan mengonfirmasi potensi kenaikan suku bunga, tekanan pada Bitcoin dan aset berisiko emerging market akan berlanjut.
- 3 Sinyal penting: arus masuk/keluar ETF Bitcoin spot AS — jika outflow berlanjut di atas $2 miliar, ini menandakan lemahnya permintaan institusional dan meningkatkan risiko koreksi.
Ringkasan Eksekutif
Bitcoin mencatat rekor uptrend terlama dalam sejarah bear market-nya, yaitu 90 hari berturut-turut sejak menyentuh level terendah di bawah $60.000 pada akhir Februari 2026. Analis Matthew Hyland menilai pola pergerakan ini lebih menyerupai bull market rally daripada bear market rally, karena berhasil menembus resistance jangka panjang di $77.000 dan bertahan di atasnya. Harga Bitcoin saat ini berada di sekitar $78.000–$83.000, dengan level tertinggi lokal mencapai $83.000 tepat tiga bulan setelah bottom Februari. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Bitcoin terjadi rally yang trennya naik selama 89 hari dalam periode bear market. Analis lain, Filbfilb, menambahkan bahwa konfirmasi bulls kembali membutuhkan penembusan weekly supertrend yang saat ini berada di sekitar $88.000–$90.000. Secara historis, bear market Bitcoin berakhir dengan candle mingguan >+20% dan break di atas supertrend. Jika pergerakan bearish saat ini gagal, analis memperkirakan akan terjadi candle besar seperti itu daripada berkonsolidasi berkepanjangan. Namun, data dari artikel terkait menunjukkan kontras yang signifikan: meskipun harga bertahan, arus keluar dari spot Bitcoin ETF AS mencapai sekitar $2,07 miliar dalam dua pekan terakhir, dan Bitcoin Premium di Coinbase tetap negatif — indikasi lemahnya permintaan institusional jangka pendek. Cumulative volume delta (CVD) di pasar spot tercatat -$483 juta, sementara CVD futures sedikit positif di sekitar $34 juta, menunjukkan bahwa leveraged trader menjadi pendorong kenaikan terkini, bukan permintaan spot yang organik. Faktor makro juga membebani: imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun menembus 5%, probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada September 2026 melonjak dari 0% menjadi 37%, dan harga minyak Brent bertahan di atas $95 per barel akibat konflik Iran. Kombinasi ini menciptakan tekanan pada aset non-yielding seperti Bitcoin. Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Bitcoin berfungsi sebagai barometer risk appetite global — ketika volatilitasnya rendah dan harga stabil, sentimen positif cenderung merembet ke aset berisiko emerging market termasuk IHSG. Namun, korelasinya tidak langsung atau seketika. Yang lebih relevan adalah sinyal bahwa tekanan jual ekstrem mungkin sudah berlalu, yang bisa mengurangi risiko outflow dari pasar Indonesia. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah apakah Bitcoin mampu bertahan di atas $76.000–$77.000 dan menembus resistance $82.000–$88.000. Jika berhasil, ini bisa menjadi katalis positif untuk risk appetite global. Sebaliknya, jika gagal dan harga turun kembali ke $70.000, tekanan jual di aset emerging market bisa kembali meningkat.
Mengapa Ini Penting
Rekor uptrend 90 hari Bitcoin ini penting karena mengubah narasi pasar dari 'bear market rally' menjadi potensi awal bull market baru — jika terkonfirmasi, ini akan mendorong risk appetite global dan berpotensi memicu inflow ke emerging market termasuk Indonesia. Namun, kontradiksi antara harga yang naik dan lemahnya permintaan institusional (outflow ETF, CVD spot negatif) menciptakan kerentanan: jika kenaikan ini hanya didorong leveraged trader, koreksi bisa lebih dalam dan berdampak negatif ke IHSG dan SBN melalui jalur sentimen.
Dampak ke Bisnis
- Sentimen risk-on global yang positif dapat mendorong inflow asing ke IHSG dan SBN, terutama jika Bitcoin mampu menembus resistance $88.000–$90.000 — ini akan mendukung valuasi saham teknologi dan large caps yang banyak dimiliki asing.
- Sebaliknya, jika kenaikan Bitcoin ternyata hanya didorong leveraged trader dan gagal bertahan, koreksi tajam bisa memicu risk-off global yang berujung outflow dari pasar Indonesia — tekanan pada rupiah dan IHSG.
- Bagi investor kripto ritel Indonesia, reli ini bisa meningkatkan volume perdagangan di exchange lokal dan mendorong minat pada aset kripto lain, namun risiko koreksi tetap tinggi mengingat lemahnya fundamental permintaan spot.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: level harga Bitcoin di $76.000–$77.000 sebagai support kunci — jika ditembus ke bawah, risiko koreksi ke $70.000 meningkat dan bisa memicu risk-off global.
- Risiko yang perlu dicermati: hasil notulen FOMC mendatang — jika hawkish dan mengonfirmasi potensi kenaikan suku bunga, tekanan pada Bitcoin dan aset berisiko emerging market akan berlanjut.
- Sinyal penting: arus masuk/keluar ETF Bitcoin spot AS — jika outflow berlanjut di atas $2 miliar, ini menandakan lemahnya permintaan institusional dan meningkatkan risiko koreksi.
Konteks Indonesia
Bitcoin berfungsi sebagai barometer risk appetite global. Ketika harganya stabil dan volatilitas rendah, sentimen positif cenderung merembet ke aset berisiko emerging market termasuk IHSG. Namun, korelasinya tidak langsung atau seketika. Yang lebih relevan adalah sinyal bahwa tekanan jual ekstrem mungkin sudah berlalu, yang bisa mengurangi risiko outflow dari pasar Indonesia. Sebaliknya, jika Bitcoin gagal bertahan di atas $76.000, tekanan jual di aset emerging market bisa kembali meningkat. Investor kripto ritel Indonesia juga akan terpengaruh langsung karena pasar kripto Indonesia didominasi investor ritel yang aktif.
Konteks Indonesia
Bitcoin berfungsi sebagai barometer risk appetite global. Ketika harganya stabil dan volatilitas rendah, sentimen positif cenderung merembet ke aset berisiko emerging market termasuk IHSG. Namun, korelasinya tidak langsung atau seketika. Yang lebih relevan adalah sinyal bahwa tekanan jual ekstrem mungkin sudah berlalu, yang bisa mengurangi risiko outflow dari pasar Indonesia. Sebaliknya, jika Bitcoin gagal bertahan di atas $76.000, tekanan jual di aset emerging market bisa kembali meningkat. Investor kripto ritel Indonesia juga akan terpengaruh langsung karena pasar kripto Indonesia didominasi investor ritel yang aktif.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.