Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

13 MEI 2026
Biji Kelor Efektif Serap 98,5% Mikroplastik — Potensi Gantikan Tawas di Industri Filtrasi Air

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Teknologi / Biji Kelor Efektif Serap 98,5% Mikroplastik — Potensi Gantikan Tawas di Industri Filtrasi Air
Teknologi

Biji Kelor Efektif Serap 98,5% Mikroplastik — Potensi Gantikan Tawas di Industri Filtrasi Air

Tim Redaksi Feedberry ·13 Mei 2026 pukul 11.35 · Confidence 8/10 · Sumber: Katadata ↗
4 Skor

Temuan riset ini masih pada tahap laboratorium dan belum teruji secara komersial, namun potensi dampaknya terhadap industri pengolahan air dan lingkungan di Indonesia cukup signifikan jika dikembangkan lebih lanjut.

Urgensi
3
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
5

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pengembangan riset lanjutan menuju uji coba skala komersial — apakah ada pilot project di instalasi pengolahan air perkotaan atau kerja sama dengan perusahaan filtrasi.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: ketersediaan pasokan biji kelor dalam jumlah besar — Indonesia sebagai produsen utama perlu memastikan kapasitas budidaya dan infrastruktur pengolahan untuk memenuhi potensi permintaan industri.
  • 3 Sinyal penting: respons dari regulator seperti Kementerian PUPR atau Kementerian Lingkungan Hidup terkait standar kualitas air minum dan potensi adopsi teknologi koagulan alami — bisa menjadi katalis untuk investasi di sektor ini.

Ringkasan Eksekutif

Sebuah riset terbaru berjudul 'Removal of Microplastics from Drinking Water by Moringa oliefera Seed: Comparative Performance with Alum in Direct and in-Line Filtration Systems' (2026) mengungkap bahwa ekstrak biji kelor (Moringa oleifera) mampu menghilangkan 98,5% mikroplastik dari air keran. Angka ini hampir sebanding dengan koagulan kimia yang umum digunakan seperti aluminium sulfat atau tawas. Bahkan, dalam air dengan pH tinggi (alkalis), kinerja biji kelor dinilai lebih baik daripada tawas. Pengujian dilakukan pada mikroplastik jenis polyvinyl chloride (PVC) berukuran rata-rata 18,8 mikrometer — sekitar seperempat tebal rambut manusia — yang merupakan salah satu jenis plastik paling berbahaya dan banyak ditemukan dalam air minum. Peneliti Adriano G. dos Reis menjelaskan bahwa fokus pada PVC karena termasuk jenis plastik yang paling berbahaya dan banyak ditemukan dalam air minum. Sebagai konteks, sebuah studi pada 2024 mengungkap bahwa mikroplastik telah mencemari 83% air keran yang diuji di berbagai belahan dunia. Mikroplastik juga telah ditemukan di dalam tubuh manusia, termasuk di otak, organ reproduksi, dan sistem kardiovaskular, sehingga riset ini menjadi relevan secara global. Keunggulan utama biji kelor dibandingkan tawas adalah sifatnya yang terbarukan, mudah terurai secara alami (biodegradable), tidak menghasilkan banyak lumpur, dan memiliki risiko toksisitas yang lebih rendah. Sebaliknya, penggunaan aluminium seperti tawas berisiko menyebabkan gangguan pada saraf. Profesor Matthew Campen dari University of New Mexico, yang tidak terlibat dalam riset, menyebut bahwa produk alami ini dapat menawarkan solusi yang lebih murah dan lebih berkelanjutan untuk menghilangkan mikroplastik PVC, serta berpotensi mengurangi kebutuhan penambangan aluminium yang berdampak negatif pada lingkungan. Meski demikian, tantangan utama adalah kebutuhan biji kelor dalam jumlah besar jika teknologi ini akan diterapkan di instalasi pengolahan air perkotaan. Indonesia sebagai salah satu produsen kelor terbesar di dunia memiliki potensi untuk mengembangkan industri ini, namun perlu investasi dalam budidaya, ekstraksi, dan infrastruktur pengolahan. Riset ini masih pada tahap awal dan belum ada uji coba skala komersial yang dilaporkan. Yang perlu dipantau ke depan adalah apakah ada pengembangan lebih lanjut menuju komersialisasi, serta respons dari industri pengolahan air dan regulator di Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Temuan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan solusi filtrasi air berbasis bahan baku lokal yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih murah. Jika dikomersialkan, ini bisa mengurangi ketergantungan pada impor koagulan kimia seperti tawas, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi industri kelor dalam negeri. Namun, riset ini masih pada tahap laboratorium dan belum ada kepastian kapan atau apakah akan diadopsi secara luas.

Dampak ke Bisnis

  • Potensi disruptif bagi industri koagulan kimia (tawas, aluminium sulfat) yang selama ini mendominasi pasar pengolahan air — jika biji kelor terbukti ekonomis dalam skala komersial, pangsa pasar produk kimia tersebut bisa tergerus.
  • Peluang bagi petani dan pengolah kelor di Indonesia — permintaan biji kelor untuk industri filtrasi dapat meningkatkan pendapatan petani dan mendorong pengembangan rantai pasok baru, namun butuh investasi budidaya dan ekstraksi skala besar.
  • Dampak lingkungan positif jangka panjang — pengurangan penggunaan aluminium dalam pengolahan air dapat menurunkan risiko pencemaran logam berat dan limbah lumpur kimia, meskipun dampak ini baru terasa setelah adopsi teknologi secara luas.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengembangan riset lanjutan menuju uji coba skala komersial — apakah ada pilot project di instalasi pengolahan air perkotaan atau kerja sama dengan perusahaan filtrasi.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketersediaan pasokan biji kelor dalam jumlah besar — Indonesia sebagai produsen utama perlu memastikan kapasitas budidaya dan infrastruktur pengolahan untuk memenuhi potensi permintaan industri.
  • Sinyal penting: respons dari regulator seperti Kementerian PUPR atau Kementerian Lingkungan Hidup terkait standar kualitas air minum dan potensi adopsi teknologi koagulan alami — bisa menjadi katalis untuk investasi di sektor ini.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.