Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

16 MEI 2026
Bhutan Bantah Jual Bitcoin, Data On-Chain Tunjukkan Outflow $1 Miliar

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bhutan Bantah Jual Bitcoin, Data On-Chain Tunjukkan Outflow $1 Miliar
Forex & Crypto

Bhutan Bantah Jual Bitcoin, Data On-Chain Tunjukkan Outflow $1 Miliar

Tim Redaksi Feedberry ·16 Mei 2026 pukul 02.30 · Sinyal menengah · Sumber: CoinDesk ↗
5 Skor

Berita ini penting sebagai sinyal risk appetite global dan potensi tekanan jual Bitcoin, namun dampak langsung ke Indonesia terbatas karena Bhutan bukan pemain utama pasar kripto Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pergerakan dompet Bitcoin yang dikaitkan dengan Bhutan — apakah arus keluar berlanjut atau melambat, yang akan mengkonfirmasi niat jual mereka.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika Bitcoin gagal bertahan di atas $76.000, koreksi lebih dalam ke $74.968 (50-day SMA) terbuka, yang bisa memicu likuidasi besar-besaran dan risk-off global.
  • 3 Sinyal penting: pernyataan resmi dari DHI atau pemerintah Bhutan tentang kepemilikan bitcoin mereka — klarifikasi bisa mengurangi ketidakpastian pasar.

Ringkasan Eksekutif

Bhutan, negara kecil di Himalaya yang menjadi negara kedua setelah El Salvador yang secara resmi menambang dan menyimpan bitcoin, dilaporkan telah menjual sebagian besar kepemilikan bitcoinnya. Data dari Arkham Intelligence menunjukkan bahwa dompet yang dikaitkan dengan Druk Holding and Investments (DHI), dana kekayaan berdaulat Bhutan, telah memindahkan lebih dari $1 miliar dalam bentuk bitcoin sejak Juli 2025 ke berbagai bursa dan perusahaan perdagangan. Kepemilikan di dompet yang dilacak Arkham turun dari sekitar 13.000 BTC pada Oktober 2024 menjadi sekitar 3.100 BTC pada Jumat lalu, senilai $252 juta. Arus keluar ini semakin cepat sepanjang tahun 2026, dan Arkham memperkirakan Bhutan akan menjual semua sisa bitcoinnya pada Oktober jika laju saat ini berlanjut. Namun, pejabat DHI membantah telah menjual bitcoin. CEO DHI Ujjwal Deep Dahal mengatakan kepada CoinDesk melalui email, 'Saya tidak ingat kapan terakhir kali kami menjual BTC.' Ketika ditanya secara spesifik tentang pergerakan dompet yang dilacak Arkham, DHI hanya menjawab bahwa 'pernyataan kami tetap berlaku dan tidak ada yang perlu ditambahkan.' DHI tidak membantah atribusi Arkham terhadap dompet tersebut, tidak mengkonfirmasi jumlah bitcoin yang saat ini dimiliki Bhutan, dan tidak menjelaskan mengapa kepemilikan di dompet yang dilacak menurun drastis. Arkham telah melacak dompet-dompet ini sebagai milik DHI selama bertahun-tahun tanpa ada bantahan sebelumnya dari pemerintah Bhutan setiap kali penjualan atau pergerakan dipublikasikan. Data Arkham juga menunjukkan bahwa Bhutan telah menjadi penambang Bitcoin aktif sejak 2019, dengan operasi penambangan yang didukung oleh pembangkit listrik tenaga air yang melimpah di negara tersebut. Penurunan kepemilikan ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Bhutan untuk memenuhi janjinya menyediakan hingga 10.000 BTC untuk zona ekonomi baru, dan mengindikasikan bahwa negara tersebut mungkin telah mengurangi atau menghentikan operasi penambangan bitcoinnya yang dulunya besar. Bagi investor Indonesia, berita ini relevan karena menambah tekanan jual di pasar Bitcoin yang sudah tertekan. Bitcoin saat ini berada di sekitar $79.000, gagal menembus resistance 200-day moving average di $82.400. Jika tekanan jual dari Bhutan berlanjut, ini bisa memperkuat koreksi lebih dalam ke $74.000–$77.000. Pasar kripto ritel Indonesia yang aktif akan merasakan dampak langsung melalui penurunan volume perdagangan di bursa lokal. Namun, dampak tidak langsung yang lebih penting adalah potensi risk-off yang meluas ke emerging market — jika aksi jual aset berisiko berlanjut, IHSG dan rupiah bisa ikut tertekan oleh arus keluar modal asing.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menunjukkan bahwa bahkan negara yang secara resmi mengadopsi bitcoin pun bisa menjual kepemilikannya di tengah tekanan pasar. Ini menambah pasokan bitcoin di pasar yang sudah rapuh, dan jika tren ini diikuti oleh pemegang besar lainnya, bisa mempercepat koreksi. Bagi investor Indonesia, koreksi Bitcoin berfungsi sebagai barometer risk appetite global — jika Bitcoin terus melemah, sentimen risk-off bisa menyebar ke IHSG dan rupiah.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan jual tambahan di pasar Bitcoin: Jika Bhutan benar-benar menjual, tambahan pasokan ~10.000 BTC bisa menekan harga lebih lanjut, memperkuat resistensi di $82.000 dan membuka koreksi ke $74.000–$77.000.
  • Dampak ke bursa kripto Indonesia: Volume perdagangan di bursa lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu bisa menurun jika Bitcoin terus terkoreksi, mengurangi pendapatan mereka dari biaya transaksi.
  • Potensi risk-off ke pasar saham Indonesia: Koreksi Bitcoin yang dalam sering diikuti oleh aksi jual aset berisiko di emerging market. Jika IHSG ikut tertekan, investor ritel dan institusi Indonesia bisa mengalami kerugian portofolio.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan dompet Bitcoin yang dikaitkan dengan Bhutan — apakah arus keluar berlanjut atau melambat, yang akan mengkonfirmasi niat jual mereka.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika Bitcoin gagal bertahan di atas $76.000, koreksi lebih dalam ke $74.968 (50-day SMA) terbuka, yang bisa memicu likuidasi besar-besaran dan risk-off global.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari DHI atau pemerintah Bhutan tentang kepemilikan bitcoin mereka — klarifikasi bisa mengurangi ketidakpastian pasar.

Konteks Indonesia

Berita ini relevan untuk Indonesia karena pasar kripto ritel Indonesia tergolong aktif dan sensitif terhadap sentimen global. Koreksi Bitcoin dapat memicu risk-off yang menekan IHSG dan rupiah, sementara reli dapat mendorong aliran modal ke emerging market. Selain itu, perkembangan regulasi kripto global, seperti CLARITY Act di AS, dapat mempengaruhi akses dan produk yang tersedia di bursa kripto Indonesia yang diatur oleh Bappebti dan OJK.

Konteks Indonesia

Berita ini relevan untuk Indonesia karena pasar kripto ritel Indonesia tergolong aktif dan sensitif terhadap sentimen global. Koreksi Bitcoin dapat memicu risk-off yang menekan IHSG dan rupiah, sementara reli dapat mendorong aliran modal ke emerging market. Selain itu, perkembangan regulasi kripto global, seperti CLARITY Act di AS, dapat mempengaruhi akses dan produk yang tersedia di bursa kripto Indonesia yang diatur oleh Bappebti dan OJK.