Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

13 MEI 2026
Bapanas Klaim Harga Cabai Rawit Stabil di Rp63.252/Kg — Turun 47% dari Puncak Lebaran

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Makro / Bapanas Klaim Harga Cabai Rawit Stabil di Rp63.252/Kg — Turun 47% dari Puncak Lebaran
Makro

Bapanas Klaim Harga Cabai Rawit Stabil di Rp63.252/Kg — Turun 47% dari Puncak Lebaran

Tim Redaksi Feedberry ·13 Mei 2026 pukul 02.43 · Sinyal menengah · Confidence 8/10 · Sumber: IDXChannel ↗
6.7 Skor

Penurunan harga cabai rawit signifikan dari Rp120.000 ke Rp63.252 per kg meredakan tekanan inflasi pangan, namun harga masih di atas HAP dan tekanan daya beli konsumen masih berlangsung — berdampak luas ke ritel, UMKM, dan kebijakan moneter.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Komoditas
Komoditas
Cabai Rawit Merah
Harga Terkini
Rp63.252 per kg
Perubahan Harga
-47% dari puncak Lebaran Rp120.000 per kg
Faktor Supply
  • ·Distribusi yang lancar disebut sebagai faktor utama penurunan harga
  • ·Jumlah daerah dengan kenaikan IPH turun dari 127 (minggu ketiga April) menjadi 91 (minggu pertama Mei)
Faktor Demand
  • ·Tekanan daya beli konsumen yang melemah — Aprindo konfirmasi konsumen beralih ke barang murah
  • ·Pertumbuhan ritel festive Ramadan-Lebaran 2026 tidak mencapai target 10%

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: konsistensi harga cabai rawit di kisaran Rp60.000–65.000 per kg selama 2-4 minggu ke depan — jika harga kembali ke Rp80.000+, sinyal tekanan pasokan masih ada.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah ke Rp17.505 per dolar AS — meningkatkan biaya impor pupuk dan bahan pangan, yang bisa kembali mendorong harga cabai naik.
  • 3 Sinyal penting: data inflasi CPI bulan Mei dari BPS — konfirmasi apakah penurunan harga pangan cukup signifikan untuk menahan laju inflasi umum, atau justru deflasi yang menandakan tekanan permintaan.

Ringkasan Eksekutif

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim harga cabai rawit merah nasional mulai stabil di kisaran Rp63.252 per kg per 12 Mei 2026, berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan. Angka ini turun drastis 47% dari puncak harga menjelang Lebaran yang sempat mencapai Rp120.000 per kg di sejumlah pasar. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut distribusi yang lancar sebagai faktor utama penurunan harga. Indikator perbaikan juga terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit, yang turun dari 127 daerah pada minggu ketiga April menjadi 91 daerah pada minggu pertama Mei 2026. Meski harga masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP), penurunan ini dinilai memberikan dampak positif terhadap pengendalian inflasi pangan nasional. Namun, konteks yang perlu dicermati: penurunan harga cabai terjadi di tengah tekanan daya beli konsumen yang sudah melemah, sebagaimana dikonfirmasi oleh Aprindo bahwa konsumen mulai beralih ke barang murah dan pertumbuhan ritel festive Ramadan-Lebaran 2026 tidak mencapai target 10%. Artinya, penurunan harga pangan ini bisa jadi lebih disebabkan oleh melemahnya permintaan daripada melimpahnya pasokan — yang merupakan sinyal berbeda untuk inflasi. Dari sisi fiskal, tekanan APBN yang sudah defisit Rp240 triliun per Maret 2026 membatasi ruang pemerintah untuk melakukan intervensi harga pangan skala besar melalui subsidi atau operasi pasar. Sementara itu, pelemahan rupiah ke Rp17.505 per dolar AS menambah tekanan biaya impor bahan pangan dan pupuk, yang bisa kembali mendorong harga cabai naik jika pasokan terganggu. Yang perlu dipantau dalam 2-4 minggu ke depan: konsistensi harga cabai di kisaran Rp60.000–65.000 per kg — jika harga kembali menanjak mendekati Rp80.000, itu sinyal bahwa tekanan pasokan masih ada dan inflasi pangan belum sepenuhnya terkendali. Selain itu, data inflasi CPI bulan Mei dari BPS akan menjadi konfirmasi apakah penurunan harga pangan ini cukup signifikan untuk menahan laju inflasi umum.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga cabai rawit 47% dari puncak Lebaran adalah kabar baik untuk inflasi pangan, namun konteks pelemahan daya beli konsumen dan tekanan fiskal membuat stabilitas ini rapuh. Jika penurunan harga lebih disebabkan oleh melemahnya permintaan daripada perbaikan pasokan, maka ini bukan sinyal pemulihan daya beli — melainkan indikasi kontraksi konsumsi yang lebih dalam. Bagi investor ritel dan FMCG, tren ini perlu dicermati karena bisa menekan volume penjualan dan margin di semester II-2026.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan harga cabai meredakan tekanan biaya bahan baku bagi UMKM kuliner dan warung makan — margin operasional mereka berpotensi membaik setelah periode Lebaran yang ketat.
  • Namun, jika penurunan harga disebabkan oleh melemahnya permintaan, ritel modern dan produsen FMCG justru menghadapi risiko penurunan volume penjualan — Aprindo sudah mengonfirmasi pertumbuhan festive tidak mencapai target 10%.
  • Tekanan fiskal APBN (defisit Rp240 triliun) membatasi kemampuan pemerintah untuk melakukan intervensi harga pangan lanjutan — jika harga cabai kembali naik akibat gangguan cuaca atau distribusi, ruang fiskal untuk operasi pasar sangat terbatas.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: konsistensi harga cabai rawit di kisaran Rp60.000–65.000 per kg selama 2-4 minggu ke depan — jika harga kembali ke Rp80.000+, sinyal tekanan pasokan masih ada.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah ke Rp17.505 per dolar AS — meningkatkan biaya impor pupuk dan bahan pangan, yang bisa kembali mendorong harga cabai naik.
  • Sinyal penting: data inflasi CPI bulan Mei dari BPS — konfirmasi apakah penurunan harga pangan cukup signifikan untuk menahan laju inflasi umum, atau justru deflasi yang menandakan tekanan permintaan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.