Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Bank of Korea Uji Coba Fase Kedua CBDC September 2026 — Tambah Bank dan Fitur Baru
Uji coba CBDC Korea Selatan memberikan referensi strategis bagi pengembangan rupiah digital Indonesia, namun dampak langsung ke ekonomi domestik masih minimal dalam jangka pendek.
Ringkasan Eksekutif
Bank of Korea (BOK) akan meluncurkan fase kedua Project Hangang, uji coba central bank digital currency (CBDC) wholesale, pada September 2026. Fase ini memperluas partisipasi dari tujuh menjadi sembilan bank — dengan tambahan Kyongnam Bank dan iM Bank — serta menghadirkan fitur baru seperti transfer peer-to-peer, autentikasi biometrik, dan fitur deposit token otomatis. Selain itu, BOK akan menguji penyaluran subsidi pemerintah melalui tokenized deposit yang diterbitkan oleh bank komersial. Ini merupakan langkah maju dari fase pertama yang berlangsung pada April–Juni 2025, yang berhasil menarik 81.000 partisipan dan memproses 114.880 transaksi. Fase kedua berfokus pada komersialisasi, menandakan bahwa Korea Selatan serius menjadikan CBDC sebagai infrastruktur pembayaran riil.
Proyek Hangang menggunakan model dua tingkat: BOK menerbitkan CBDC wholesale berbasis blockchain sebagai aset penyelesaian, sementara bank komersial menerbitkan deposit token yang dapat digunakan konsumen untuk pembayaran sehari-hari. Pendekatan ini mirip dengan model yang sedang dipertimbangkan oleh banyak bank sentral, termasuk Bank Indonesia. Keberhasilan fase pertama yang melibatkan ribuan pengguna nyata membuktikan bahwa model ini secara teknis layak dan dapat diterima pasar. Fase kedua yang menguji penyaluran subsidi juga menambah dimensi kebijakan fiskal — potensi efisiensi dan transparansi yang lebih tinggi dibandingkan sistem transfer tunai konvensional. Bagi Indonesia, perkembangan ini sangat relevan karena Bank Indonesia tengah mengembangkan rupiah digital (CBDC).
Meskipun BI belum mengumumkan jadwal uji coba publik, model dua tingkat yang digunakan Korea Selatan memberikan cetak biru yang bisa diadopsi. Uji coba penyaluran subsidi juga dapat menjadi referensi bagi program bantuan sosial Indonesia yang saat ini masih menghadapi tantangan inklusi dan kebocoran. Namun, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda: tingkat inklusi keuangan lebih rendah, infrastruktur digital belum merata, dan basis pengguna kripto lebih besar. Ini berarti adaptasi model Korea perlu disesuaikan dengan konteks lokal.
Mengapa Ini Penting
Uji coba CBDC Korea Selatan — negara dengan ekosistem digital maju — menjadi barometer kredibilitas model dua tingkat yang juga diadopsi oleh banyak bank sentral, termasuk Bank Indonesia. Keberhasilan atau kegagalan fase kedua ini akan memengaruhi keputusan BI dalam merancang arsitektur rupiah digital, termasuk pilihan teknologi, skema kemitraan dengan bank, dan mekanisme penyaluran subsidi. Selain itu, uji coba ini membuka peluang bagi perusahaan teknologi finansial Indonesia untuk mulai mengembangkan solusi berbasis tokenized deposit yang bisa diintegrasikan dengan CBDC di masa depan.
Dampak ke Bisnis
- Bagi Bank Indonesia dan regulator: hasil uji coba ini menjadi referensi teknis dan kebijakan untuk mempercepat desain rupiah digital, terutama dalam aspek interoperabilitas, keamanan, dan model bisnis yang melibatkan bank komersial.
- Bagi perbankan nasional: bank-bank besar seperti BCA, Mandiri, dan BRI perlu mulai mempersiapkan infrastruktur tokenisasi dan blockchain untuk mengantisipasi integrasi dengan digital rupiah — investasi IT yang bisa mencapai miliaran rupiah.
- Bagi startup fintech dan perusahaan pembayaran: munculnya deposit token membuka peluang baru di bidang dompet digital, pembayaran merchant, dan layanan value-added. Namun, juga meningkatkan persaingan karena bank bisa mengeluarkan token sendiri tanpa perantara fintech.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman resmi Bank Indonesia mengenai timeline uji coba digital rupiah — apakah ada percepatan setelah kesuksesan Korea Selatan.
- Risiko yang perlu dicermati: jika BOK menghadapi masalah teknis atau keamanan pada fase kedua, sentimen terhadap CBDC global bisa memburuk, mempengaruhi kepercayaan investor terhadap proyek serupa di Indonesia.
- Sinyal penting: respons saham bank-bank Korea yang terlibat dalam pilot — jika ada sentimen positif, bisa mendorong valuasi sektor perbankan di Indonesia yang dianggap akan menjadi penerbit deposit token utama.
Konteks Indonesia
Bank Indonesia saat ini tengah mengembangkan rupiah digital sebagai alat pembayaran digital yang sah. Model dua tingkat — di mana bank sentral menerbitkan CBDC wholesale dan bank komersial menerbitkan deposit token — merupakan jalur yang paling mungkin diadopsi. Uji coba Korea Selatan memberikan pelajaran berharga tentang aspek teknologi, regulasi, dan adopsi pengguna. Namun, Indonesia menghadapi tantangan berbeda: tingkat penetrasi internet yang tidak merata dan preferensi masyarakat terhadap uang tunai yang masih tinggi. Meski begitu, pengalaman BOK dapat membantu BI memitigasi risiko dan mempercepat proses pengembangan.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.