Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

14 MEI 2026
Bank Malware Global: Vx-underground 30 TB, VirusTotal 31 PB — Setara 2,5 Menara Eiffel

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Bank Malware Global: Vx-underground 30 TB, VirusTotal 31 PB — Setara 2,5 Menara Eiffel
Teknologi

Bank Malware Global: Vx-underground 30 TB, VirusTotal 31 PB — Setara 2,5 Menara Eiffel

Tim Redaksi Feedberry ·13 Mei 2026 pukul 18.12 · Sinyal rendah · Confidence 3/10 · Sumber: TechCrunch ↗
4 Skor

Berita bersifat konten ringan dan visual, bukan peristiwa keamanan siber baru. Dampak ke Indonesia tidak langsung, namun relevan untuk perusahaan yang bergantung pada deteksi malware dan keamanan data.

Urgensi
3
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: kebijakan akses VirusTotal dan vx-underground — jika ada perubahan model bisnis (misal: berbayar untuk API), biaya operasional keamanan siber perusahaan Indonesia bisa naik.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: potensi pembatasan akses repositori malware oleh regulator negara maju — perusahaan Indonesia yang bergantung pada data global untuk deteksi ancaman bisa kehilangan sumber daya kritis.
  • 3 Sinyal penting: pertumbuhan volume data malware global — jika tren eksponensial berlanjut, biaya penyimpanan dan pemrosesan untuk deteksi ancaman akan menjadi beban signifikan bagi perusahaan keamanan siber di Indonesia.

Ringkasan Eksekutif

Artikel TechCrunch ini tidak melaporkan insiden keamanan siber baru, melainkan menyajikan perbandingan visual ukuran repositori malware terbesar di dunia. Vx-underground, kelompok riset malware yang mengklaim memiliki koleksi kode sumber malware terbesar, menyimpan sekitar 30 terabyte data. Sementara itu, VirusTotal — layanan pemindaian file milik Google yang mengagregasi hasil deteksi dari puluhan mesin antivirus — memiliki sekitar 31 petabyte sampel malware yang dikontribusikan penggunanya. Satu petabyte setara dengan sekitar 1.000 terabyte, sehingga koleksi VirusTotal lebih dari 1.000 kali lipat lebih besar dari milik vx-underground. Untuk memberikan gambaran fisik, artikel ini melakukan perhitungan kasar: jika menggunakan hard drive internal standar 3,5 inci berkapasitas 1 terabyte (setebal 1 inci), maka 30 hard drive milik vx-underground akan bertumpuk setinggi 30 inci atau sekitar 2,5 kaki — lebih pendek dari tinggi rata-rata reporter TechCrunch yang 6 kaki. Sementara itu, 31 petabyte VirusTotal setara dengan 31.744 hard drive yang jika ditumpuk mencapai ketinggian 2.645 kaki. Sebagai perbandingan, Burj Khalifa di Dubai — gedung tertinggi di dunia — memiliki tinggi 2.722 kaki, sedikit lebih tinggi. Menara Eiffel di Paris setinggi 1.083 kaki, sehingga koleksi VirusTotal setara dengan sekitar dua setengah Menara Eiffel yang ditumpuk. Artikel ini tidak menyebutkan adanya serangan siber baru, kerentanan yang baru ditemukan, atau perubahan lanskap ancaman. Ini murni konten infografis yang menyoroti skala data yang dikelola oleh dua entitas penting dalam ekosistem keamanan siber global. Baik vx-underground maupun VirusTotal adalah sumber daya kritis bagi perusahaan keamanan siber, peneliti AI, dan firma intelijen ancaman untuk melatih model deteksi dan memahami evolusi serangan. Implikasi bagi Indonesia: meskipun tidak ada dampak langsung, skala data ini mengingatkan bahwa ancaman siber global terus berkembang. Perusahaan Indonesia yang bergantung pada layanan deteksi malware — termasuk yang menggunakan VirusTotal atau platform serupa — perlu memastikan bahwa model deteksi mereka diperbarui secara berkala. Bagi perusahaan teknologi dan startup keamanan siber di Indonesia, repositori semacam ini menjadi aset berharga untuk pengembangan kemampuan deteksi lokal. Tidak ada sinyal urgensi atau perubahan risiko yang perlu direspons segera.

Mengapa Ini Penting

Skala data malware global yang terus membesar — dari 30 TB menjadi 31 PB — menunjukkan bahwa lanskap ancaman siber tidak hanya bertambah volumenya, tetapi juga kompleksitasnya. Bagi perusahaan Indonesia yang sedang mempercepat digitalisasi, ini berarti biaya keamanan siber akan terus naik, dan ketergantungan pada solusi global (seperti VirusTotal) semakin kritis. Perusahaan yang tidak memiliki kapasitas deteksi mandiri akan semakin rentan terhadap serangan yang belum terdeteksi oleh engine antivirus konvensional.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan keamanan siber dan penyedia solusi deteksi ancaman di Indonesia perlu mempertimbangkan akses ke repositori global seperti VirusTotal untuk meningkatkan akurasi deteksi — biaya lisensi atau integrasi API dapat menjadi beban operasional baru.
  • Startup dan perusahaan teknologi Indonesia yang mengembangkan model deteksi malware berbasis AI membutuhkan dataset besar untuk pelatihan — ketergantungan pada repositori global dapat menimbulkan risiko jika akses dibatasi atau dikenai biaya.
  • Perusahaan non-teknologi yang menggunakan layanan keamanan siber pihak ketiga (managed security service provider) perlu memastikan bahwa vendor mereka memiliki akses ke dataset ancaman terkini — jika tidak, perlindungan terhadap malware baru bisa tertinggal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kebijakan akses VirusTotal dan vx-underground — jika ada perubahan model bisnis (misal: berbayar untuk API), biaya operasional keamanan siber perusahaan Indonesia bisa naik.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi pembatasan akses repositori malware oleh regulator negara maju — perusahaan Indonesia yang bergantung pada data global untuk deteksi ancaman bisa kehilangan sumber daya kritis.
  • Sinyal penting: pertumbuhan volume data malware global — jika tren eksponensial berlanjut, biaya penyimpanan dan pemrosesan untuk deteksi ancaman akan menjadi beban signifikan bagi perusahaan keamanan siber di Indonesia.

Konteks Indonesia

Meskipun artikel ini tidak menyebut Indonesia secara langsung, data ini relevan karena Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat serangan siber tertinggi di Asia Tenggara. Perusahaan Indonesia yang menggunakan layanan VirusTotal atau platform serupa untuk memindai file dan email bergantung pada kualitas dataset yang dimiliki platform tersebut. Semakin besar dan beragam dataset, semakin tinggi probabilitas deteksi malware baru — termasuk yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia. Bagi perusahaan teknologi dan startup keamanan siber lokal, akses ke repositori global menjadi faktor pembeda dalam kemampuan deteksi versus kompetitor yang hanya mengandalkan signature-based detection.

Konteks Indonesia

Meskipun artikel ini tidak menyebut Indonesia secara langsung, data ini relevan karena Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat serangan siber tertinggi di Asia Tenggara. Perusahaan Indonesia yang menggunakan layanan VirusTotal atau platform serupa untuk memindai file dan email bergantung pada kualitas dataset yang dimiliki platform tersebut. Semakin besar dan beragam dataset, semakin tinggi probabilitas deteksi malware baru — termasuk yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia. Bagi perusahaan teknologi dan startup keamanan siber lokal, akses ke repositori global menjadi faktor pembeda dalam kemampuan deteksi versus kompetitor yang hanya mengandalkan signature-based detection.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.