Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

7 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

APINDO Peringatkan Risiko Inflasi Pangan Baru dari Impor Gandum via BUMN

Foto: Kontan — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Kebijakan / APINDO Peringatkan Risiko Inflasi Pangan Baru dari Impor Gandum via BUMN
Kebijakan

APINDO Peringatkan Risiko Inflasi Pangan Baru dari Impor Gandum via BUMN

Tim Redaksi Feedberry ·4 Mei 2026 pukul 11.48 · Confidence 5/10 · Sumber: Kontan ↗
Feedberry Score
8 / 10

Kebijakan impor gandum pakan via BUMN berpotensi langsung menaikkan biaya pakan, yang dominan dalam biaya produksi peternakan, sehingga berisiko memicu inflasi pangan baru dan menekan margin industri hilir secara luas.

Urgensi 7
Luas Dampak 8
Dampak Indonesia 9

Ringkasan Eksekutif

APINDO menyoroti potensi kenaikan harga pakan ternak akibat kebijakan impor gandum pakan yang diarahkan melalui BUMN berdasarkan Permendag 11/2026. Wakil Ketua APINDO, Chandra Wahjudi, menyatakan bahwa jika harga yang ditawarkan BUMN tidak kompetitif, kebijakan ini berpotensi menaikkan harga pangan, memperbesar inflasi, serta menekan margin industri pakan dan peternakan. Data yang dihimpun Kontan menunjukkan harga gandum pakan melalui skema tersebut mencapai sekitar US$ 370–375 per ton, lebih tinggi dibandingkan impor langsung oleh pelaku usaha yang berkisar US$ 270 per ton. Selisih harga ini berpotensi menggerus margin industri pakan dan berdampak pada kenaikan harga produk turunan seperti daging ayam, telur, daging sapi, hingga ikan. Kondisi ini menambah tekanan inflasi pangan di tengah daya beli rumah tangga yang masih rapuh.

Kenapa Ini Penting

Kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas harga justru berpotensi menciptakan distorsi harga baru di sektor hulu pakan. Mengingat biaya pakan menyumbang lebih dari 50–65% dari total biaya produksi peternakan, kenaikan harga bahan baku impor akan langsung mendorong kenaikan harga protein hewani yang dikonsumsi masyarakat luas. Ini menjadi risiko inflasi pangan baru yang dapat memperburuk daya beli rumah tangga berpendapatan rendah dan membatasi ruang BI untuk melonggarkan suku bunga.

Dampak Bisnis

  • Industri pakan dan peternakan: Margin tertekan langsung akibat selisih harga gandum pakan US$ 100–105 per ton antara skema BUMN dan impor langsung. Pelaku usaha skala kecil dan menengah yang tidak memiliki akses impor mandiri akan paling terpukul.
  • Konsumen rumah tangga: Kenaikan biaya pakan akan diteruskan ke harga daging ayam, telur, daging sapi, dan ikan. Inflasi pangan yang meningkat akan menekan daya beli, terutama kelompok berpendapatan rendah yang menghabiskan proporsi lebih besar untuk pangan.
  • Emiten peternakan dan pakan di BEI: Perusahaan seperti CPIN, JPFA, MAIN, dan lainnya yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya. Jika selisih harga tidak dapat sepenuhnya dibebankan ke konsumen, margin laba bersih berpotensi menyempit dalam laporan keuangan kuartal mendatang.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: Harga gandum pakan aktual yang ditetapkan BUMN — apakah selisih dengan harga pasar impor langsung dapat ditekan melalui efisiensi atau subsidi silang.
  • Risiko yang perlu dicermati: Respons pelaku industri pakan dan peternakan — apakah akan ada penurunan produksi, efisiensi tenaga kerja, atau aksi mogok yang dapat mengganggu pasokan protein hewani nasional.
  • Sinyal penting: Data inflasi pangan bulanan BPS dan harga pangan harian Bapanas — kenaikan harga daging ayam, telur, atau daging sapi akan menjadi indikator awal transmisi kebijakan ini ke konsumen.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.