Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

12 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Beranda / Pasar / Penundaan Kenaikan Royalti Tambang Dorong Saham ANTM dan Emiten Lain, IHSG Terbantu
Pasar

Penundaan Kenaikan Royalti Tambang Dorong Saham ANTM dan Emiten Lain, IHSG Terbantu

Tim Redaksi Feedberry ·11 Mei 2026 pukul 16.11 · Sinyal tinggi · Sumber: Feedberry ↗
Feedberry Score
6.5 / 10

Ringkasan Eksekutif

Kenaikan tarif royalti untuk komoditas tambang ditunda, mendorong saham ANTM naik 1,9% dan ikut mendongkrak IHSG di tengah optimisme sektor basic materials.

Fakta Kunci

Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) ditutup menguat 1,9% pada Senin, 11 Mei 2026, di level Rp 3.630 per saham. Pergerakan ini sejalan dengan lonjakan saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang melesat 11% menjadi Rp 6.025, serta emiten tambang lain seperti MBMA (+6%), TINS (+4,3%), dan NCKL (+3,4%). Kenaikan tersebut dipicu oleh pengumuman Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa rencana kenaikan tarif royalti untuk tembaga, timah, nikel, emas, dan perak ditunda tanpa batas waktu. ANTM, yang memiliki portofolio terdiversifikasi di nikel, emas, dan bauksit, mencatat kapitalisasi pasar Rp 87,23 triliun dengan rasio PER 25,62 kali dan PBV 2,25 kali.

Transmisi Dampak

Penundaan kenaikan royalti memberikan dampak langsung pada struktur biaya emiten pertambangan. Royalti merupakan beban operasional yang dibayarkan ke pemerintah — jika dinaikkan, margin keuntungan bersih perusahaan akan tergerus. Dengan ditundanya kebijakan ini, ekspektasi beban tambahan dalam jangka pendek sirna, sehingga investor merevisi naik proyeksi laba bersih ANTM dan emiten lain. Katalis ini memperkuat sentimen positif di sektor basic materials, yang selama ini tertekan oleh kekhawatiran kebijakan fiskal kontraktif. Meski suku bunga acuan BI dan nilai tukar USD/IDR tidak berubah signifikan pada hari yang sama, momentum ini mengurangi tekanan pada margin eksportir tambang yang pendapatannya dalam dolar AS.

Konteks Pasar

IHSG ditutup pada level 6.905,6, dengan sektor basic materials menjadi salah satu kontributor utama penguatan. Saham ANTM yang naik 1,9% berperan dalam mendorong indeks sektoral, meskipun tidak sekuat INCO yang melesat 11%. Perbandingan kinerja menunjukkan ANTM belum menjadi favorit utama karena valuasi PER-nya yang relatif tinggi (25,62x) dibanding TINS (PER lebih rendah) atau INCO yang mendapat momentum spekulatif lebih besar. Namun, ANTM tetap menarik sebagai emiten dengan ROE 19,70% dan dividend yield 4,11% — kombinasi yang jarang ditemui di sektor tambang. Pelaku pasar perlu mencermati bahwa data USD/IDR tidak tersedia dalam konteks ini, sehingga risiko kurs belum terukur secara langsung.

Yang Harus Dipantau

Pertama, pantau pengumuman lanjutan dari Kementerian ESDM terkait jadwal baru implementasi kenaikan royalti — jika ditunda hingga kuartal III/2026, reli dapat berlanjut; sebaliknya, percepatan akan membalikkan sentimen. Kedua, perhatikan rilis data neraca perdagangan Indonesia untuk Mei 2026 pada akhir bulan, yang akan memengaruhi ekspektasi terhadap ekspor komoditas ANTM. Ketiga, risalah rapat Bank Indonesia pada akhir Mei dapat memberikan sinyal tentang arah suku bunga — penurunan suku bunga akan mengurangi biaya pendanaan dan meningkatkan daya tarik saham berbasis komoditas.

Strategic Insight

Penundaan kenaikan royalti menandai perubahan struktural dalam kebijakan fiskal sektor tambang Indonesia. Dalam jangka menengah (1-6 bulan), ini mengurangi ketidakpastian regulasi yang selama ini menjadi diskon valuasi bagi emiten seperti ANTM. Namun, investor harus mewaspadai bahwa kelonggaran fiskal ini bersifat sementara — pemerintah masih membutuhkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) untuk menambal defisit APBN. Implikasi strategisnya: ANTM memiliki fleksibilitas lebih untuk mengalokasikan arus kas ke belanja modal ekspansi nikel dan emas, yang dapat meningkatkan volume produksi pada 2027. Meski demikian, risiko harga komoditas global — terutama nikel yang terkait dengan perlambatan industri baterai China — tetap menjadi faktor dominan yang melampaui sentimen regulasi. Pergerakan ke depannya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kebijakan domestik yang akomodatif dan tekanan eksternal dari pasar komoditas global.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.