21 JUL 2026
Allbridge Core Kena Exploit $1,65 Juta — Gelombang Peretasan DeFi 2026 Terus Berlanjut

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Allbridge Core Kena Exploit $1,65 Juta — Gelombang Peretasan DeFi 2026 Terus Berlanjut
Forex & Crypto

Allbridge Core Kena Exploit $1,65 Juta — Gelombang Peretasan DeFi 2026 Terus Berlanjut

Tim Redaksi Feedberry ·20 Juli 2026 pukul 02.23 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.7 Skor

Exploit lintas rantai yang berulang memperkuat sentimen risk-off di ekosistem kripto global; Indonesia sebagai salah satu pasar kripto ritel terbesar di Asia Tenggara akan terdampak langsung melalui penurunan volume perdagangan dan tekanan pada IHSG.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Protokol Allbridge Core, sebuah jembatan lintas rantai (cross-chain bridge), kembali menjadi korban exploit setelah seorang penyerang memanipulasi nilai tukar stablecoin di pool-nya dan menguras dana sebesar USD 1,65 juta. Berdasarkan laporan dari Lookonchain dan Onchain Lens, penyerang menggunakan pinjaman kilat (flash loan) sebesar USD 1,12 juta USDC dari platform Kamino, lalu melakukan serangkaian swap cepat USDC/USDT yang mendistorsi nilai tukar pool Allbridge Core. Setelah itu, penyerang menarik likuiditas pada nilai yang telah dimanipulasi, membayar kembali pinjaman USD 1,12 juta, dan menyimpan selisihnya sebagai keuntungan. Allbridge Core mengakui bahwa ketidakseimbangan pool menciptakan celah arbitrase positif yang bersifat sementara. Timnya meminta pihak yang memanfaatkan celah tersebut untuk mengembalikan dana guna kompensasi penyedia likuiditas yang terdampak.

Ini bukan pertama kalinya Allbridge Core mengalami exploit serupa. Pada April 2023, protokol yang sama kehilangan USD 573.000 akibat serangan flash loan di jaringan BNB Chain. Saat itu, penyerang bertindak ganda sebagai penyedia likuiditas dan penukar, mengeksploitasi kelemahan pada kontrak pintar yang memungkinkan manipulasi harga swap. Pola serangan ini — memanfaatkan flash loan dan distorsi harga pool — menunjukkan bahwa kerentanan struktural pada mekanisme penetapan harga di protokol DeFi belum sepenuhnya terselesaikan. Dalam konteks yang lebih luas, exploit Allbridge Core terjadi di tengah gelombang besar peretasan DeFi pada 2026. Data dari CryptoRank yang dikutip di artikel terkait menunjukkan bahwa kuartal kedua 2026 mencatat rekor jumlah serangan sebanyak 83 kejadian, dengan total kerugian mencapai USD 755 juta.

Serangan pada jembatan lintas rantai sendiri menyumbang USD 351 juta, sementara manipulasi harga token palsu dan serangan administrator mencapai 37% dari total kerugian kuartalan. Sepanjang 2026, kerugian akibat peretasan DeFi telah mencapai sekitar USD 942 juta. Nilai total yang dikunci (TVL) di DeFi turun drastis sebesar 39% dari USD 115 miliar pada Januari menjadi sekitar USD 70 miliar pada Juni. Erosi kepercayaan ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem aset digital secara global. Bagi Indonesia, berita ini memiliki relevansi langsung karena besarnya basis investor ritel kripto di dalam negeri. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Reku, dan Pintu mencatat volume transaksi yang signifikan, sehingga sentimen negatif dari exploit berulang dapat memicu aksi jual aset digital dan menekan volume perdagangan.

Lebih jauh lagi, sentimen risk-off di pasar kripto global cenderung merembet ke IHSG, terutama pada saham-saham teknologi dan perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem blockchain. Dalam kondisi rupiah yang berada di level Rp17.939 per dolar AS dan IHSG di kisaran 6.229, tekanan tambahan dari arus keluar modal asing dapat memperlemah pasar keuangan domestik. Regulator domestik — Bappebti dan OJK — kemungkinan akan memperketat pengawasan terhadap platform yang memfasilitasi akses ke protokol DeFi asing guna melindungi investor ritel Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini bukan sekadar berita kriminal siber biasa — ini adalah bukti bahwa kerentanan struktural pada protokol DeFi lintas rantai masih menjadi titik lemah yang belum terselesaikan. Bagi investor kripto Indonesia yang banyak berpartisipasi di bursa lokal, setiap exploit baru memperkuat persepsi risiko dan dapat memicu aksi jual berantai yang berdampak pada likuiditas pasar domestik. Tekanan sentimen ini juga berpotensi menular ke pasar saham melalui korelasi risk-on/risk-off global, mengingat IHSG saat ini sudah berada di level yang rentan terhadap arus modal asing.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan kepercayaan investor ritel Indonesia terhadap keamanan aset digital akan menekan volume perdagangan di exchange lokal (Tokocrypto, Reku, Pintu) dan memicu aksi jual pada aset kripto yang banyak dipegang seperti Bitcoin, Ethereum, dan Cardano, sehingga mengurangi pendapatan dari biaya transaksi bursa.
  • Sentimen risk-off di kripto dapat merembet ke IHSG melalui tekanan pada saham sektor teknologi dan emiten yang memiliki eksposur ke ekosistem blockchain (misal emiten dengan anak usaha fintech atau aset digital). Korelasi antara pergerakan Bitcoin dan IHSG dalam jangka pendek kerap terlihat saat terjadi goncangan sentimen global.
  • OJK dan Bappebti kemungkinan akan mempercepat penyusunan regulasi yang membatasi akses investor Indonesia ke protokol DeFi asing guna menekan risiko kerugian. Hal ini dapat menambah biaya kepatuhan (compliance cost) bagi platform lokal yang menyediakan layanan terkait, serta mengurangi variasi produk investasi yang tersedia bagi pengguna.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons harga Bitcoin dan Ethereum dalam 1–2 pekan ke depan — jika Bitcoin turun di bawah USD 60.000, sentimen risk-off dapat memicu pelemahan lebih lanjut di pasar saham Indonesia dan tekanan outflow asing dari IHSG.
  • Risiko yang perlu dicermati: kemungkinan terjadinya exploit berikutnya — mengingat frekuensi serangan yang sangat tinggi (83 insiden di Q2 2026), satu kerentanan baru lagi dapat memicu aksi jual panik global yang berdampak pada arus modal masuk ke Indonesia sebagai emerging market.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Bappebti atau OJK terkait langkah pengamanan aset digital — jika regulator mengeluarkan imbauan keras atau pembatasan akses ke DeFi, volume transaksi kripto Indonesia bisa turun drastis dalam hitungan hari.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki basis investor kripto ritel yang sangat aktif, dengan exchange lokal seperti Tokocrypto, Reku, dan Pintu menjadi pintu masuk utama bagi aset digital. Sentimen bearish di pasar kripto global, termasuk akibat exploit pada protokol DeFi lintas rantai, cenderung menular ke pasar domestik melalui aksi jual dan penurunan volume perdagangan. IHSG saat ini berada di level 6.229 dan USD/IDR di Rp17.939 — level yang sensitif terhadap arus modal asing. Tekanan tambahan dari sentimen risk-off kripto dapat memperlemah rupiah dan memicu aksi jual pada saham-saham terdepan, terutama di sektor teknologi dan properti yang bergantung pada likuiditas asing. Regulator domestik, Bappebti dan OJK, telah menunjukkan kecenderungan untuk memperketat pengawasan terhadap aset digital pasca-insiden keamanan besar, sehingga exploit ini dapat mempercepat penerbitan regulasi yang lebih ketat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.