Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

12 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Beranda / Pasar / MNC Sekuritas Rekomendasikan Buy on Weakness AADI di Tengah Proyeksi IHSG Melemah ke 6.892-7.095
Pasar

MNC Sekuritas Rekomendasikan Buy on Weakness AADI di Tengah Proyeksi IHSG Melemah ke 6.892-7.095

Tim Redaksi Feedberry ·11 Mei 2026 pukul 16.01 · Sinyal menengah · Sumber: Feedberry ↗
Feedberry Score
6.5 / 10

Ringkasan Eksekutif

MNC Sekuritas merekomendasikan akumulasi AADI pada rentang Rp9.275-9.425 seiring proyeksi IHSG melemah ke 6.892-7.095 karena kekhawatiran kenaikan royalti batu bara.

Fakta Kunci

MNC Sekuritas mengeluarkan rekomendasi buy-on-weakness untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada rentang harga Rp9.275–Rp9.425. Rekomendasi ini muncul saat IHSG diproyeksikan bergerak melemah dalam rentang 6.892–7.095. Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran terhadap rencana kenaikan royalti batu bara yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah terkait. AADI saat ini diperdagangkan di Rp9.425 dengan kapitalisasi pasar Rp73,39 triliun. Valuasi saham menunjukkan PER 6,25x, PBV 1,24x, ROE 20,83%, dan dividend yield 5,11%, yang mencerminkan fundamental solid di sektor energi.

Transmisi Dampak

Kekhawatiran kenaikan royalti batu bara menjadi katalis negatif yang mempengaruhi prospek laba emiten batu bara seperti AADI. Jika royalti naik, margin operasional emiten akan tertekan karena beban pajak dan pungutan meningkat. Dalam rantai dampak, sentimen ini menekan harga saham sektor energi di bursa, termasuk AADI, yang memicu aksi jual. Namun, rekomendasi buy-on-weakness dari MNC Sekuritas mengindikasikan bahwa pada level harga diskon tersebut, risiko sudah diperhitungkan dan potensi pemulihan tetap ada seiring dengan ekspektasi harga batu bara yang stabil dan efisiensi biaya AADI. Mekanisme transmisi ini terkait erat dengan pergerakan IHSG yang sudah berada di zona rentan, di mana aksi wait-and-see investor terhadap kebijakan fiskal menjadi dominan.

Konteks Pasar

IHSG saat ini berada di level 6.905,6, berada di ujung bawah rentang proyeksi melemah 6.892–7.095. Sektor energi menjadi salah satu sektor yang tertekan karena isu regulasi royalti. Dalam konteks ini, AADI dengan ROE 20,83% dan dividend yield 5,11% menawarkan daya tarik bagi investor value, meski di tengah tekanan. Dibandingkan dengan emiten batu bara lain, AADI memiliki valuasi PER yang rendah (6,25x) yang bisa menjadi bantalan jika fundamental perusahaan tetap solid. Pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga tinggi dan tekanan USD/IDR, meskipun data kurs belum disebutkan. Investor cenderung beralih ke saham defensif atau berdiskonto tinggi seperti AADI untuk meminimalkan risiko.

Yang Harus Dipantau

  1. Pantau perkembangan Peraturan Pemerintah tentang kenaikan royalti batu bara yang bisa dirilis dalam waktu dekat — positif jika tarif tidak naik signifikan, negatif jika kenaikan di atas 5%. 2) Rilis data inflasi Indonesia bulan ini dan keputusan suku bunga BI akan mempengaruhi IHSG dan minat investor ke sektor energi. 3) Musim laporan keuangan Q2 2025 akan menjadi katalis utama — jika AADI mampu menjaga ROE di atas 20%, sentimen bisa berbalik positif.

Strategic Insight

Rekomendasi buy-on-weakness AADI mencerminkan fenomena rotasi modal ke saham dengan fundamental kuat di tengah ketidakpastian regulasi. Jangka menengah 1-6 bulan, sektor batu bara menghadapi tekanan struktural dari kebijakan fiskal dan transisi energi. Namun, AADI memiliki keunggulan efisiensi operasional yang tercermin dari ROE 20,83% dan dividend yield 5,11% — angka yang lebih baik dari rata-rata sektor. Investor institusi cenderung memanfaatkan koreksi untuk mengakumulasi posisi karena valuasi PER di bawah 7x dianggap murah untuk emiten dengan profitabilitas tinggi. Perubahan fundamental yang perlu dicermati adalah potensi perubahan struktur biaya akibat kenaikan royalti yang bisa menurunkan margin laba bersih. Jika hal ini terjadi, support level harga bisa bergeser ke bawah Rp9.000. Sebaliknya, jika kebijakan tetap longgar, AADI berpotensi menjadi pemimpin rebound di sektor energi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.