Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
10% Warga AS Pakai Kripto di 2025, Tertinggi Sejak 2022 — Fed

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / 10% Warga AS Pakai Kripto di 2025, Tertinggi Sejak 2022 — Fed
Forex & Crypto

10% Warga AS Pakai Kripto di 2025, Tertinggi Sejak 2022 — Fed

Tim Redaksi Feedberry ·19 Mei 2026 pukul 05.13 · Sinyal menengah · Confidence 3/10 · Sumber: Cointelegraph ↗
5 Skor

Adopsi kripto di AS meningkat, namun dampak langsung ke Indonesia terbatas pada sentimen risk-on/off dan regulasi — urgensi rendah karena data historis, bukan peristiwa mendadak.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
6

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Kevin Warsh setelah resmi menjabat sebagai Ketua Fed — apakah ia akan mendorong regulasi kripto yang lebih longgar atau justru memperketat pengawasan.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika Fed di bawah Warsh mengadopsi sikap hawkish terhadap moneter (suku bunga tinggi lebih lama) namun longgar terhadap kripto, ini bisa menciptakan tekanan ganda bagi Indonesia: dolar kuat menekan rupiah, sementara kripto yang rally menarik modal keluar dari pasar saham Indonesia.
  • 3 Sinyal penting: perkembangan regulasi kripto di AS, terutama dari SEC dan CFTC — jika ada kerangka regulasi yang jelas untuk stablecoin dan pembayaran kripto, ini akan menjadi acuan bagi Bappebti dan OJK dalam menyusun regulasi serupa di Indonesia.

Ringkasan Eksekutif

Survei Federal Reserve AS menunjukkan sekitar 10% orang dewasa Amerika menggunakan mata uang kripto pada 2025, level tertinggi sejak 2022. Dari jumlah tersebut, 9% menggunakannya sebagai instrumen investasi, 2% untuk pembayaran, dan 1% untuk mengirim uang ke keluarga atau teman. Fakta menarik: lebih dari 25% pengguna kripto untuk pembayaran melakukannya karena bisnis yang mereka tuju lebih memilih pembayaran kripto, dengan alasan kecepatan, privasi, dan biaya lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa adopsi kripto di sisi merchant mulai mendorong permintaan dari konsumen, bukan sebaliknya. Penggunaan kripto secara signifikan lebih tinggi di kalangan warga yang tidak memiliki rekening bank (unbanked), dengan 6% menggunakan kripto untuk transaksi dibandingkan 2% dari warga yang memiliki rekening bank. Sekitar 6% warga AS masih unbanked pada 2025, yang berarti kripto mulai berfungsi sebagai alternatif sistem keuangan tradisional bagi kelompok marjinal. Kurang dari 10% bisnis yang lebih memilih kripto melakukannya karena alasan keamanan atau ketidakpercayaan terhadap sistem perbankan tradisional — artinya preferensi bisnis lebih didorong oleh efisiensi operasional daripada ideologi anti-bank. Dari sisi regulasi, The Fed di bawah kepemimpinan Jerome Powell yang baru saja berakhir mengambil sikap hati-hati terhadap kripto. Powell digantikan oleh Kevin Warsh, yang memiliki pandangan lebih positif terhadap Bitcoin. Warsh sebelumnya menyatakan bahwa Bitcoin bisa 'memberikan disiplin pasar' dan menyamakannya dengan emas sebagai investasi bagi mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Namun Warsh juga dikenal sebagai sosok hawkish dalam kebijakan moneter, menekankan pengendalian fiskal dan inflasi rendah. Implikasi bagi Indonesia: peningkatan adopsi kripto di AS memperkuat tren global yang sudah berlangsung, namun dampak langsung ke Indonesia lebih bersifat tidak langsung. Pertama, sentimen risk-on/off global yang dipengaruhi pergerakan Bitcoin dapat memengaruhi arus modal ke emerging market termasuk Indonesia. Kedua, perubahan kepemimpinan Fed ke arah yang lebih pro-kripto bisa mendorong regulasi yang lebih jelas di AS, yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan Bappebti dan OJK di Indonesia. Ketiga, peningkatan adopsi kripto untuk pembayaran di AS bisa menjadi preseden bagi pengembangan sistem pembayaran berbasis blockchain di Indonesia, termasuk potensi integrasi dengan Rupiah Digital BI. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah pernyataan resmi Kevin Warsh terkait kripto setelah resmi menjabat, serta respons regulator AS terhadap pertumbuhan adopsi ini. Juga, perkembangan regulasi kripto di AS akan menjadi acuan bagi Bappebti dan OJK dalam menyusun kerangka regulasi aset digital di Indonesia. Sinyal penting adalah apakah Warsh akan mendorong regulasi yang lebih longgar atau justru memperketat pengawasan — ini akan menentukan arah pasar kripto global dan dampaknya ke Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Adopsi kripto di AS yang meningkat, terutama untuk pembayaran, menandakan pergeseran struktural dari kripto sebagai aset spekulatif menjadi alat transaksi riil. Bagi Indonesia, ini berarti tekanan regulasi domestik akan semakin relevan — jika AS bergerak ke arah regulasi yang lebih jelas dan akomodatif, Indonesia berisiko tertinggal dalam menarik investasi blockchain dan fintech. Di sisi lain, jika Warsh mempertahankan sikap hawkish terhadap moneter namun longgar terhadap kripto, ini bisa menciptakan divergensi kebijakan yang unik.

Dampak ke Bisnis

  • Exchange kripto lokal seperti Tokocrypto dan Indodax akan terpengaruh oleh sentimen global — jika adopsi di AS mendorong harga Bitcoin naik, volume perdagangan di Indonesia bisa meningkat. Sebaliknya, jika regulasi AS justru memperketat akses, sentimen negatif bisa menekan volume.
  • Startup blockchain dan fintech Indonesia yang mengembangkan solusi pembayaran berbasis kripto atau stablecoin akan mendapat angin segar dari preseden adopsi merchant di AS. Namun, mereka tetap menghadapi ketidakpastian regulasi Bappebti dan OJK yang belum sejelas AS.
  • Bank dan perusahaan pembayaran tradisional di Indonesia perlu mencermati tren ini — jika adopsi kripto untuk pembayaran terus tumbuh, mereka bisa kehilangan pangsa pasar transaksi ritel, terutama dari segmen unbanked yang mulai beralih ke kripto.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Kevin Warsh setelah resmi menjabat sebagai Ketua Fed — apakah ia akan mendorong regulasi kripto yang lebih longgar atau justru memperketat pengawasan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika Fed di bawah Warsh mengadopsi sikap hawkish terhadap moneter (suku bunga tinggi lebih lama) namun longgar terhadap kripto, ini bisa menciptakan tekanan ganda bagi Indonesia: dolar kuat menekan rupiah, sementara kripto yang rally menarik modal keluar dari pasar saham Indonesia.
  • Sinyal penting: perkembangan regulasi kripto di AS, terutama dari SEC dan CFTC — jika ada kerangka regulasi yang jelas untuk stablecoin dan pembayaran kripto, ini akan menjadi acuan bagi Bappebti dan OJK dalam menyusun regulasi serupa di Indonesia.

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, peningkatan adopsi kripto di AS memiliki dampak tidak langsung namun signifikan. Pertama, sentimen risk-on/off global yang dipengaruhi pergerakan Bitcoin dapat memengaruhi arus modal ke emerging market termasuk Indonesia — ketika Bitcoin rally, investor cenderung lebih berani mengambil risiko, yang bisa mendorong inflow ke IHSG dan SBN. Kedua, perubahan kepemimpinan Fed ke arah yang lebih pro-kripto bisa mendorong regulasi yang lebih jelas di AS, yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan Bappebti dan OJK di Indonesia — jika AS bergerak cepat, Indonesia berisiko tertinggal dalam menarik investasi blockchain. Ketiga, peningkatan adopsi kripto untuk pembayaran di AS bisa menjadi preseden bagi pengembangan sistem pembayaran berbasis blockchain di Indonesia, termasuk potensi integrasi dengan Rupiah Digital BI yang sedang dikembangkan. Namun, perlu dicatat bahwa pasar kripto Indonesia didominasi investor ritel yang sensitif terhadap volatilitas harga — adopsi untuk pembayaran masih sangat rendah dibandingkan AS.

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, peningkatan adopsi kripto di AS memiliki dampak tidak langsung namun signifikan. Pertama, sentimen risk-on/off global yang dipengaruhi pergerakan Bitcoin dapat memengaruhi arus modal ke emerging market termasuk Indonesia — ketika Bitcoin rally, investor cenderung lebih berani mengambil risiko, yang bisa mendorong inflow ke IHSG dan SBN. Kedua, perubahan kepemimpinan Fed ke arah yang lebih pro-kripto bisa mendorong regulasi yang lebih jelas di AS, yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan Bappebti dan OJK di Indonesia — jika AS bergerak cepat, Indonesia berisiko tertinggal dalam menarik investasi blockchain. Ketiga, peningkatan adopsi kripto untuk pembayaran di AS bisa menjadi preseden bagi pengembangan sistem pembayaran berbasis blockchain di Indonesia, termasuk potensi integrasi dengan Rupiah Digital BI yang sedang dikembangkan. Namun, perlu dicatat bahwa pasar kripto Indonesia didominasi investor ritel yang sensitif terhadap volatilitas harga — adopsi untuk pembayaran masih sangat rendah dibandingkan AS.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.