6 Mei 2026
Skor 4.0
Total Bangun Persada (TOTL) Tebar Dividen Rp375 Miliar, Simak Jadwal Lengkapnya
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp375,1 miliar dari laba tahun buku 2025, setara dengan 90,49% laba bersih Rp414,51 miliar. Setiap saham mendapat Rp110, dengan cum dividen di pasar reguler pada 18 Mei 2026, ex dividen pada 19 Mei, dan recording date 20 Mei. Keputusan ini diambil dalam RUPS yang juga menyetujui perubahan susunan direksi dan komisaris serta penyesuaian Anggaran Dasar terhadap KBLI terbaru.
Payout ratio yang sangat tinggi—hampir seluruh laba dibagikan—menimbulkan pertanyaan tentang strategi alokasi modal TOTL. Di satu sisi, ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap kondisi keuangan perusahaan dan komitmen memberikan imbal hasil langsung kepada pemegang saham. Di sisi lain, sisa laba ditahan yang minim (hanya 9,51% atau sekitar Rp39,4 miliar) membatasi kemampuan perusahaan untuk mendanai ekspansi organik atau investasi baru. Ini menjadi perhatian khusus mengingat sektor konstruksi dan properti saat ini tengah menghadapi tekanan dari tingginya suku bunga acuan dan pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor.
Dampaknya langsung terasa bagi pemegang saham TOTL, terutama investor ritel yang mengandalkan dividen sebagai pendapatan periodik. Namun, bagi investor jangka panjang yang mengharapkan pertumbuhan, dividen yang hampir menguras laba bersih bisa menjadi sinyal terbatasnya prospek investasi baru. Perubahan susunan direksi—dengan Janti Komadjaja tetap sebagai Presiden Direktur dan masuknya beberapa wajah baru—bisa menjadi angin segar, namun belum ada penjelasan strategi bisnis ke depan yang disampaikan secara detail dalam artikel.
Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah reaksi harga saham TOTL setelah ex dividen. Karena dividen besar biasanya diikuti koreksi harga sebesar nilai dividen, potensi tekanan jual jangka pendek perlu diantisipasi. Selain itu, laporan keuangan kuartal I-2026 yang akan dirilis Juni—jika TOTL melaporkan penurunan laba—akan menguji apakah keputusan dividen tinggi ini berkelanjutan. Investor juga perlu mencermati perkembangan sektor properti dan konstruksi secara makro, karena data defisit transaksi berjalan dan APBN yang memburuk bisa memperkuat tekanan pada sektor ini.
Sumber data: IDX