15 Jun 2026
Skor 7.3
Saylor’s Strategy buys 1,587 BTC for $100M, holdings hit 846.8K
Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kembali mengakuisisi 1.587 Bitcoin senilai US$100 juta pekan lalu, dengan harga rata-rata US$63.024 per koin. Langkah ini meningkatkan total kepemilikan perusahaan menjadi 846.842 BTC, yang diakumulasi dengan biaya total US$64,07 miliar atau rata-rata US$75.656 per Bitcoin. Pada harga saat ini sekitar US$66.216, portofolio tersebut bernilai US$56,1 miliar — masih mengalami kerugian kertas sekitar US$8 miliar. Pendanaan berasal dari penjualan 1,73 juta lembar saham biasa Kelas A (MSTR) yang mengumpulkan US$209 juta. Tidak ada aktivitas dari program saham preferen seperti STRC, STRF, STRK, dan STRD.
Konteksnya menarik: pembelian ini terjadi hanya dua pekan setelah Strategy menjual 32 BTC untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun — aksi yang memicu perdebatan pasar. Data pendukung menunjukkan saham preferen STRC diperdagangkan di bawah nilai par US$100 selama empat pekan berturut-turut, menandakan tekanan pada instrumen pendanaan tersebut. Laporan terkait dari CoinDesk mengungkapkan bahwa pasar kripto global tengah dilanda aksi jual besar-besaran: Bitcoin sempat menyentuh bawah US$60.000, arus keluar ETF Bitcoin spot mencapai rekor US$5,1 miliar dalam 15 hari, dan likuidasi leverage mencapai US$7 miliar. Strategi Saylor menambah Bitcoin justru di saat banyak institusi lain menarik diri, menimbulkan interpretasi ganda: apakah ini pembelian di harga murah yang cerdas, atau upaya putus asa untuk mempertahankan narasi?
Dari sisi transmisi ke Indonesia, dampak mengalir terutama melalui kanal sentimen global. Ketika aset berisiko seperti kripto tertekan, investor institusional cenderung menarik dana dari emerging market. Data pasar terkini menunjukkan IHSG masih bertahan di 6.255, namun rupiah sudah berada di level tertekan 17.714 per dolar AS — mendekati level terlemah dalam setahun. Outflow asing dari pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir diperkirakan signifikan, meskipun angka pasti belum terverifikasi. Sektor yang paling rentan adalah saham blue-chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM yang menjadi target aksi jual asing. Emiten dengan utang dolar juga akan menanggung beban ganda dari depresiasi rupiah dan biaya impor yang naik.
Yang perlu dipantau dalam 1–2 pekan ke depan adalah tiga hal. Pertama, kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$60.000 — jika jebol, target US$50.000–US$55.000 akan terbuka dan memicu gelombang risk-off baru. Kedua, apakah Saylor akan mengumumkan pendanaan besar untuk menutup kewajiban dividen preferen — jika tidak, tekanan jual drip (penjualan kecil berulang) akan terus membayangi pasar. Ketiga, data inflasi AS (CPI) yang akan dirilis — jika di atas 4%, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama akan makin menekan aset berisiko global, termasuk kepemilikan asing di Indonesia.
Sumber data: IDX