Direktori Emiten ·IDX
SSIA
Mid CapPT Surya Semesta Internusa Tbk
Infrastructures · Heavy Constructions & Civil Engineering
Analisis terkait SSIA
-
11 Mei 2026 Skor 4.7
Surya Semesta (SSIA) Balik Rugi Jadi Laba Rp 89,01 Miliar di Kuartal I-2026
PT Surya Semesta Internusa (SSIA) membukukan laba bersih Rp89,01 miliar pada kuartal I-2026, berbalik tajam dari rugi Rp21,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan usaha melonjak 35% menjadi Rp1,44 triliun, didorong oleh segmen jasa konstruksi yang menyumbang Rp788,64 miliar serta segmen tanah kawasan industri sebesar Rp406,01 miliar. Kinerja ini menandai pemulihan signifikan bagi emiten properti dan konstruksi yang sebelumnya tertekan oleh perlambatan ekonomi dan suku bunga tinggi. Faktor pendorong utama adalah pertumbuhan di dua lini bisnis inti. Di sektor konstruksi, SSIA mengantongi kontrak baru senilai Rp893 miliar, menunjukkan permintaan proyek infrastruktur dan bangunan masih bergairah. Sementara itu, segmen kawasan industri mencatat marketing sales 8,2 hektare dan accounting sales 20,6 hektare — menandakan aktivitas manufaktur dan investasi asing langsung di kawasan industri terus berlanjut. Segmen hotel juga mencatat kenaikan 59,2% YoY, sejalan dengan pemulihan pariwisata dan perjalanan bisnis pasca-pandemi. Manajemen menegaskan fokus pada penciptaan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham. Meski laba bersih membalik, beberapa indikator keuangan perlu dicermati. Beban langsung naik menjadi Rp994,11 miliar dari Rp870,02 miliar, namun laba bruto tetap melesat 125% YoY menjadi Rp451,87 miliar — mencerminkan perbaikan efisiensi operasional. Di sisi neraca, total aset naik tipis menjadi Rp12,89 triliun dan ekuitas meningkat menjadi Rp8,25 triliun. Namun, kas dan setara kas turun signifikan dari Rp2,19 triliun menjadi Rp1,14 triliun, kemungkinan akibat penarikan untuk modal kerja dan belanja proyek. Likuiditas tetap aman, namun perlu dipantau jika tren penurunan kas berlanjut. Yang perlu dipantau ke depan: (1) kemampuan SSIA mempertahankan perolehan kontrak baru konstruksi di atas Rp800 miliar per kuartal untuk menjaga momentum pertumbuhan; (2) realisasi marketing sales kawasan industri — jika terus di atas 8 hektare per kuartal, itu sinyal kuat permintaan lahan pabrik masih tinggi; (3) margin laba bersih: apakah bisa naik lebih lanjut atau tertekan oleh kenaikan beban langsung dan bunga. Dari sisi eksternal, kebijakan suku bunga BI dan insentif properti pemerintah akan memengaruhi harga jual tanah industri dan hunian. Investor dan pelaku bisnis di sektor properti dan konstruksi dapat menjadikan kinerja SSIA sebagai barometer awal pemulihan sektor riil Indonesia pada 2026.
Sumber data: IDX
-
6 Mei 2026 Skor 5.0
IHSG Sesi I Naik ke Level 7.102, Saham UNVR, TPIA dann COIN Ceria
IHSG ditutup naik 0,65% ke 7.102 pada perdagangan sesi I, Selasa (5/5), didorong oleh kenaikan saham UNVR (+8,84%), TPIA (+7,41%), dan COIN (+7,17%). Meskipun rebound terjadi, indeks masih terkoreksi 17,86% secara year-to-date, mencerminkan tekanan akumulatif sejak awal tahun. Volume transaksi mencapai 22,57 miliar saham dengan nilai Rp10,46 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp12.771 triliun. Secara sektoral, transportasi memimpin kenaikan (+2,28%), diikuti oleh sembilan sektor lainnya di zona hijau — hanya satu sektor yang masih merah. Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen positif bursa Asia, di mana Nikkei, Hang Seng, dan Shanghai Composite juga menguat. Namun, data baseline menunjukkan IHSG masih berada di persentil 8% dalam rentang satu tahun terverifikasi (6.787–9.135), menandakan bahwa level saat ini masih mendekati area terendah tahunan meskipun ada rebound harian.
Sumber data: IDX