2 Jun 2026
Skor 6.7
WBSA hingga TCPI Masuk, Ini Daftar Saham HSC Terbaru
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperluas daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dengan menambahkan tiga emiten baru: PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), dan PT Mahkota Group Tbk (MGRO). Berdasarkan data BEI per 2 April 2026, konsentrasi kepemilikan WBSA mencapai 95,82%, TCPI 94,10%, dan MGRO 93,76%. Dengan tambahan ini, total emiten dalam daftar HSC menjadi 11, termasuk nama-nama besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan konsentrasi 97,31% dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76%. BEI menegaskan bahwa pengumuman ini bukan indikasi pelanggaran aturan, melainkan bagian dari upaya pengawasan untuk mendorong pembentukan harga yang objektif di pasar. Yang tidak terlihat dari headline adalah korelasi langsung antara daftar HSC dengan kepercayaan investor asing. Hanya berselang beberapa hari sebelumnya, FTSE Russell kembali mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks globalnya — termasuk GOTO dan NCKL — karena tercatat di Papan Pengembangan yang dinilai tidak memenuhi syarat likuiditas dan free float. Keputusan FTSE itu merupakan gelombang kedua setelah sebelumnya mengeluarkan DSSA karena konsentrasi kepemilikan tinggi. Pola ini mengirim sinyal jelas: bursa domestik sedang menghadapi tekanan ganda, yaitu standar indeks global yang semakin ketat dan struktur kepemilikan terkonsentrasi yang menghambat likuiditas. Dampak terhadap emiten yang masuk daftar HSC cukup signifikan. Saham-saham tersebut otomatis tidak memenuhi persyaratan free float bagi banyak investor institusi, baik lokal maupun asing, yang memiliki kebijakan internal untuk menghindari saham dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi. Akibatnya, volume perdagangan cenderung rendah dan volatilitas harga tinggi karena transaksi besar dari pemegang saham utama dapat menggerakkan harga secara tidak proporsional. Dalam jangka menengah, emiten seperti TCPI dan MGRO kemungkinan akan mendapat tekanan untuk melakukan aksi korporasi seperti rights issue atau penawaran saham sekunder guna memperlebar basis kepemilikan. Namun, langkah ini tidak mudah bagi emiten keluarga atau yang enggan melepaskan kendali. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons resmi dari masing-masing emiten baru, apakah akan mengumumkan rencana untuk keluar dari daftar HSC. Selain itu, perhatikan reaksi harga saham WBSA, TCPI, dan MGRO di pasar sekunder — jika terjadi tekanan jual abnormal, itu menjadi konfirmasi bahwa investor institusi mulai melakukan realokasi. Sinyal kritis lainnya adalah pernyataan OJK mengenai kemungkinan penguatan aturan free float minimal, yang dapat mempercepat perubahan struktur kepemilikan di bursa Indonesia secara keseluruhan.
Sumber data: IDX