26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

INKP

Blue Chip

Indah Kiat Pulp & Paper Tbk

Basic Materials · Basic Materials

Harga
7.200
▼ 3.17%
Market Cap
Rp39,39 T
PER
3,71
PBV
0,42
Div Yield
104,00%
Volume
8,6jt
ROE
6,62%
EPS
1.387
Listing
1990-07-16

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp13,88 T Rp2,65 T Rp215,09 T Rp118,98 T 19,1%
Q4-2025 Rp13,53 T Rp2,13 T Rp206,65 T Rp114,54 T 15,8%
Q3-2025 Rp13,31 T Rp2,7 T Rp207,83 T Rp111,82 T 20,3%
Q2-2025 Rp12,68 T Rp382,9 M Rp200,09 T Rp106,4 T 3,0%
Q1-2025 Rp12,99 T Rp2,33 T Rp199,94 T Rp108,68 T 17,9%
Q4-2024 Rp12,52 T Rp3,2 T Rp190,28 T Rp103,54 T 25,6%
Q3-2024 Rp12,38 T Rp-797,42 M Rp171,9 T Rp94,06 T -6,4%
Q2-2024 Rp13,08 T Rp2,43 T Rp177,33 T Rp102,67 T 18,6%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) Q1-2026

Executive Summary

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) membukukan pendapatan Rp13,9 triliun di Q1-2026, tumbuh 4,3% YoY, dengan laba bersih Rp2,7 triliun yang naik 11,4% dari periode yang sama tahun lalu. Margin laba bersih tercatat 14,6%, sementara arus kas operasi mencapai Rp14,7 triliun dan free cash flow Rp10,3 triliun. Di tengah tekanan rupiah yang melemah ke Rp17.712 per USD dan IHSG yang masih tertekan di level 6.162, INKP menunjukkan ketahanan operasional dengan utang bersih yang terkendali (total utang Rp84,9 triliun vs kas Rp60,5 triliun). Laporan ini penting karena mengonfirmasi bahwa emiten pulp & paper tetap mampu mempertahankan profitabilitas di tengah volatilitas makro dan kenaikan harga komoditas energi.

Transmission Mechanism

Pelemahan rupiah terhadap USD (dari asumsi kurs tahun lalu yang lebih rendah ke Rp17.712 saat ini) memberikan dampak ganda bagi INKP. Di sisi pendapatan, mayoritas penjualan INKP dalam denominasi dolar AS — terutama ekspor pulp dan kertas — sehingga depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan nilai pendapatan saat dikonversi ke IDR. Namun, di sisi beban, INKP memiliki utang dalam dolar AS (tercermin dari total utang Rp84,9 triliun yang sebagian besar kemungkinan dalam USD), sehingga beban bunga dan cicilan pokok dalam rupiah ikut membengkak. Arus kas operasi yang kuat sebesar Rp14,7 triliun memberikan bantalan likuiditas yang memadai untuk menyerap tekanan tersebut. Kenaikan harga minyak Brent ke $100,21 per barel (+71,36% dari periode sebelumnya) berdampak langsung pada biaya energi dan transportasi INKP, mengingat proses produksi pulp dan kertas sangat intensif energi. Meskipun demikian, laba kotor yang tercatat Rp18,8 triliun dengan margin 33,1% menunjukkan bahwa INKP mampu meneruskan sebagian kenaikan biaya ke harga jual. Dari sisi neraca, rasio utang terhadap ekuitas (DER) sekitar 0,69x masih dalam batas wajar untuk sektor padat modal, dan posisi kas Rp60,5 triliun memberikan fleksibilitas untuk mengelola kewajiban jangka pendek tanpa tekanan refinancing yang signifikan. Suku bunga BI yang masih tinggi (belum ada sinyal pemangkasan dalam konteks pasar hari ini) membuat biaya utang baru menjadi mahal, namun INKP tidak terlalu bergantung pada pendanaan eksternal karena free cash flow yang positif. Dengan ROE 6,9% yang berada di bawah rata-rata sektor basic materials (8,9%), efisiensi modal masih menjadi catatan, tetapi arus kas yang solid mengindikasikan bahwa perusahaan tidak dalam tekanan likuiditas yang mengkhawatirkan.

Peer Comparison

Dibandingkan enam peer di sub-sektor Basic Materials, INKP memiliki ROE 6,9% yang berada di bawah rata-rata sektor 8,9%, namun lebih baik dari AMMN (4,6%), EMAS (-7,2%), dan BRMS (4,8%). Net profit margin INKP 14,6% jauh di atas rata-rata peer yang banyak mencatatkan kerugian (rata-rata PER negatif -15,0x), menunjukkan profitabilitas operasional yang superior. Valuasi PBV INKP 0,36x sangat kontras dengan peer seperti TPIA (7,24x) atau EMAS (17,85x), mencerminkan diskon aset yang dalam meskipun fundamental laba positif.

Forward Alert

1) Rilis data inflasi AS dan keputusan suku bunga The Fed pada pertengahan Juni 2026 akan mempengaruhi pergerakan USD/IDR dan harga komoditas global, berdampak langsung pada pendapatan ekspor dan beban utang INKP. 2) Perkembangan harga minyak Brent yang sudah naik 71,36% perlu dipantau karena akan mempengaruhi biaya produksi dan margin operasional INKP di kuartal berikutnya. 3) Laporan keuangan Q2-2026 pada akhir Juli perlu dicermati untuk melihat apakah tren pertumbuhan laba 11,4% YoY dapat berlanjut di tengah tekanan biaya energi dan fluktuasi kurs.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.