Direktori Emiten ·IDX
EMAS
Blue ChipPT Merdeka Gold Resources Tbk
Basic Materials · Basic Materials
Analisis terkait EMAS
-
29 Jul 2026 Skor 7.7
IHSG Turun Lagi ke Level 6.093, Saham Grup Bakrie ELTY, BNBR, VKTR Rontok
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat pelemahan pada sesi pertama perdagangan Rabu (29/7), turun 0,6% atau 37 poin ke level 6.093. Pelemahan ini terjadi di tengah mayoritas indeks Asia yang juga berada di zona merah, dengan Nikkei Jepang turun 1,91% dan Shanghai Composite melemah 0,51%, meski Hang Seng naik tipis 1,37%. Sebanyak 461 saham berakhir di zona merah, sementara 176 saham menguat dan 154 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 26,88 miliar saham dengan frekuensi 1,25 juta kali, menandakan partisipasi pasar yang cukup aktif meskipun dalam tekanan. Kapitalisasi pasar tercatat Rp10.690 triliun, dengan total nilai transaksi Rp16,85 triliun. Yang tidak terlihat dari headline adalah konsistensi pelemahan pada saham-saham Grup Bakrie yang terjadi secara berjemaah. Tiga emiten kelompok ini masuk daftar top losers: PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) turun 9,38% ke Rp29, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) longsor 7,69% ke Rp96, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) merosot 7,14% ke Rp715. Penurunan serentak ini mengindikasikan adanya sentimen negatif spesifik terhadap grup tersebut, meskipun artikel tidak menyebutkan penyebab fundamental. Sektor properti menjadi yang paling tertekan secara sektoral, turun 2,62%, dengan emiten seperti PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun 2,01%, PT Sentul City Tbk (BKSL) melemah 1,52%, dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terkoreksi 1,6%. Sementara itu, saham sektor industri dasar justru mencatat penguatan meskipun sektoral turun tipis 0,36%, dengan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 1,43%, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 1,22%, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tumbuh 2,87% — menjadikannya saham paling banyak ditransaksikan senilai Rp634,57 miliar. Dampak dari pelemahan ini bersifat meluas. Bagi investor dan manajer investasi, koreksi yang disertai dengan dominasi saham turun (461 vs 176) menandakan tekanan jual yang signifikan dan bisa memicu aksi ambil untung lanjutan jika tidak ada katalis positif. Sektor properti yang menjadi sektor paling tertekan merupakan sinyal bahwa ekspektasi terhadap suku bunga tinggi masih dominan — sektor ini sangat bergantung pada kredit pemilikan rumah dan pembiayaan proyek, sehingga lingkungan biaya pinjaman yang mahal langsung memperburuk prospek laba. Emiten properti seperti CBDK, BKSL, dan KIJA terkena dampak langsung, dan tekanan ini bisa menular ke sektor perbankan yang memiliki eksposur kredit properti. Sementara saham Grup Bakrie yang anjlok berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap likuiditas dan tata kelola grup, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap saham-saham lain dengan karakteristik serupa. Yang perlu dipantau dalam satu hingga dua pekan ke depan adalah pergerakan indeks Asia, terutama Nikkei dan Shanghai, mengingat koreksi IHSG kali ini sejalan dengan pelemahan regional. Jika tekanan global berlanjut, IHSG berisiko menguji level psikologis 6.000. Sinyal kritis lainnya adalah data net foreign flow harian — jika outflow asing kembali besar, saham-saham blue-chip LQ45 akan tertekan lebih lanjut. Perkembangan saham Grup Bakrie juga perlu dicermati: apakah penurunan ini bersifat teknis atau ada sentimen fundamental yang memperkuat aksi jual. Terakhir, rilis data inflasi atau suku bunga dalam negeri dalam waktu dekat dapat menjadi katalis yang mengubah arah persepsi pasar terhadap prospek sektor properti dan konsumsi.
Sumber data: IDX
-
27 Jul 2026 Skor 6.7
BEI Rombak 4 Indeks Utama: INDY dan NCKL Masuk LQ45, DEWA Masuk IDX30
Bursa Efek Indonesia mengumumkan hasil evaluasi terhadap empat indeks utama — LQ45, IDX30, IDX80, dan Kompas100 — yang akan berlaku mulai 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026. Perubahan paling mencolok terjadi di LQ45: PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dikeluarkan, digantikan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Di IDX30, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) — emiten Grup Bakrie — masuk menggantikan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sementara itu, indeks IDX80 menambahkan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan NCKL, serta mengeluarkan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Kompas100 mengalami perubahan lebih luas dengan masuknya delapan emiten — termasuk BNBR, COIN, EMAS, GGRM, dan RMKE — dan keluarnya sembilan emiten seperti BREN, BTPS, HMSP, dan MTEL. Rebalancing ini mencerminkan pergeseran kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar yang dinamis. Masuknya INDY dan NCKL ke LQ45 menandakan meningkatnya minat investor terhadap sektor energi dan pertambangan — INDY bergerak di pertambangan batu bara sementara NCKL adalah produsen nikel hasil hilirisasi. Sebaliknya, keluarnya SMGR dan TOWR menunjukkan tekanan likuiditas di sektor semen dan telekomunikasi, dua sektor yang sedang menghadapi perlambatan permintaan domestik. Masuknya DEWA ke IDX30 menggantikan PTBA cukup menarik: DEWA adalah kontraktor jasa pertambangan dengan kapitalisasi pasar lebih kecil dari PTBA, menunjukkan bahwa kriteria likuiditas jangka pendek bisa lebih dominan ketimbang ukuran absolut. Dampak langsung dari rebalancing ini akan dirasakan oleh manajer investasi dan reksa dana indeks yang harus menyesuaikan portofolio mereka sebelum 3 Agustus. Emiten yang masuk berpotensi mendapat kenaikan volume beli dari rebalancing, sementara emiten yang keluar bisa mengalami tekanan jual temporer. Namun, perubahan ini bersifat periodik dan efeknya biasanya bersifat sementara — dalam waktu dua minggu setelah efektif, dampak harga cenderung memudar. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah (1) volume perdagangan INDY, NCKL, dan DEWA pasca efektif — apakah terjadi lonjakan yang mengindikasikan akumulasi institusi, (2) respons harga SMGR dan TOWR — jika terkoreksi lebih dari 5%, itu bisa menjadi sinyal tekanan lebih lanjut di sektor semen dan infrastruktur telekomunikasi, dan (3) komentar dari analis sekuritas mengenai perubahan bobot sektoral LQ45 — apakah mulai bergeser dari konsumen ke komoditas. Sinyal penting lainnya: jika IHSG tetap stabil di level 6.186 meski ada rebalancing, itu menunjukkan pasar telah mengantisipasi perubahan ini dengan baik.
Sumber data: IDX
-
2 Jul 2026 Skor 7.0
EMAS Resmi Listing di Hong Kong, Investasi RI Bisa Makin Dilirik
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) resmi mencatatkan saham di Main Board The Stock Exchange of Hong Kong (HKEX) melalui skema Hong Kong Depositary Receipts (HDR). Langkah ini menjadikan EMAS salah satu emiten tambang Indonesia pertama yang listing di bursa internasional bereputasi tinggi. Pencatatan di HKEX memberikan akses langsung ke basis investor institusional global, termasuk sovereign wealth funds, hedge funds, dan dana pensiun yang memiliki mandat spesifik di sektor komoditas. Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai aksi ini menunjukkan bahwa kualitas aset—khususnya Proyek Tambang Emas Pani—dan tata kelola perusahaan telah memenuhi standar ketat investor global. Likuiditas yang lebih tinggi dan basis investor yang lebih luas di HKEX diharapkan dapat mendorong penemuan harga yang lebih optimal, yang pada akhirnya mengerek valuasi saham EMAS baik di Hong Kong maupun di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme arbitrase. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menambahkan bahwa dual listing mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental dan prospek bisnis perusahaan. Kepastian pendanaan dari pasar global juga meminimalkan risiko penundaan komersialisasi Tambang Emas Pani. Langkah ini diambil di tengah tren positif harga emas sebagai aset safe haven global, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi ekonomi. Dengan valuasi yang optimal saat harga komoditas kuat, EMAS dapat menyerap modal asing untuk ekspansi tanpa bergantung sepenuhnya pada arus modal di pasar domestik. Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.940 per dolar AS (dari data pasar terkini) justru menguntungkan bagi EMAS yang menerima dana dalam valuta asing, karena dapat dikonversi dengan nilai rupiah yang lebih tinggi untuk kebutuhan operasional di Indonesia. Yang perlu dicermati ke depan adalah implementasi ekspansi Tambang Pani, respons investor asing terhadap saham EMAS di HKEX, dan potensi efek demonstrasi bagi emiten tambang dan sumber daya alam Indonesia lainnya untuk mengikuti jejak serupa. Jika berhasil, ini bisa membuka jalur baru pendanaan internasional bagi sektor pertambangan nasional, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok komoditas global, dan meningkatkan daya tarik investasi di luar bursa domestik.
Sumber data: IDX
-
23 Jun 2026 Skor 7.0
Entitas JP Morgan Borong 441,65 Juta Saham Emiten Boy Thohir-Saratoga (EMAS)
JP Morgan Chase Bank, unit perbankan ritel dan komersial dari JP Morgan Chase & Co, memborong 441,65 juta saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) pada 18 Juni 2026. Transaksi ini meliputi tiga kali eksekusi: pertama 906.800 saham di harga Rp7.027 per saham (total Rp6,37 miliar), kedua 831.400 saham di harga Rp7.080 (total Rp5,88 miliar), dan ketiga sebanyak 441,577 juta saham tanpa harga yang diungkapkan. Hasilnya, kepemilikan JP Morgan melonjak dua kali lipat dari 456,54 juta saham (3,10% dari total beredar) menjadi 898,19 juta saham (6,10%). Aksi borong ini terjadi tepat menjelang langkah EMAS masuk ke bursa Hong Kong (HKEX) melalui pencatatan sekunder dalam bentuk Hong Kong Depositary Receipts (HDR). EMAS telah menyelesaikan prospektus final pada 16 Juni dan menjadwalkan bookbuilding kepada investor institusi internasional pada 17–23 Juni 2026. Menjelang pemasaran, sejumlah cornerstone investor telah berkomitmen menyerap 49,9% dari total saham yang ditawarkan — angka maksimal yang diizinkan aturan HKEX. Seluruh saham yang dilepas merupakan saham sekunder milik pemegang saham minoritas; PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) selaku pemegang saham pengendali tidak ikut menjual. Aksi JP Morgan menjadi sinyal kuat bahwa institusi global menaruh kepercayaan pada kualitas aset dan prospek jangka panjang EMAS, khususnya Tambang Emas Pani yang sedang dikembangkan. Meski transaksi jumbo itu terjadi di pasar sekunder Jakarta, timing-nya yang berdekatan dengan bookbuilding Hong Kong mengindikasikan strategi ambil posisi awal sebelum minat investor global memuncak. Bagi pasar Indonesia, langkah ini memberikan sentimen positif terhadap sektor pertambangan emas, terutama karena emiten tambang nasional jarang mendapat akumulasi sebesar itu dari bank investasi papan atas. Namun, perlu dicatat bahwa harga transaksi untuk porsi terbesar tidak diungkap, sehingga sulit menilai apakah JP Morgan membeli di dekat harga penawaran HK atau pada level diskon. Yang perlu dipantau dalam dua pekan ke depan adalah: (1) finalisasi harga HDR dan respons investor global, (2) pergerakan saham EMAS di BEI pasca bookbuilding, dan (3) apakah institusi asing lain seperti Morgan Stanley atau Goldman Sachs mengikuti langkah serupa.
Sumber data: IDX
-
17 Jun 2026 Skor 7.0
Merdeka Gold (EMAS) Direstui Investor Global untuk Rencana Pencatatan Saham di Bursa Hong Kong
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengumumkan dukungan dari investor global terkemuka untuk rencana pencatatan saham di Bursa Efek Hong Kong (HKEX). Investor utama mencakup Wanguo Gold Group, CNGR Hong Kong, serta raksasa perdagangan komoditas seperti Glencore, Trafigura, Mercuria, dan Intera Mining (bagian dari JCHX Mining). Di sektor keuangan, nama seperti Ping An Asset Management, GF Fund, ORIX, Dymon Asia, dan Wind Sabre turut mendukung. Dukungan ini merupakan sinyal kepercayaan terhadap prospek Tambang Emas Pani di Gorontalo, yang disebut sebagai salah satu proyek emas terbesar di Asia. Meskipun nilai transaksi dan jadwal listing belum diungkapkan dalam artikel, partisipasi pemain komoditas global seperti Glencore dan Trafigura mengindikasikan adanya keyakinan terhadap kemampuan produksi dan pemasaran emas dari tambang tersebut. Dari sisi fundamental, kehadiran investor keuangan besar dari Asia, termasuk China dan Singapura, juga memperkuat likuiditas saham EMAS pasca-IPO. Namun, perlu diingat bahwa kondisi pasar global sedang tidak sepenuhnya kondusif. Suku bunga AS masih di level 3,63% dan yield obligasi 10 tahun mencapai 4,48%, sementara indeks dolar broad (tertimbang perdagangan) berada di titik tertinggi. VIX di 17,68 mengindikasikan ekspektasi volatilitas yang moderat namun tetap waspada. Rupiah saat ini diperdagangkan di level Rp17.735 per dolar AS, yang memberikan tekanan pada valuasi aset berbasis rupiah di mata investor asing. Bagi EMAS, pendapatan dalam dolar AS dari ekspor emas menjadi keunggulan kompetitif di tengah pelemahan rupiah. Biaya operasional di Indonesia yang sebagian besar dalam rupiah juga bisa lebih rendah relatif terhadap pendapatan dolar. Namun, investor perlu memantau risiko regulasi dan geopolitik. Indonesia baru-baru ini mengalami ketegangan terkait kebijakan hilirisasi dan divestasi asing di sektor tambang, yang dapat memengaruhi kepastian hukum. Kehadiran investor strategis asing justru dapat menjadi jembatan diplomasi bisnis yang memperkuat posisi EMAS dalam menghadapi perubahan kebijakan. Yang tidak terlihat secara langsung dari headline adalah bahwa IPO ini membuka pintu bagi investor institusi Asia yang selama ini kesulitan mengakses eksposur tambang emas Indonesia. Hong Kong sebagai pusat keuangan global memberikan likuiditas dan kredibilitas tambahan. Ke depan, fokus utama adalah tanggal efektif listing, harga penawaran, dan alokasi saham ke cornerstone investors. Jika IPO berhasil, EMAS akan menjadi salah satu emiten tambang emas Indonesia dengan kapitalisasi pasar signifikan di bursa regional, berpotensi menarik minat investor global yang mencari lindung nilai inflasi dan ketidakpastian makro.
Sumber data: IDX
-
15 Jun 2026 Skor 5.0
Manuver EMAS Poles Bisnis Anak-Anak Usaha Menjelang IPO di Bursa Hong Kong
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terus memperkuat bisnis anak usahanya menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) di Bursa Hong Kong. Langkah terbaru dilakukan melalui PT Pani Industri Nusantara (PIN), yang menandatangani perjanjian dengan Sinohydro-PII-NEM Consortium untuk pembangunan fasilitas penyimpanan tailing Hulawa di Proyek Tambang Emas Pani, Gorontalo. Nilai transaksi mencapai Rp2,87 triliun, setara 44,89% dari ekuitas EMAS berdasarkan Laporan Keuangan 2025. Selain itu, anak usaha lain, PT Merdeka Mining Indonesia (MMI), membeli alat berat bekas dari dua perusahaan afiliasi—PT Bumi Suksesindo (BSI) senilai Rp44,48 miliar dan PT Batutua Tembaga Raya (BTR) sebesar Rp99,26 miliar. Seluruh entitas ini berada di bawah kendali PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), induk EMAS. Aksi korporasi ini menunjukkan persiapan sistematis EMAS untuk memperkuat operasional tambang dan meningkatkan daya tarik bagi investor global menjelang IPO Hong Kong. Fasilitas tailing adalah infrastruktur kritis untuk memastikan kelangsungan produksi dan kepatuhan lingkungan, sehingga investasi besar ini menjadi sinyal keseriusan EMAS dalam mengembangkan proyek Pani. Pembelian alat berat dari afiliasi juga menekankan efisiensi biaya dengan memanfaatkan aset yang tidak terpakai, yang dapat memperbaiki margin operasional sebelum go public. Dampak dari langkah ini tidak hanya dirasakan EMAS dan MDKA, tetapi juga sektor pertambangan emas Indonesia secara keseluruhan. IPO di Hong Kong dapat meningkatkan profil tambang emas nasional di mata investor asing, berpotensi menarik lebih banyak modal untuk eksplorasi dan pengembangan. Namun, beban kontrak besar—lebih dari 44% ekuitas—juga menambah risiko keuangan jika proyek mengalami keterlambatan atau cost overrun. Investor perlu mencermati kemampuan EMAS mengelola arus kas dan utang menjelang IPO. Di sisi makro, sentimen sektor tambang emas masih didukung oleh harga emas global yang berada di level tinggi secara historis, meskipun data terbaru dari sumber ini tidak menyebutkan angka spesifik. Rupiah yang tertekan di level 17.714 per dolar AS juga menjadi faktor positif bagi emiten berbasis komoditas ekspor, karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi dalam denominasi rupiah. Yang perlu dipantau ke depan adalah jadwal pasti IPO Hong Kong, respons pasar terhadap prospektus awal, dan kemajuan konstruksi fasilitas tailing. Keberhasilan penyelesaian proyek Pani tepat waktu akan menjadi katalis utama bagi valuasi EMAS. Sebaliknya, jika terjadi penundaan atau pembengkakan biaya, kepercayaan investor bisa tergerus. Sektor tambang emas Indonesia sedang dalam fase ekspansi, dan EMAS menjadi salah satu barometer ambisi global. Langkah korporasi ini menunjukkan bahwa emiten tambang dalam negeri tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga berupaya menembus bursa internasional untuk mendapatkan valuasi yang lebih kompetitif. Ini dapat menjadi preseden bagi emiten lain, terutama di sektor sumber daya alam, untuk melakukan langkah serupa.
Sumber data: IDX
-
25 Mei 2026 Skor 7.0
INTP Bagi Dividen Rp 468/Saham, Saham MDKA Jadi Pendorong Kenaikan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke 6.162,04 pada perdagangan Jumat (22/5). Pendorong utama adalah lonjakan saham komoditas tambang: Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77%, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67%, dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50%. Di sisi lain, saham berkapitalisasi besar justru menjadi penekan indeks: Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67%, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57%, dan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53%. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar, menandakan tekanan jual masih dominan meski IHSG menguat. Dari sisi sektoral, sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85%, sedangkan sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang melemah, terkoreksi 0,28%.
Sumber data: IDX
-
17 Mei 2026 Skor 6.0
Merdeka Gold (EMAS) Suntik Modal Rp 1,86 Triliun ke Anak Usaha Tambang Emas
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengucurkan dana Rp1,86 triliun ke anak usahanya, PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS), melalui entitas perantara PT Pani Bersama Tambang (PBT). Dana ini akan digunakan untuk modal kerja, belanja modal, dan operasional umum. Transaksi ini diklasifikasikan sebagai transaksi material sekaligus afiliasi karena nilainya mencapai 29,18% dari ekuitas EMAS, meskipun tidak memerlukan persetujuan RUPS karena antar entitas sepengendali. PETS bergerak di pertambangan bijih logam, sementara PBT fokus pada pemurnian, peleburan, dan perdagangan logam mulia — menciptakan rantai nilai terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah ini diambil di tengah harga emas global yang berada di level tinggi, yang memberikan insentif kuat bagi emiten tambang untuk mempercepat ekspansi produksi dan kapasitas pengolahan. Meskipun artikel utama tidak menyebutkan sumber pendanaan spesifik, suntikan modal sebesar ini berpotensi membebani leverage EMAS jika dibiayai utang, atau mengurangi kas jika dari internal. Namun, aksi ini sejalan dengan strategi jangka panjang perseroan yang juga mencatatkan saham di Hong Kong senilai US$310 juta pada Juni 2026 — menunjukkan ambisi ekspansi internasional. Dari sisi bisnis, integrasi vertikal antara pertambangan dan pengolahan logam mulia dapat meningkatkan margin dan efisiensi operasional. Namun, perlu dicermati bahwa realisasi konversi dana menjadi saham baru di PETS paling lambat satu tahun, sehingga ada ketidakpastian waktu dan valuasi. Di sisi makro, tekanan fiskal dalam negeri (defisit APBN Rp240 triliun per Maret 2026) dan pelemahan rupiah ke Rp17.970 per dolar AS menambah biaya impor peralatan tambang, sementara harga emas dalam rupiah mendapat tailwind dari depresiasi. Ke depan, investor perlu memantau realisasi penggunaan dana, potensi dilusi kepemilikan di PETS, serta respons pasar terhadap tambahan leverage atau kinerja operasional anak usaha.
Sumber data: IDX
-
13 Mei 2026 Skor 4.0
Tambang Emas Pani Merdeka Copper (MDKA) Pakai Listrik Bersih dari PLTA
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengumumkan penggunaan listrik bersih dari PLTA Bakaru untuk operasional Tambang Emas Pani di Gorontalo melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN. Langkah ini efektif sejak 1 Januari 2026 dan merupakan bagian dari strategi transisi energi perusahaan yang lebih luas. Presiden Direktur Albert Saputro menekankan komitmen terhadap operasional tambang yang efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. Inisiatif ini mengikuti jejak Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi yang telah mengadopsi skema REC sejak 2022. Selain REC, grup Merdeka juga mengintegrasikan panel surya di Tambang Tembaga Wetar dan Tambang Nikel SCM di Sulawesi. Perusahaan mewajibkan seluruh entitas anak menggunakan bahan bakar B40, dengan penghematan 563.293 liter B40 di Tambang Nikel SCM sepanjang 2025. Di sisi reklamasi, MDKA telah mereklamasi 49,60 hektare pada 2025, dengan total akumulasi 143,56 hektare, serta menjalankan program rehabilitasi DAS seluas 6.084 hektare di luar area tambang. Atas inisiatif ini, MDKA mempertahankan peringkat 'A' dalam MSCI ESG Ratings selama tiga tahun berturut-turut, menjadikannya satu-satunya perusahaan di sektor diversified metals and mining di Indonesia dengan peringkat tersebut secara konsisten. Langkah ini penting karena meningkatkan daya saing MDKA di mata investor global yang semakin memperhatikan faktor ESG, terutama di tengah tren konsolidasi tambang emas global dan meningkatnya risiko ESG seperti yang terlihat dari kasus denda Fortescue di Australia. Namun, dampak langsung terhadap laba bersih jangka pendek masih terbatas karena biaya REC dan investasi panel surya membutuhkan waktu untuk memberikan pengembalian. Yang perlu dipantau adalah apakah inisiatif ini akan diikuti oleh emiten tambang lain di Indonesia, serta bagaimana pasar merespons dalam bentuk premium valuasi untuk saham dengan ESG tinggi.
Sumber data: IDX
-
6 Mei 2026 Skor 6.0
Merdeka Copper (MDKA) Siapkan Proyek Tembaga Tujuh Bukit Jadi Pilar Pertumbuhan
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tengah mempersiapkan proyek Tembaga Tujuh Bukit sebagai pilar pertumbuhan baru, dengan investasi sekitar USD200 juta sejak 2018. Proyek ini masih dalam fase praproduksi, dengan studi kelayakan yang sedang difinalisasi pada kuartal I-2026. MDKA membangun platform pertumbuhan terintegrasi: emas sebagai penghasil arus kas melalui PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), nikel sebagai motor masa depan melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan tembaga sebagai pilar baru. Langkah ini menunjukkan komitmen MDKA untuk diversifikasi di tengah tekanan harga komoditas global dan pelemahan rupiah yang mempengaruhi biaya impor peralatan tambang.
Sumber data: IDX