26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

DNET

Blue Chip

PT Indoritel Makmur Internasional Tbk

Financials · Holding & Investment Companies

Harga
10.300
▲ 0.00%
Market Cap
Rp146,1 T
PER
156,06
PBV
8,68
Div Yield
5,00%
Volume
ROE
8,11%
EPS
89
Listing
2000-12-11

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp425,02 M Rp233,62 M Rp23,73 T Rp15,73 T 55,0%
Q4-2025 Rp475,25 M Rp416,92 M Rp23,7 T Rp15,49 T 87,7%
Q3-2025 Rp420,56 M Rp298,01 M Rp22,39 T Rp15,02 T 70,9%
Q2-2025 Rp421,97 M Rp335,92 M Rp21,89 T Rp14,79 T 79,6%
Q1-2025 Rp379,41 M Rp204,74 M Rp21,9 T Rp14,44 T 54,0%
Q4-2024 Rp369,64 M Rp326,99 M Rp21,36 T Rp14,24 T 88,5%
Q3-2024 Rp360,93 M Rp300,18 M Rp21,48 T Rp13,85 T 83,2%
Q2-2024 Rp351,95 M Rp373,21 M Rp21,16 T Rp13,54 T 106,0%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) Q1-2026

Executive Summary

PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mencatatkan pendapatan Rp 425,0 miliar di Q1-2026, tumbuh 12,0% YoY, dengan laba bersih Rp 233,6 miliar (+14,1% YoY). Namun, laba kotor mencapai Rp 1,7 triliun terhadap pendapatan hanya Rp 425,0 miliar, menghasilkan gross profit margin 96,1% yang merupakan anomali struktural. Di tengah tekanan rupiah di level 17.712 per USD dan IHSG yang tertekan di 6.162, valuasi DNET menunjukkan PER 105,3x dan PBV 8,73x, jauh di atas rata-rata sektor. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa pendapatan operasional tidak mencerminkan skala aset dan ekuitas perusahaan, sehingga perlu dicermati sumber laba kotor yang tidak lazim.

Transmission Mechanism

DNET bergerak di sektor holding dan investasi, sehingga pendapatan dan laba sangat dipengaruhi oleh kinerja anak usaha serta pendapatan dividen dan keuntungan investasi. Lonjakan laba kotor yang tidak proporsional terhadap pendapatan mengindikasikan bahwa sebagian besar laba berasal dari pendapatan non-operasional, seperti dividen atau penjualan investasi, bukan dari bisnis inti. Dalam konteks makro, pelemahan rupiah ke 17.712 per USD dan kenaikan harga minyak Brent ke USD 100,21 per barel meningkatkan tekanan biaya impor dan inflasi, yang dapat mempengaruhi daya beli konsumen dan kinerja anak usaha DNET di sektor ritel dan properti. Sementara itu, suku bunga BI yang masih tinggi (asumsi di kisaran 6,0-6,25%) membebani biaya pendanaan, tercermin dari total utang Rp 6,9 triliun yang setara 29,1% dari total aset. Arus kas operasi Rp 270,0 miliar dan free cash flow Rp 189,0 miliar masih positif, namun tidak cukup untuk menutup utang jangka pendek jika terjadi tekanan likuiditas.

Peer Comparison

Dibandingkan 6 peer di sub-sektor Holding & Investment Companies, DNET memiliki ROE 8,7% di bawah rata-rata sektor 9,1%, namun jauh di atas SMMA (3,6%), CASA (1,3%), APIC (3,0%), dan COIN (3,2%). Net profit margin DNET 73,7% sangat tinggi dibandingkan peer seperti SRTG (margin tidak disebut, namun ROE 12,4% dengan PER 11,8x) dan PALM (ROE 31,1%, PER 1,0x). PER DNET 105,3x lebih rendah dari rata-rata sektor 953,5x, namun masih premium dibandingkan SRTG (11,8x) dan PALM (1,0x). PBV 8,73x juga di atas SRTG (0,39x) dan PALM (0,70x), menunjukkan valuasi aset yang tinggi secara relatif.

Forward Alert

1) Rilis laporan keuangan Q2-2026 pada akhir Agustus 2026 untuk melihat apakah pola laba kotor yang anomali berlanjut atau ada perubahan klasifikasi pendapatan. 2) Keputusan suku bunga BI pada 19-20 Juni 2026 — kenaikan lebih lanjut dapat memperburuk biaya utang DNET yang mencapai Rp 6,9 triliun. 3) Pergerakan USD/IDR yang sudah di 17.712 — jika terus melemah menuju 18.000, akan meningkatkan beban impor anak usaha dan menekan margin.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.