7 Mei 2026
Skor 7.3
NIM Bank Tertekan ke 4,38%, BRI dan Allo Bank Tetap Unggul
OJK mencatat rata-rata NIM industri perbankan Indonesia turun ke 4,38% pada Maret 2026, dari 4,51% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan 13 basis poin ini mencerminkan tekanan berkelanjutan pada profitabilitas bank di tengah tingginya suku bunga acuan dan tekanan biaya dana. Namun, bank dengan fokus pada segmen ritel dan UMKM seperti BRI (BBRI) dan Allo Bank (BBHI) justru mencatat NIM yang masih tinggi, masing-masing 7,7% dan 10,4%. BRI berhasil menjaga margin melalui dominasi dana murah (CASA 68%) dan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) 11,9% YoY menjadi Rp40,155 triliun. Allo Bank mencatat NII naik 21% menjadi Rp378 miliar, ditopang strategi retail banking yang efektif. Di luar dua bank tersebut, OK Bank juga mencatat NIM di atas 5% dengan strategi penyaluran kredit selektif dan peningkatan dana murah. Guru Besar Unair Rahma Gafmi menjelaskan bahwa bank ritel dan UMKM cenderung memiliki NIM lebih tinggi karena dua alasan utama: kredit segmen ini memiliki risiko lebih tinggi sehingga bank menetapkan bunga lebih besar, dan nasabah ritel relatif kurang sensitif terhadap perubahan suku bunga dibanding nasabah korporasi yang memiliki posisi tawar lebih kuat. Bank dengan porsi dana murah besar juga memiliki biaya dana (CoF) yang lebih stabil, sehingga margin lebih terjaga. Sebaliknya, bank yang bergantung pada deposito berjangka lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga global. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang signifikan: rupiah melemah ke level Rp17.878 per dolar AS (berdasarkan data pasar terkini) dan harga minyak Brent bertahan di US$91,12 per barel — keduanya dapat menaikkan biaya impor dan inflasi, sekaligus membatasi ruang pelonggaran moneter BI. Dengan BI rate masih tinggi (3,64% Fed Funds Rate, sementara BI rate diperkirakan masih di atas 5%), bank umum dengan eksposur valas rendah dan basis pendanaan domestik yang kuat seperti BRI relatif lebih terlindungi. Namun, bank dengan porsi kredit korporasi besar atau ketergantungan pada deposito akan terus tertekan. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa NIM yang turun tidak selalu berarti profitabilitas turun secara linear — bank dengan pertumbuhan volume kredit yang kuat seperti BRI tetap bisa mencatat laba lebih tinggi. Fokus investor harus bergeser dari sekadar NIM ke struktur pendanaan dan efisiensi biaya operasional. Dalam 1-4 minggu ke depan, perlu dipantau apakah tren penurunan NIM akan berlanjut saat laporan keuangan Q2 2026 dirilis, serta respons BI terhadap tekanan rupiah — kenaikan BI rate lebih lanjut akan memperlebar tekanan NIM bank umum, terutama yang tidak memiliki CASA tinggi.
Sumber data: IDX