26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

BREN

Blue Chip

PT Barito Renewables Energy Tbk.

Infrastructures · Utilities

Harga
3.650
▼ 11.83%
Market Cap
Rp488,32 T
PER
165,91
PBV
47,43
Div Yield
10,00%
Volume
ROE
14,96%
EPS
17
Listing
2023-10-09

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp2,81 T Rp731,07 M Rp67 T Rp15,92 T 26,0%
Q4-2025 Rp2,47 T Rp429,21 M Rp64,73 T Rp14,79 T 17,4%
Q3-2025 Rp2,62 T Rp683,88 M Rp63,83 T Rp14,37 T 26,1%
Q2-2025 Rp2,43 T Rp506,79 M Rp61,22 T Rp13,22 T 20,9%
Q1-2025 Rp2,5 T Rp568,27 M Rp63,14 T Rp12,92 T 22,8%
Q4-2024 Rp2,51 T Rp582,44 M Rp61,19 T Rp11,84 T 23,2%
Q3-2024 Rp2,29 T Rp425,64 M Rp57,33 T Rp11,15 T 18,6%
Q2-2024 Rp2,37 T Rp477,33 M Rp60,72 T Rp11,48 T 20,1%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Q1-2026

Executive Summary

PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mencatatkan pendapatan Rp 2,8 triliun di Q1-2026, tumbuh 9,8% YoY, dengan laba bersih Rp 731,1 miliar yang naik 25,5% YoY. Namun, laba kotor mencapai Rp 10,7 triliun dengan gross profit margin 97,3% yang tidak realistis secara akuntansi, mengindikasikan kemungkinan kesalahan pelaporan atau pengakuan pendapatan yang tidak lazim. Di tengah tekanan rupiah di level 17.712 per USD dan IHSG yang hanya menguat tipis ke 6.162, valuasi BREN sangat ekstrem dengan PER 131,6x dan PBV 27,66x, jauh di atas rata-rata sektor utilities. Rasio utang terhadap ekuitas yang tinggi (3,1x) dan free cash flow yang positif namun tipis terhadap kapitalisasi menjadi perhatian utama.

Transmission Mechanism

Kenaikan USD/IDR ke 17.712 (rupiah melemah) meningkatkan beban utang BREN yang tercatat Rp 36,7 triliun, terutama jika sebagian besar utang dalam denominasi dolar. Hal ini langsung menekan laba bersih melalui selisih kurs dan biaya bunga, terlepas dari pendapatan operasional yang tumbuh. Di sisi lain, harga minyak Brent yang melonjak 71,36% ke $100,21 per barel mendorong biaya energi secara umum, namun BREN sebagai perusahaan energi terbarukan justru bisa diuntungkan secara kompetitif karena biaya produksinya tidak terkait langsung dengan bahan bakar fosil. Suku bunga BI yang masih tinggi (implisit dari tekanan rupiah) membuat biaya pendanaan korporasi tetap mahal, sehingga kemampuan BREN untuk membayar utang dari arus kas operasi Rp 4,3 triliun perlu diuji secara ketat. Jika utang jatuh tempo dalam waktu dekat, refinancing akan sangat mahal dan berpotensi menggerus margin laba bersih yang saat ini 22,7%.

Peer Comparison

Dibandingkan peer utilities, BREN memiliki ROE 20,4% yang jauh di atas rata-rata sektor 10,0%, namun valuasinya sangat premium: PER 131,6x vs rata-rata peer 96,9x, dan PBV 27,66x yang hanya lebih rendah dari ARKO (47,17x) namun jauh di atas PGEO (1,17x) dan POWR (0,96x). Net profit margin BREN 22,7% juga unggul signifikan dibandingkan peer seperti CDIA (DY 75,0% menunjukkan distribusi laba tinggi) atau PGEO yang ROE-nya hanya 6,7%. Namun, anomali gross profit margin membuat perbandingan ini tidak dapat diandalkan.

Forward Alert

1) Rilis data inflasi Indonesia dan keputusan suku bunga BI pada minggu pertama Juni 2026 akan mempengaruhi ekspektasi biaya utang dan nilai tukar rupiah. 2) Harga minyak Brent yang sudah di atas $100 per barel perlu dipantau apakah akan mendorong percepatan transisi energi dan menguntungkan BREN secara kompetitif. 3) Laporan keuangan Q2-2026 harus dikonfirmasi apakah anomali GPM 97,3% adalah kesalahan pelaporan atau praktik akuntansi yang tidak lazim — ini krusial untuk kredibilitas data fundamental.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.