1 Jul 2026
Skor 5.3
Besok Masuk Masa Penawaran IPO RANS, Harga Dipatok Rp170
PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), perusahaan milik Raffi Ahmad, akan memasuki masa penawaran IPO pada 1 Juni 2026 dengan harga Rp170 per saham. Perusahaan melepas 2,52 miliar saham atau 20,02% dari modal ditempatkan, menargetkan dana segar Rp429,25 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis hiburan, termasuk penyelenggaraan konser, akuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina), pembangunan wahana bermain Cipungland di sembilan titik, pembentukan perusahaan AI bersama PT Feedloop Global Teknologi, pelunasan utang di BNI, serta pengembangan produk F&B di bawah RNS. Struktur kepemilikan sebelum IPO didominasi Raffi Ahmad (78,68%), diikuti PT Indonesia Entertainmen Grup (9,04%) — anak usaha SCMA — dan sejumlah individu seperti Dony Oskaria (Kepala BP BUMN/COO Danantara, 3,42%), Sutanto Hartono (Dirut SCMA, 1,43%), Kaesang Pangarep (1,14%), dan Nagita Slavina (1,24%). Setelah IPO, kepemilikan Raffi terdilusi menjadi 62,93%, sementara pemegang saham lain mengalami penurunan proporsional. IPO ini menjadi sorotan karena menghadirkan figur publik dan afiliasi dengan BUMN serta konglomerat media. Dari sisi fundamental, penggunaan dana yang beragam — dari hiburan fisik hingga teknologi dan kosmetik — menunjukkan strategi konglomerasi di bawah satu payung IP. Namun, tidak ada informasi mengenai laba, pendapatan, atau valuasi dalam prospektus yang dikutip artikel, sehingga investor potensial harus mencermati laporan keuangan yang lebih lengkap. Bagi pasar modal Indonesia, IPO RANS menambah variasi emiten di sektor media dan hiburan — sebuah sektor yang relatif jarang melantai di BEI. Kehadiran nama-nama besar seperti Dony Oskaria dan Kaesang Pangarep dapat menarik minat investor ritel yang terpengaruh popularitas. Di sisi lain, skala dana Rp429 miliar tergolong sedang, sehingga dampaknya terhadap likuiditas pasar secara keseluruhan tidak signifikan. Yang perlu dipantau setelah IPO adalah performa harga saham di hari pertama dan minggu pertama, yang akan menjadi barometer minat investor terhadap saham berbasis figur publik. Selain itu, realisasi penggunaan dana untuk akuisisi Slavina dan pembangunan Cipungland perlu dicermati karena menjadi motor pertumbuhan pendapatan jangka panjang. Risiko utama adalah jika perusahaan belum memiliki rekam jejak laba yang solid, volatilitas harga bisa tinggi, terutama setelah periode lock-up pemegang saham utama berakhir.
Sumber data: IDX