4 Jul 2026
Skor 3.0
Sepatu Bata (BATA) Tak Bagikan Dividen Imbas Rugi Rp116 Miliar pada 2025
PT Sepatu Bata Tbk (BATA) memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025 setelah mencatatkan rugi bersih Rp116,45 miliar. Keputusan ini diambil dalam RUPST yang digelar pada 30 Juni 2026, disetujui oleh 99,99 persen pemegang saham. Kerugian tersebut memang membaik dibandingkan rugi Rp148 miliar pada 2024, namun perusahaan masih terperosok dalam tekanan struktural. Sejak pandemi Covid-19, BATA belum mampu kembali mencetak laba, terutama akibat gempuran barang impor dari China yang lebih murah. Sebelum pandemi, pada 2019, BATA masih membukukan laba bersih Rp23 miliar dan rutin membagikan dividen tunai. Pendapatan saat itu tercatat Rp931 miliar, kemudian anjlok 50 persen ke Rp438 miliar pada 2020. Sempat ada pemulihan di 2022 dengan pendapatan Rp643 miliar, namun kinerja kembali tertekan. Maraknya produk sepatu impor dengan harga lebih kompetitif menjadi faktor utama yang membuat BATA sulit bersaing. Perusahaan asal Czechia ini belum merilis strategi jangka panjang untuk membalikkan keadaan, selain mengandalkan efisiensi dan penyesuaian portofolio produk. Dampak dari keputusan ini langsung dirasakan pemegang saham yang kehilangan pendapatan dividen. Dalam jangka panjang, kelangsungan usaha BATA menjadi tanda tanya jika tidak ada perubahan signifikan. Industri alas kaki nasional secara umum juga tertekan oleh produk impor, dan kasus BATA bisa menjadi indikator perlunya kebijakan proteksi atau insentif bagi produsen lokal. Namun karena pangsa pasar BATA sudah relatif kecil, dampaknya terhadap konsumen dan tenaga kerja mungkin lebih terbatas dibandingkan jika ini terjadi pada perusahaan besar lain. Yang perlu dipantau ke depan adalah langkah korporasi BATA, termasuk kemungkinan penjualan aset, restrukturisasi utang, atau relokasi produksi. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian juga perlu memperhatikan tekanan impor yang terus membebani industri alas kaki. Tanpa intervensi kebijakan, bukan tidak mungkin BATA akan mengikuti nasib perusahaan lain yang gulung tikar. Investor yang masih memegang saham BATA harus mencermati kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dan rencana bisnis yang kredibel.
Sumber data: IDX