11 Jul 2026
Skor 7.0
Video: Jurus Pengusaha Ayam Cegah Harga Anjlok Saat Demand Tertekan
PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) mendesak peran pemerintah dalam menstabilkan harga ayam dan telur di tengah tekanan permintaan yang melemah. Direktur Utama AYAM, Sri Mulyani, menyoroti bahwa harga ayam saat ini anjlok drastis akibat ketidakpastian demand, sementara pasokan livebird dari peternak sudah bisa diprediksi. Kondisi ini menciptakan oversupply yang tidak bisa dihindari dalam jangka pendek. Untuk menekan kerugian, peternak didorong memperluas pasar dan menambah kapasitas penyimpanan (storage), meskipun langkah itu membutuhkan investasi tambahan. Persoalan struktural ini menandai bahwa industri perunggasan tidak hanya menghadapi siklus permintaan, tetapi juga ketidakmampuan peternak merespons cepat karena sifat produksi biologis — ayam sudah dipelihara dan siap panen dalam siklus tertentu. Di sisi permintaan, tekanan daya beli masyarakat menjadi faktor utama, sejalan dengan data makro yang menunjukkan perlambatan konsumsi domestik. Jika tidak ada intervensi, peternak kecil paling rentan bangkrut, mengancam pasokan jangka panjang. Pemerintah, melalui mekanisme serapan harga standar atau operasi pasar, menjadi harapan terakhir. Namun, keterbatasan fiskal — defisit APBN awal tahun telah mencapai Rp240 triliun — membatasi ruang anggaran untuk program stabilisasi harga. Akibatnya, tekanan pada industri hulu (pakan, DOC) akan menular, memukul emiten seperti CPIN dan JPFA yang bergantung pada permintaan peternak. Di sisi konsumen, harga ayam murah sementara menguntungkan daya beli, tetapi jika terus berlanjut dapat memicu kontraksi produksi dan kenaikan harga nantinya. Yang perlu dipantau ke depan: keputusan pemerintah terkait serapan ayam, realisasi subsidi pakan, serta pergerakan harga jagung impor dan nilai tukar rupiah yang memengaruhi biaya produksi peternakan.
Sumber data: IDX