1 JUL 2026
Yuan Stance China Berpotensi Picu Lost Decades — Dampak ke RI

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Yuan Stance China Berpotensi Picu Lost Decades — Dampak ke RI
Makro

Yuan Stance China Berpotensi Picu Lost Decades — Dampak ke RI

Tim Redaksi Feedberry ·30 Juni 2026 pukul 05.18 · Sumber: Asia Times ↗
7.3 Skor

Ancaman perang dagang global dan pelemahan yuan berpotensi menggerus daya saing ekspor Indonesia dan menekan rupiah secara langsung.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Analis Asia Times memperingatkan bahwa China menghadapi risiko 'lost decades' jika tidak mengubah kebijakan nilai tukar yuan yang dinilai banyak pihak undervalued. Surplus perdagangan China yang semakin besar menjadi sumber gesekan dengan mitra dagang utama — terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menuduh yuan undervalued hingga 30% dan mengusulkan solusi ala Plaza Accord 1985, yang dulu memaksa Jepang mengapresiasi yen dan justru menjerumuskan ekonominya ke dalam stagnasi panjang. Artikel ini juga mengutip pernyataan resmi Global Times yang membantah tuduhan manipulasi nilai tukar, dengan argumen bahwa daya saing China berasal dari sistem industri yang lengkap dan investasi teknologi.

Namun, pengamat ekonomi Michael Pettis mencatat bahwa argumen tersebut mengasumsikan yuan hanya urusan China dan campur tangan asing adalah tindakan kolonial. Tanpa penyesuaian, China berisiko menghadapi isolasi perdagangan atau konflik berkepanjangan yang justru memperlemah ekonominya sendiri. Surplus dagang China yang terus membesar memicu kekhawatiran di kalangan mitra dagang. Eropa, khususnya, melihat defisit perdagangan dengan China sebagai ancaman sistemik. tekanan ini diperparah oleh faktor lain: energi mahal, inovasi yang lambat, dan dampak perang Ukraina. Artikel ini menyebut bahwa beberapa politisi Eropa sudah menyebut hubungan China-EU sebagai 'ancaman sistemik'. Jika China mempertahankan yuan lemah, negara-negara importir China seperti Jerman dan Prancis akan semakin frustrasi dan mungkin menerapkan tarif atau hambatan non-tarif.

Ini bisa memicu perang dagang yang memukul rantai pasok global, termasuk yang melibatkan Indonesia sebagai pemasok komoditas dan komponen. Transmisi ke Indonesia sangat langsung. China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, menjadi tujuan utama ekspor batu bara, nikel, dan CPO. Yuan yang lemah membuat produk China lebih murah, menekan daya saing ekspor Indonesia di pasar negara ketiga maupun di China sendiri.

Di sisi lain, Indonesia juga bergantung pada impor dari China — mulai dari barang modal hingga bahan baku. Jika yuan melemah, impor dari China menjadi lebih murah dalam rupiah, yang bisa membantu menekan biaya produksi — tetapi risiko perang dagang dan pelambatan ekonomi China justru dapat menekan permintaan ekspor komoditas Indonesia. Lebih jauh, pelemahan yuan sering memicu efek domino ke mata uang Asia lainnya, termasuk rupiah, karena investor melihat Asia sebagai kawasan yang terkait dengan China. Data terkini menunjukkan rupiah di Rp17.957 per dolar AS, level tekanan tinggi. Jika konflik yuan memuncak, tekanan terhadap rupiah bisa bertambah. Yang harus dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons resmi China terhadap tekanan internasional.

Jika PBOC sengaja mempertahankan atau memperlemah yuan fixing rate, sinyal konfrontasi akan semakin jelas. Risiko eskalasi ke tindakan balasan dagang oleh EU atau AS — seperti tarif baru — harus dicermati karena langsung memengaruhi rantai pasok Indonesia. Sinyal positif adalah jika China menunjukkan fleksibilitas, misalnya dengan mempercepat rebalancing ekonomi ke konsumsi domestik atau mengapresiasi yuan secara bertahap. Bagi Indonesia, kerja sama Local Currency Trade dengan China yang tengah diperluas (lihat artikel terkait Himbara minta likuiditas yuan) bisa menjadi bantalan jika konflik dagang tidak terlalu parah. Namun, jika tekanan terhadap yuan semakin kuat, ketergantungan Indonesia pada sistem yuan justru bisa menjadi risiko baru. Perkembangan ini perlu dipantau bersama dengan data ekspor Indonesia bulan depan serta pergerakan yuan fixing rate harian.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan nilai tukar China bukan sekadar isu bilateral, tetapi memiliki efek sistemik ke seluruh Asia, termasuk Indonesia. Jika China akhirnya mengapresiasi yuan seperti Jepang pasca-Plaza Accord, ekspor China akan lebih mahal — membuka peluang bagi eksportir Indonesia di pasar global. Namun, proses transisi yang kacau atau perang dagang justru bisa menekan permintaan komoditas dan memicu capital flight dari emerging market. Indonesia perlu bersiap menghadapi kedua skenario.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir komoditas Indonesia (batu bara, nikel, CPO) menghadapi risiko penurunan permintaan jika pelambatan ekonomi China memburuk akibat konflik dagang. Sebaliknya, jika yuan menguat, produk China lebih mahal dan membuka celah bagi eksportir Indonesia di pasar negara ketiga.
  • Perusahaan yang mengimpor bahan baku atau mesin dari China akan diuntungkan oleh yuan yang lemah (biaya lebih rendah dalam rupiah), tetapi risiko perang dagang bisa mengganggu pasokan dan menaikkan biaya logistik.
  • Bank-bank Himbara yang memperluas Local Currency Trade dengan China (artikel terkait) akan menghadapi ketidakpastian likuiditas yuan jika konflik nilai tukar meningkat, karena BI harus mengelola cadangan devisa di tengah tekanan rupiah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi China terhadap tekanan internasional — apakah ada perubahan kebijakan nilai tukar atau stimulus fiskal untuk rebalancing ekonomi.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi tuduhan undervaluasi yuan ke tindakan balasan dagang oleh EU atau AS, yang bisa memicu perang dagang besar dan mengganggu rantai pasok global termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: pergerakan yuan fixing rate harian oleh PBOC — jika sengaja dilemahkan lebih lanjut, konflik akan semakin intens; jika dipertahankan stabil atau diperkuat, itu sinyal de-eskalasi.

Konteks Indonesia

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan tujuan ekspor utama komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO. Kebijakan yuan yang lemah membuat ekspor China lebih murah, menekan daya saing produk Indonesia di pasar global. Di sisi lain, Indonesia mengembangkan Local Currency Trade (LCT) dengan China untuk mengurangi ketergantungan dolar AS, yang tercermin dari permintaan Himbara kepada BI agar menyediakan likuiditas yuan 100%. Jika tekanan terhadap yuan meningkat, Indonesia perlu mengelola risiko nilai tukar dan menjaga momentum LCT. Pelambatan ekonomi China akibat konflik dagang juga akan menekan permintaan komoditas utama Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.