27 AGS 2026
Uji Quantum-Resistant Bitcoin di Mainnet Berbiaya $200 — Soft Fork Dinilai Tetap Perlu

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Uji Quantum-Resistant Bitcoin di Mainnet Berbiaya $200 — Soft Fork Dinilai Tetap Perlu
Forex & Crypto

Uji Quantum-Resistant Bitcoin di Mainnet Berbiaya $200 — Soft Fork Dinilai Tetap Perlu

Tim Redaksi Feedberry ·27 Agustus 2026 pukul 04.14 · Sinyal rendah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.7 Skor

Uji coba ini adalah tonggak teknis penting bagi keamanan Bitcoin, namun dampaknya baru akan terasa ketika proposal soft fork mulai dibahas dan memengaruhi sentimen serta infrastruktur exchange kripto di Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

StarkWare mengumumkan keberhasilan uji transaksi Bitcoin tahan-kuantum (quantum-resistant) pertama di mainnet. Transaksi yang terkonfirmasi pada blok 964.199 tersebut menghabiskan output 10.000 satoshi yang dilindungi skema Quantum Safe Bitcoin (QSB). Biaya operasinya ditaksir mencapai USD150–200 dengan waktu komputasi berjam-jam, dan MARA Pool memprosesnya melalui layanan Slipstream karena transaksi ini tergolong non-standard menurut kebijakan relay Bitcoin Core. Dengan kata lain, node biasa tidak akan menyebarkan transaksi ini sebelum konfirmasi, sehingga diperlukan jalur khusus ke penambang. QSB menggabungkan skema tanda tangan satu kali berbasis hash dengan pencarian komputasional untuk mengikat otorisasi ke transaksi spesifik, sehingga mencegah pemalsuan bahkan jika komputer kuantum memecahkan kriptografi kurva elips yang dipakai Bitcoin.

Uji ini merupakan demonstrasi onchain pertama dari proposal Levy yang diperkenalkan pada April, setelah riset Google pada Maret memperkirakan bahwa komputer kuantum yang mumpuni secara teoritis dapat menurunkan kunci privat Bitcoin dalam 9–12 menit setelah kunci publik terlihat. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa aturan konsensus Bitcoin yang ada dapat mengakomodasi mekanisme pengeluaran tahan-kuantum tanpa memerlukan perubahan protokol. Meski begitu, CEO StarkWare Eli Ben-Sasson menegaskan bahwa QSB hanyalah jaring pengaman darurat, bukan pengganti proteksi di level protokol. Sebuah soft fork tetap diperlukan untuk melindungi seluruh jaringan secara menyeluruh.

Biaya transaksi yang mencapai ratusan dolar untuk output senilai 10.000 satoshi (sekitar 0,0001 BTC) membuat metode ini tidak ekonomis untuk transaksi rutin, hanya relevan untuk aset bernilai besar atau skenario ekstrem ketika pengguna harus memindahkan dana segera dari alamat yang dianggap terancam. Dengan kata lain, ini adalah solusi sementara yang layak secara teknis, tetapi masih jauh dari praktis untuk adopsi umum. Bagi Indonesia, berita ini menggarisbawahi pergeseran dari sekadar kekhawatiran teoretis menjadi uji nyata di jaringan utama. Investor ritel yang mendominasi pasar kripto domestik kini memiliki alasan lebih kuat untuk percaya bahwa Bitcoin sedang bersiap menghadapi risiko kuantum, sekaligus menjadi pengingat bahwa infrastruktur teknis masih harus terus diperkuat.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini bukan sekadar uji teknis biasa — ia memperlihatkan bahwa risiko kuantum Bitcoin sudah memasuki fase konkret, dan solusi tanpa fork hanya bisa berjalan dengan biaya tinggi serta akses khusus ke penambang. Implikasinya, keputusan soft fork yang selama ini tertunda kini mendapat tekanan nyata dari sisi keamanan. Bagi investor, kejelasan arah pengamanan jaringan menentukan kepercayaan jangka panjang terhadap aset kripto; bagi exchange dan penyedia dompet, kesiapan kompatibilitas menjadi prasyarat kontinuitas operasional.

Dampak ke Bisnis

  • Exchange kripto Indonesia seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pluang perlu memastikan sistem mereka kompatibel jika nanti ada soft fork atau peningkatan protokol. Keterlambatan adaptasi berisiko menghambat layanan selama transisi.
  • Investor ritel yang menahan aset di alamat lama akan terdampak jika migrasi pasca-kuantum diwajibkan. Edukasi dan sosialisasi dari platform lokal menjadi penting untuk mencegah kesalahan pengiriman aset.
  • Regulator Bappebti dan OJK kemungkinan akan mulai memantau perkembangan standar keamanan kripto global. Jika standar baru disepakati, kebijakan domestik dapat mengikuti, yang berpotensi mengubah persyaratan listing atau kewajiban kepatuhan bagi penyedia layanan aset kripto.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan proposal BIP-360 dan proposal soft fork lain — jika mendapat dukungan mayoritas penambang, perubahan protokol bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan dan langsung berdampak pada operasional exchange.
  • Risiko yang perlu dicermati: perbedaan pandangan tentang jadwal ancaman kuantum, dari 20-40 tahun menurut Adam Back hingga 3-5 tahun menurut Bernstein, dapat menimbulkan fragmentasi keputusan di komunitas pengembang dan menunda pengamanan.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari exchange Indonesia mengenai kesiapan menghadapi protokol pasca-kuantum — ini menjadi indikator bahwa industri lokal serius mengantisipasi perubahan jangka panjang.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki basis investor kripto ritel yang aktif, dengan transaksi signifikan melalui exchange lokal di bawah pengawasan Bappebti dan OJK. Keamanan jaringan Bitcoin adalah fondasi nilai aset yang mereka pegang; jika ancaman kuantum dijawab dengan proses upgrade yang mulus, kepercayaan publik terhadap aset digital akan menguat, sedangkan kegagalan mitigasi dapat memicu kekhawatiran sistemik. Exchange dan penyedia dompet lokal perlu memastikan kompatibilitas sistem setelah aktivasi protokol tahan-kuantum, sementara regulator perlu mencermati standar internasional agar kebijakan domestik tetap relevan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.