8 JUN 2026
Uber Vs Waymo: Robotaxi Siap Bertarung di London

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Uber Vs Waymo: Robotaxi Siap Bertarung di London
Teknologi

Uber Vs Waymo: Robotaxi Siap Bertarung di London

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juni 2026 pukul 11.00 · Sumber: TechCrunch ↗
6 Skor

Persaingan langsung dua raksasa robotaxi di satu kota merepresentasikan momen kritis industri AV global — dampak ke model bisnis ride-hailing, rantai pasok EV, dan regulasi transportasi yang kelak memengaruhi Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Uber dan Waymo bersiap bertarung langsung di pasar robotaxi London. Uber membuka daftar minat bagi pelanggan di Inggris untuk mencocokkan dengan kendaraan otonom Wayve — startup AV Inggris yang didukung Uber. Sementara itu, Waymo milik Alphabet telah mulai menguji sekitar 100 unit Jaguar I-Pace di area seluas 100 mil persegi di London. Uber belum memberikan tanggal pasti peluncuran, hanya menyebut "dalam beberapa bulan ke depan" menunggu persetujuan regulator. Tarif robotaxi Uber akan sama dengan kendaraan biasa, dan penumpang bisa menolak jika tidak ingin naik AV. Di tahap awal, akan ada pengemudi keselamatan manusia sebelum operasi tanpa pengemudi penuh.

Persaingan ini rumit karena Uber dan Waymo sebenarnya memiliki kemitraan di AS — Waymo sempat menempatkan kendaraannya di aplikasi Uber di Phoenix, Austin, dan Atlanta. Namun hubungan itu mulai renggang. Uber gencar berinvestasi di lusinan perusahaan AV lain, termasuk Wayve dan Nuro — yang baru-baru ini mendapat komitmen hampir setengah miliar dolar AS dari Uber, bermitra dengan Lucid untuk menyediakan 35.000 unit kendaraan listrik sebagai basis armada robotaxi.

Di sisi lain, Waymo justru menghadapi masalah operasional serius di AS. Perusahaan menghentikan sementara layanan di enam kota karena robotaxinya kesulitan menangani banjir, dan di empat kota lain karena masalah zona konstruksi di jalan tol. Waymo terpaksa mengeluarkan recall perangkat lunak untuk 3.791 kendaraan, namun perbaikan belum tuntas. Insiden robotaxi Waymo terjebak banjir di Atlanta terjadi setelah recall dikeluarkan — menunjukkan celah fundamental dalam teknologi otonom terhadap kondisi lingkungan tak terduga. Meski demikian, Waymo tetap agresif berekspansi global dan menargetkan satu juta perjalanan berbayar per minggu pada akhir 2026.

Bagi industri AV global, pertarungan London menjadi uji nyata apakah model agregator ala Uber — yang tidak memiliki teknologi AV sendiri melainkan menggandeng banyak mitra — bisa mengalahkan model vertikal terintegrasi Waymo yang mengembangkan sendiri seluruh tumpukan teknologinya. Keberhasilan Wayve di London akan menjadi sinyal bahwa pendekatan kolaboratif Uber bisa menjadi standar baru, sementara jika Waymo unggul, model kepemilikan penuh tetap dominan.

Mengapa Ini Penting

Persaingan robotaxi di London bukan sekadar pertarungan dua perusahaan teknologi — ini adalah uji coba dua model bisnis yang akan menentukan bagaimana layanan mobilitas otonom akan terstruktur secara global. Jika Uber yang tidak memiliki teknologi AV sendiri berhasil, maka perusahaan ride-hailing seperti Gojek dan Grab di Indonesia bisa mengadopsi model serupa tanpa harus mengembangkan AV dari nol. Namun jika Waymo yang terintegrasi vertikal tetap dominan, maka hambatan masuk bagi pemain lokal akan sangat tinggi karena harus menguasai teknologi dan modal besar sekaligus. Di sisi lain, kegagalan teknis Waymo di AS membuktikan bahwa AV belum matang untuk kondisi jalan yang kompleks — ini menjadi peringatan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang infrastrukturnya lebih menantang.

Dampak ke Bisnis

  • Persaingan Uber-Waymo di London akan mempercepat inovasi di sektor robotaxi, namun juga mengungkap kerentanan teknis yang signifikan — terutama dalam menghadapi cuaca ekstrem dan zona konstruksi. Ini berdampak langsung pada timeline adopsi AV di pasar negara berkembang: semakin lambat Waymo menyelesaikan masalah di AS, semakin panjang jarak menuju komersialisasi AV di Indonesia.
  • Model agregator Uber — berinvestasi di banyak startup AV (Wayve, Nuro) tanpa mengembangkan sendiri teknologinya — menekan biaya R&D dan risiko. Perusahaan ride-hailing di Asia Tenggara, termasuk Gojek dan Grab, dapat meniru strategi ini dengan menjalin kemitraan dengan startup AV lokal atau global untuk menghindari beban investasi yang sangat mahal.
  • Kemitraan Uber dengan Lucid untuk 35.000 unit EV sebagai armada robotaxi — melalui investasi di Nuro — menandakan bahwa permintaan kendaraan listrik untuk armada otonom akan melonjak. Ini menjadi katalis positif bagi industri nikel Indonesia sebagai pemasok utama baterai EV, terutama jika permintaan dari operator ride-hailing global meningkat signifikan dalam 2–3 tahun ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: tanggal peluncuran resmi robotaxi Uber-Wayve di London — jika terjadi dalam 2 bulan ke depan, ini akan menjadi tonggak penting bagi model agregator AV global.
  • Risiko yang perlu dicermati: kemampuan Waymo menyelesaikan perbaikan teknis masalah banjir dan zona konstruksi — jika gagal sebelum ekspansi London besar-besaran, kredibilitas seluruh industri AV bisa terguncang dan memundurkan investasi di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: respons regulator transportasi London terhadap dua layanan robotaxi yang beroperasi bersamaan — kerangka regulasi yang dihasilkan bisa menjadi cetak biru bagi negara lain termasuk Indonesia yang tengah menyusun aturan kendaraan otonom.

Konteks Indonesia

Persaingan robotaxi di London memberikan gambaran tentang dua jalur adopsi AV yang mungkin diikuti Indonesia: model agregator ala Uber (menggandeng mitra) atau model terintegrasi ala Waymo (bangun sendiri). Bagi Gojek dan Grab yang sudah menjadi pemain dominan ride-hailing di Indonesia, model Uber lebih realistis karena tidak perlu investasi R&D AV yang mahal — mereka bisa menggandeng startup AV dalam negeri atau asing. Namun keterbatasan teknis Waymo — terutama dalam menangani banjir dan konstruksi — menjadi pengingat bahwa infrastruktur jalan Indonesia yang kompleks, rawan banjir, dan padat akan menjadi tantangan besar bagi adopsi AV dalam waktu dekat. Regulasi AV di Indonesia masih dalam tahap awal; Kementerian Perhubungan perlu mencermati standar keselamatan yang diterapkan London untuk diadaptasi ke kondisi lokal. Di sisi lain, komitmen Uber terhadap EV melalui kemitraan dengan Lucid memperkuat prospek permintaan nikel Indonesia sebagai bahan baku baterai.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.