7 JUL 2026
Uang Primer Juni 2026 Tumbuh 13,8% — Likuiditas Melimpah tapi Melambat

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Uang Primer Juni 2026 Tumbuh 13,8% — Likuiditas Melimpah tapi Melambat
Makro

Uang Primer Juni 2026 Tumbuh 13,8% — Likuiditas Melimpah tapi Melambat

Tim Redaksi Feedberry ·7 Juli 2026 pukul 07.22 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Pertumbuhan uang primer yang masih dua digit namun melambat menunjukkan likuiditas masih longgar, tetapi tekanan rupiah dan inflasi bisa memicu pengetatan moneter lebih lanjut.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Indikator Makro
Indikator
Uang Primer (M0 Adjusted)
Nilai Terkini
Rp 2.228 triliun, tumbuh 13,8% yoy
Nilai Sebelumnya
Rp 2.214 triliun (Mei 2026), tumbuh 14,2% yoy
Perubahan
pertumbuhan melambat 0,4 persen poin yoy; secara bulanan naik Rp 14 triliun
Tren
stabil
Sektor Terdampak
PerbankanPasar UangSektor RiilPropertiKonsumsi

Ringkasan Eksekutif

Bank Indonesia mencatat uang primer (M0 adjusted) pada Juni 2026 mencapai Rp 2.228 triliun, tumbuh 13,8% secara tahunan. Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 14,2% pada Mei 2026, namun masih berada di jalur ekspansi tinggi. Faktor pendorong utama adalah peningkatan uang kartal yang beredar sebesar 14,0% dan giro bank umum di BI sebesar 12,7%. BI telah menyesuaikan metode penghitungan M0 sejak Januari 2025 untuk mengisolasi dampak pemberian insentif likuiditas, sehingga gambaran yang dihasilkan lebih akurat mengenai tekanan moneter yang sebenarnya. Secara bulanan, posisi Juni naik dari Rp 2.214 triliun pada Mei, tetapi masih di bawah level Maret yang mencapai Rp 2.396 triliun — menunjukkan bahwa setelah lonjakan likuiditas pasca Lebaran, terjadi penyerapan bertahap.

Dalam konteks makro yang lebih luas, pertumbuhan uang primer yang masih tinggi ini terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 17.975 per dolar AS dan IHSG yang tertahan di 5.975. Likuiditas yang melimpah sebenarnya bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi mendukung aktivitas ekonomi dan pembiayaan, di sisi lain berpotensi menambah tekanan inflasi dan memperlemah rupiah jika tidak dikelola dengan hati-hati. Data ini menjadi sinyal bahwa BI mungkin akan mempertahankan sikap hawkish dalam menjaga stabilitas moneter, terutama ketika inflasi masih dalam rentang target dan tekanan eksternal dari suku bunga AS tetap tinggi (Fed Funds Rate 3,63%, yield 10Y AS 4,49%).

Perlambatan pertumbuhan M0 dari bulan sebelumnya juga mengindikasikan bahwa dampak kebijakan likuiditas BI mulai terasa, namun belum cukup untuk mengubah arah secara signifikan. Bagi pelaku pasar, hal ini berarti suku bunga tinggi kemungkinan masih akan bertahan lebih lama, sehingga sektor yang bergantung pada kredit seperti properti dan konsumsi perlu bersiap dengan biaya dana yang tetap mahal. Sementara itu, sektor perbankan justru bisa diuntungkan dengan margin bunga yang masih lebar selama NPL terkendali. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Pertumbuhan uang primer yang melambat namun masih dua digit menandakan bahwa likuiditas perekonomian tetap longgar, tetapi tekanan terhadap rupiah dan inflasi belum sepenuhnya mereda. Ini menjadi faktor penting bagi BI dalam menentukan arah suku bunga ke depan: jika likuiditas terus bertambah cepat, BI mungkin perlu menaikkan Giro Wajib Minimum atau melakukan operasi pasar terbuka untuk menyerap kelebihan likuiditas. Sebaliknya, perlambatan M0 bisa menjadi sinyal awal bahwa tekanan moneter mulai berkurang, membuka potensi ruang bagi BI untuk menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Bagi pelaku usaha dan investor, kondisi ini memengaruhi biaya pendanaan, daya beli konsumen, dan arus modal asing — sehingga menjadi barometer kesehatan moneter jangka pendek.

Dampak ke Bisnis

  • Pertumbuhan uang primer yang tinggi namun melambat menandakan likuiditas perbankan masih melimpah, sehingga suku bunga kredit mungkin tidak segera turun — margin bunga bersih (NIM) perbankan bisa tetap terjaga dalam jangka pendek, namun risiko kenaikan NPL tetap ada karena suku bunga tinggi.
  • Bagi sektor properti dan konsumsi yang sensitif terhadap kredit, likuiditas yang melimpah belum tentu mendorong permintaan jika suku bunga masih tinggi; perlambatan M0 justru bisa menandakan permintaan uang mulai lesu, mengindikasikan perlambatan ekonomi.
  • Tekanan likuiditas eksternal (USD/IDR tinggi) membuat BI cenderung mempertahankan kebijakan ketat, yang berdampak pada biaya impor dan margin emiten importir — sementara eksportir komoditas mungkin diuntungkan oleh rupiah lemah dan likuiditas yang cukup.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data inflasi CPI bulan Juli dan Agustus — jika inflasi tetap di bawah target 3,5%, pelonggaran moneter mungkin dipertimbangkan.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut di atas Rp18.000 per dolar AS — dapat memicu capital outflow dan memaksa BI menaikkan Giro Wajib Minimum atau memperketat likuiditas.
  • Sinyal penting: perubahan metode perhitungan M0 atau pernyataan BI mengenai kebijakan insentif likuiditas — ini bisa menjadi indikator arah kebijakan moneter ke depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.