5 JUN 2026
Trump Berlakukan Tarif Baru 10% untuk 60 Negara — Asia Tertekan, Indonesia Rentan

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Trump Berlakukan Tarif Baru 10% untuk 60 Negara — Asia Tertekan, Indonesia Rentan
Makro

Trump Berlakukan Tarif Baru 10% untuk 60 Negara — Asia Tertekan, Indonesia Rentan

Tim Redaksi Feedberry ·5 Juni 2026 pukul 09.21 · Sumber: Asia Times ↗
8 Skor

Tarif baru Trump langsung berlaku untuk 60 negara, mencakup mitra dagang utama Asia. Timing kritis karena Asia sudah tertekan perang Iran dan harga minyak tinggi. Dampak ke Indonesia melalui ekspor, rantai pasok, dan tekanan sentimen global.

Urgensi
8
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Donald Trump kembali memberlakukan tarif baru setidaknya 10% untuk 60 negara, termasuk China, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Uni Eropa.

Langkah ini diambil setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif 'Liberation Day' sebelumnya, dan menggunakan jalur hukum berbeda: Section 301 Trade Act 1974 melalui investigasi baru. Alasan resminya adalah tuduhan kerja paksa, dengan China sebagai target utama. Ekonom memperingatkan risiko headline yang tinggi bagi investor karena ketidakpastian kepatuhan dan kemungkinan eskalasi. Waktu penerapan sangat tidak menguntungkan bagi Asia. Kawasan ini sudah tertekan oleh perang AS-Iran yang mendorong harga minyak Brent di atas $94 per barel, biaya pupuk melonjak, dan inflasi menggerogoti pertumbuhan. Nilai tukar regional juga dalam tekanan — rupiah diperdagangkan di level 18.015 per dolar AS, level tertekan dalam setahun terakhir.

Bagi Indonesia, dampak langsungnya adalah potensi penurunan ekspor ke AS untuk produk yang masuk dalam investigasi, meskipun belum jelas produk mana yang terkena. Lebih luas lagi, tarif ini mengancam rantai pasok regional karena banyak perusahaan Indonesia yang menjadi bagian dari jaringan produksi Asia Timur — terutama di sektor elektronik, tekstil, dan alas kaki. Jika tarif memicu perlambatan ekonomi China dan Jepang, permintaan komoditas Indonesia seperti batu bara, nikel, dan CPO bisa tertekan. Sektor yang paling rentan adalah eksportir manufaktur ke Amerika: garmen, elektronik, dan furnitur.

Di sisi lain, ada potensi pengalihan perdagangan jika importir AS mencari alternatif dari China — Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan relokasi. Namun, ketidakpastian regulasi membuat peluang itu belum bisa diandalkan dalam jangka pendek. Yang harus dipantau dalam 1-2 minggu ke depan: (1) daftar produk spesifik yang masuk investigasi tarif — apakah termasuk produk ekspor utama Indonesia; (2) respons China dan negara ASEAN lain — apakah ada balasan atau negosiasi; (3) pergerakan rupiah dan IHSG — jika sentimen risk-off berlanjut, tekanan jual asing bisa meningkat. Risiko utama adalah eskalasi menjadi perang dagang penuh yang memperpanjang tekanan pada ekonomi terbuka seperti Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Tarif baru Trump bukan sekadar guncangan perdagangan — ini sinyal bahwa kebijakan proteksionis AS akan bertahan lama terlepas dari hambatan hukum. Bagi Indonesia, ancamannya dua lapis: langsung melalui ekspor ke AS, dan tidak langsung melalui perlambatan mitra dagang utama seperti China dan Jepang. Ini terjadi di saat fiskal RI sudah defisit dan rupiah lemah, membuat bantalan lebih tipis.

Dampak ke Bisnis

  • Ekspor Indonesia ke AS — terutama tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur — berpotensi terkena tarif jika produk masuk investigasi Section 301. Perusahaan seperti PT Primarindo Asia Infrastructure (garmen) dan emiten alas kaki akan paling rentan dalam jangka pendek.
  • Perlambatan ekonomi China dan Jepang akibat tarif ini bisa menekan permintaan komoditas andalan Indonesia: batu bara (ADRO, PTBA), nikel (ANTM, NCKL), dan CPO (AALI, LSIP). Jika harga komoditas ikut tertekan, pendapatan ekspor nasional bisa berkurang.
  • Di sisi positif, perusahaan China yang ingin menghindari tarif AS bisa merelokasi produksi ke Indonesia — sektor manufaktur seperti elektronik dan komponen otomotif berpotensi mendapatkan investasi asing baru. Tapi proses ini butuh waktu dan kepastian regulasi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis daftar produk spesifik dari investigasi Section 301 oleh USTR — apakah produk ekspor utama Indonesia (tekstil, elektronik, alas kaki) masuk dalam daftar. Sumber informasi: USTR atau pernyataan resmi Kementerian Perdagangan RI.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi balasan dari China — jika China memberlakukan tarif balasan ke produk AS, rantai pasok global bisa terganggu lebih parah dan menekan IHSG serta rupiah lebih dalam.
  • Sinyal penting: respons pemerintah Indonesia — apakah akan mengirim tim negosiasi ke Washington atau mengajukan pengecualian. Langkah proaktif bisa menahan dampak negatif bagi eksportir.

Konteks Indonesia

Indonesia termasuk dalam 60 negara yang dikenai tarif baru Trump minimal 10%. Meskipun tidak disebut secara spesifik dalam artikel, Indonesia sebagai anggota ASEAN yang bergantung pada ekspor ke AS dan rantai pasok regional akan terkena dampak signifikan. Sektor prioritas: produk manufaktur seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur yang menjadi andalan ekspor non-migas. Selain itu, perlambatan ekonomi China — eksportir utama ke Indonesia untuk barang modal dan investasi — dapat menekan pertumbuhan domestik. Tekanan pada rupiah (saat ini Rp18.015) sudah terlihat; tarif baru berisiko memperkuat dollar dan menekan nilai tukar lebih lanjut, memperberat beban importir dan biaya utang luar negeri korporasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.