11 AGS 2026
Trump Ancam Pecat Powell — Independensi The Fed Terancam
← Kembali
Beranda / Makro / Trump Ancam Pecat Powell — Independensi The Fed Terancam
Makro

Trump Ancam Pecat Powell — Independensi The Fed Terancam

Tim Redaksi Feedberry ·16 April 2026 pukul 00.50 · Sinyal tinggi · Sumber: Detik Finance ↗
7.7 Skor

Ancaman politik terhadap The Fed dapat memicu gejolak pasar global, menekan rupiah dan pasar keuangan domestik yang sedang dibayangi defisit APBN.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Ancaman politik terhadap independensi Federal Reserve
Penerbit
Presiden AS

Ringkasan Eksekutif

Presiden AS Donald Trump mengancam akan memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell jika ia tidak mengundurkan diri dari dewan bank sentral ketika masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Ancaman ini muncul di tengah penyelidikan kriminal dan surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS terkait dugaan Powell berbohong kepada Kongres mengenai renovasi kantor pusat The Fed senilai US$2,5 miliar. Trump telah mengusung mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai pengganti sejak Januari 2026, namun proses konfirmasi di Senat terhambat karena Senator Republik Thom Tillis menahan suaranya sampai penyelidikan terhadap Powell selesai. Ketegangan semakin meningkat setelah dua jaksa yang bekerja untuk Jeanine Pirro ditolak masuk ke gedung The Fed pada Selasa (14/4) saat kunjungan mendadak untuk memeriksa progres renovasi.

Pengacara The Fed meminta jaksa tidak datang lagi tanpa pendampingan hukum dari bank sentral. Insiden ini memperkuat pertanyaan besar tentang independensi The Fed di bawah tekanan politik langsung dari Gedung Putih.

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar drama politik internal AS. Jika The Fed kehilangan independensinya, pasar akan kehilangan anchor kebijakan moneter — imbal hasil obligasi global dan nilai tukar dolar bisa bergerak liar. Bagi Indonesia, efeknya langsung terasa melalui tekanan pada rupiah, arus modal asing, dan ruang gerak Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada rupiah dan SBN: Jika dolar menguat dan imbal hasil Treasury AS naik, investor asing cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang. USD/IDR yang sudah berada di 17.814 berisiko terdepresiasi lebih dalam, meningkatkan beban impor dan pembayaran utang luar negeri korporasi.
  • IHSG dan sektor perbankan: Sentimen risk-off global dapat memicu koreksi di pasar saham domestik, terutama pada emiten dengan kepemilikan asing besar dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan dan properti. Ketidakpastian ini juga memperberat tekanan pada IHSG yang berada di level 6.317.
  • Ruang kebijakan BI makin sempit: Dengan Fed berpotensi kehilangan kredibilitas dan inflasi AS yang masih tinggi, pelonggaran moneter global bisa tertunda. Bank Indonesia harus tetap fokus pada stabilitas rupiah, sehingga pemangkasan suku bunga acuan untuk mendorong pertumbuhan menjadi semakin sulit di tengah defisit APBN Rp240,1 triliun.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kelanjutan penyelidikan terhadap Powell — jika bukti pelanggaran ditemukan, konfrontasi hukum dengan Trump semakin terbuka dan pasar akan bereaksi terhadap ketidakpastian institusional.
  • Risiko yang perlu dicermati: proses konfirmasi Kevin Warsh di Senat — jika Tillis terus menahan suara dan Warsh tidak kunjung disetujui, Powell bisa tetap menjabat melewati Mei 2026, tetapi dalam situasi yang sarat konflik.
  • Sinyal penting: respons pasar terhadap setiap pernyataan Trump dan The Fed — pergerakan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang saat ini 4,69% dan indeks dolar akan menjadi indikator kunci sebelum berdampak ke rupiah dan IHSG.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.