26 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Transaksi LCT BI Naik ke USD55 Miliar, Dolar Masih Dominan
Forex & Crypto

Transaksi LCT BI Naik ke USD55 Miliar, Dolar Masih Dominan

Tim Redaksi Feedberry ·26 Oktober 2026 pukul 18.42 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Infobank ↗
7.3 Skor

Langkah ini menyentuh inti arsitektur pembayaran dan eksposur valas korporasi, tetapi dampaknya bertahap — bukan guncangan pasar yang langsung terasa.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Indikator Makro
Indikator
Nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT)
Nilai Terkini
sekitar USD55 miliar
Nilai Sebelumnya
sekitar USD25 miliar
Perubahan
naik lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya
Tren
naik
Sektor Terdampak
perbankan devisaimportir bahan bakueksportirenergi dan bahan bakar nabatipenyelenggara jasa pembayaran dan merchant lintas negara

Ringkasan Eksekutif

Bank Indonesia mencatat nilai transaksi lewat skema Local Currency Transaction (LCT) sekitar USD55 miliar, naik dari sekitar USD25 miliar pada tahun sebelumnya. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan angka itu dalam Technology Innovation Investment Forum Danantara 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Kini ada sekitar 6–7 negara mitra LCT, dengan China sebagai salah satu mitra bernilai transaksi terbesar. Framing resminya: promosi ekspor, substitusi impor, dan diversifikasi mata uang dalam perdagangan serta investasi. Yang tidak terlihat dari headline ini: LCT tidak menghapus risiko nilai tukar, melainkan memindahkan bentuknya. Selama ini sebagian besar transaksi dagang Indonesia diselesaikan dalam dolar AS, sehingga eksposur valas terkonsentrasi pada satu mata uang.

Ketika pembayaran beralih ke yuan, ringgit, atau baht, eksposur itu tidak lenyap — ia tersebar ke beberapa mata uang yang likuiditasnya lebih tipis dan instrumen lindung nilainya lebih terbatas di pasar domestik. Bagi importir yang mitranya di China, konsekuensi praktisnya bukan "bebas valas", melainkan kebutuhan likuiditas dan kontrak lindung nilai yuan yang sebelumnya tidak ada dalam kebijakan treasuri mereka. Skala USD55 miliar juga perlu dibaca sebagai pangsa, bukan pengganti: nilainya masih jauh di bawah keseluruhan arus perdagangan dan investasi yang dilayani sistem pembayaran domestik, sehingga efeknya pada permintaan dolar bersifat marginal, bukan menentukan. Konteks pasar menjelaskan mengapa BI menyandingkan LCT dengan dorongan pengurangan impor energi.

Rupiah berada di 17.978 per dolar AS, IHSG di 5.373 setelah turun 1,22%, dan Brent di USD110,84. Pada level energi setinggi itu, tagihan impor bahan bakar adalah sumber tekanan neraca eksternal yang jauh lebih besar daripada pilihan mata uang penyelesaian. Di titik itu, LCT memperbaiki sisi "mata uang" dari persamaan, sementara biodiesel B50 dan pengurangan impor energi menyentuh sisi "volume". Keduanya harus berjalan bersamaan; LCT sendirian tidak akan menutup defisit neraca pembayaran, dan pasar cenderung membaca penguatan skema ini sebagai sinyal defensif, bukan solusi. Rantai dampaknya menyebar ke pihak yang tidak disebut artikel.

Bank pemilik jalur bilateral dan unit trade finance memetik pendapatan berbasis biaya baru, tetapi harus menerima kompresi pada spread konversi valas — sumber pendapatan yang selama ini lazim bagi bank devisa. Produsen CPO masuk sebagai pemasok bahan baku biodiesel, sehingga permintaan domestik untuk sawit menguat secara bertahap; meski demikian, saham proxy CPO justru turun 1,30% ke 9.500 pada perdagangan terkini, menandakan pasar belum mengaitkan kebijakan ini dengan permintaan sawit. Perluasan QRIS lintas negara membuka kanal bagi pedagang dan pelaku pariwisata, tetapi juga menuntut kesiapan akuisisi merchant di sisi penerima.

Mengapa Ini Penting

BI sedang memindahkan upaya stabilisasi rupiah dari sisi intervensi ke sisi arsitektur transaksi — mengurangi permintaan dolar secara perlahan ketimbang melawannya di pasar spot. Bagi korporasi, ini berarti kebijakan treasuri yang selama ini hanya mengasumsikan dolar perlu ditulis ulang: eksposur valas kini berlapis, dan biaya lindung nilai pada mata uang non-dolar umumnya lebih mahal. Yang paling diuntungkan bukan eksportir besar, melainkan bank yang lebih dulu menyiapkan jalur bilateral dan likuiditas mata uang mitra.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dan eksportir dengan mitra China menghadapi perubahan operasional konkret: kebutuhan likuiditas yuan, kontrak forward non-dolar, serta penetapan harga jual yang tidak lagi cukup dipatok pada kurs rupiah-dolar. Kesalahan mengabaikan lapisan ini akan muncul sebagai selisih margin, bukan sebagai kerugian kurs yang terlihat.
  • Bank devisa mengalami pergeseran bauran pendapatan — spread konversi valas menyusut, tetapi pendapatan berbasis biaya dari trade finance dan settlement meningkat. Pemain dengan jaringan koresponden luas menang; bank tanpa jalur bilateral berisiko kehilangan nasabah korporasi menengah.
  • Efek yang baru terasa dalam 3–6 bulan: permintaan domestik terhadap bahan baku biodiesel meningkat seiring implementasi B50, menguntungkan produsen CPO terintegrasi namun menambah kompetisi atas pasokan minyak goreng domestik. Di sisi lain, perluasan QRIS lintas negara menggerus kebutuhan layanan pengiriman uang dan menekan margin penyedia remitansi konvensional.
  • Pihak yang tidak disebut artikel tetapi terdampak: penyedia sistem treasuri dan perangkat lunak manajemen risiko valas, lembaga kliring, serta perusahaan asuransi kredit perdagangan yang harus menyesuaikan penilaian risiko pada kontrak non-dolar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis data sistem pembayaran BI bulan berikutnya — jika porsi LCT terhadap total transaksi dagang tidak ikut terungkap, klaim diversifikasi sulit diverifikasi dan pasar akan menilai inisiatif ini secara konservatif.
  • Risiko yang perlu dicermati: implementasi biodiesel B50 — tanpa pengurangan impor energi yang terukur, tekanan neraca eksternal tetap ditentukan volume impor, dan LCT hanya memperbaiki sisi mata uang tanpa menyentuh sumber defisitnya.
  • Sinyal penting: arah rupiah di sekitar 17.978 dan pergerakan Brent — pelemahan lanjutan pada keduanya akan menguji apakah diversifikasi mata uang benar-benar menambah bantalan, atau sekadar memindahkan tekanan ke mata uang lain.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.