26 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin Bertahan di US$80.000, FOMC Desember Jadi Risiko
Forex & Crypto

Bitcoin Bertahan di US$80.000, FOMC Desember Jadi Risiko

Tim Redaksi Feedberry ·26 Oktober 2026 pukul 17.49 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Keputusan The Fed pekan ini nyaris tanpa kejutan, tetapi konsensus kenaikan pada FOMC Desember dan tekanan di kompleks teknologi AI membuat support US$80.000 menjadi titik rapuh yang merambat ke selera risiko global, termasuk pasar kripto ritel dan saham teknologi domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Bitcoin bertahan di sekitar US$80.000 sepanjang akhir pekan menjelang keputusan suku bunga The Fed pada Rabu. Pasar memberi peluang di atas 90% bahwa Federal Funds Rate tetap berada di rentang 3,75–4%, dan data FedWatch menunjukkan konsensus mengarah pada kenaikan 0,25% baru pada rapat FOMC Desember. Ekonom Robin Brooks mencatat pasar hanya memberi peluang 12% untuk kenaikan pekan ini — dua angka itu sejalan bila dibaca sebagai satu hal: pengetatan pekan ini dipandang sebagai ekor distribusi, bukan skenario utama. Yang menjadi persoalan justru bahasa pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, bukan angka keputusannya. Perpecahan antara harga jangka pendek dan ekspektasi akhir tahun itulah inti persoalannya.

Brooks menilai lonjakan minyak tidak akan memaksa The Fed berubah arah, bahkan bila Brent menyentuh US$125 per barel. Dalam skenarionya, krisis utang Prancis memburuk, kekhawatiran atas utang pusat data dan sektor AI meningkat, dan S&P 500 tertekan — situasi ketika kondisi keuangan justru mengencang dengan sendirinya, sehingga menaikkan suku bunga menjadi langkah yang paling tidak diinginkan. Brent sendiri sempat menyentuh US$117 per barel pada Jumat, tertinggi sejak 19 Maret, sebelum turun ke sekitar US$110; data pasar terkini menempatkannya di US$110,11 atau turun 1,42%. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,96% dan indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,4 — biaya peluang yang mahal bagi aset tanpa arus kas.

Yang luput dari perhatian: dalam pekan ini Bitcoin tidak berperilaku sebagai lindung nilai inflasi. Harga minyak bergerak ke level tertinggi beberapa bulan, tetapi Bitcoin justru tertekan di batas bawah rentang. Aset ini bergerak sebagai proksi berdurasi panjang atas kondisi pembiayaan, dan tekanan datang dari rantai belanja modal kecerdasan artifisial. Tesla memangkas belanja modal kuartal ketiga, KOSPI Korea Selatan ditutup turun 1,5% ke 5.469 poin setelah sempat menyentuh 5.308 poin pada Jumat — level yang belum terlihat sejak akhir Juli — dan Nasdaq Composite ditutup di 25.955 poin. Laporan laba Amerika yang lebih kuat dari ekspektasi gagal mengangkat sentimen karena perhatian pasar berpindah ke arah belanja modal, bukan ke laba. Jalur ke Indonesia berlapis.

USD/IDR berada di 18.115, sehingga aset berdenominasi dolar makin mahal bagi investor ritel domestik dan penurunan Bitcoin dalam dolar tidak otomatis setara dengan kerugian dalam rupiah. IHSG ditutup di 5.373, turun 1,22%, sementara AALI sebagai proksi CPO melemah 1,30% ke 9.500. Pasar kripto ritel Indonesia dan exchange lokal tetap terpapar likuiditas global, dan sentimen risk-off pada aset digital historisnya lebih dulu muncul sebagai tekanan pada saham teknologi domestik.

Mengapa Ini Penting

Keputusan Rabu hampir pasti tanpa kejutan, sehingga seluruh nilai informasinya berpindah ke satu kalimat dalam pernyataan Warsh dan ke peluang kenaikan Desember. Di situlah risiko asimetris berada: support US$80.000 kini bertumpu pada asumsi pengetatan selesai, sementara data FedWatch menyebut kenaikan 0,25% masih dalam pipeline tahun ini. Bila asumsi itu bergeser, level tersebut berubah dari lantai menjadi pintu keluar — dan berdasarkan riset DWF Labs yang dikutip pemberitaan arus dana, pemegang ETF Bitcoin tercatat menarik dana pada tujuh dari delapan koreksi minimal 15% sejak produk spot diluncurkan Januari 2024. Narasi bahwa kendaraan teregulasi menciptakan permintaan pasif yang menahan penurunan justru berbalik menjadi umpan balik saat koreksi terjadi.

Dampak ke Bisnis

  • Investor ritel kripto Indonesia dan exchange lokal menghadapi dua lapis tekanan: selera risiko global yang menurun dan kurs USD/IDR di 18.115 yang membuat aset berdenominasi dolar makin mahal. Penurunan harga dalam dolar tidak otomatis setara kerugian rupiah, tetapi biaya masuk posisi baru naik.
  • Sektor teknologi di IHSG adalah penerima dampak yang paling cepat, meski tidak disebut dalam berita ini. IHSG sudah turun 1,22% ke 5.373 ketika KOSPI melemah dan Nasdaq ditutup di 25.955 poin — pola ini biasanya muncul lebih dulu di saham teknologi domestik sebelum menyebar ke sektor lain.
  • Rantai pembiayaan infrastruktur AI menjadi simpul yang paling sering terlewat. Pemangkasan belanja modal Tesla dan kehati-hatian pasar atas utang pusat data mengubah kalkulasi imbal hasil proyek padat modal; efeknya baru terasa dalam tiga sampai enam bulan melalui perlambatan belanja dan pengetatan kredit, bukan melalui harga aset hari ini.
  • Di sisi komoditas, Brent di US$110,11 mempertahankan daya tarik sawit lewat jalur biodiesel, sehingga tekanan energi global tidak serta-merta negatif bagi seluruh sektor domestik — namun AALI justru melemah 1,30% ke 9.500, menandakan faktor domestik ikut bekerja.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: penutupan harian Bitcoin relatif terhadap US$80.000 — kegagalan bertahan membuka uji support lebih dalam, sementara penutupan di atas level itu menandakan tekanan jual ETF sudah terserap.
  • Risiko yang perlu dicermati: indeks PCE Kamis dengan pembanding 3,4% year-on-year — angka yang lebih tinggi dari pembanding memperkuat ekspektasi kenaikan Desember, menaikkan biaya peluang aset tanpa arus kas dan menekan rupiah melalui jalur imbal hasil.
  • Sinyal penting: peluang kenaikan pada FOMC Desember di data FedWatch — pergeseran material dari posisi saat ini adalah penanda bahwa pasar mulai menilai ulang arah kebijakan, yang biasanya merambat lebih dulu ke aset digital sebelum ke pasar berkembang.
  • Yang perlu diawasi: arah KOSPI dan saham teknologi Asia — indeks ini sudah menyentuh 5.308 poin pada Jumat sebelum ditutup di 5.469 poin, dan kelanjutan pelemahan menjadi konfirmasi bahwa tekanan bersumber dari pembiayaan AI, bukan koreksi teknikal biasa.

Konteks Indonesia

Jalur dampak ke pasar domestik berlapis. USD/IDR di 18.115 membuat aset berdenominasi dolar semakin mahal bagi investor ritel, sehingga pelemahan Bitcoin dalam dolar tidak otomatis berarti kerugian setara dalam rupiah. IHSG berada di 5.373 atau turun 1,22%, sementara AALI sebagai proksi CPO melemah 1,30% ke 9.500 di tengah Brent yang masih berada di US$110,11. Pasar kripto ritel Indonesia dan exchange lokal tetap terpapar likuiditas global, dan tekanan pada aset digital biasanya lebih dulu muncul sebagai koreksi saham teknologi domestik. Kombinasi kurs lemah dan minyak mahal juga menjadi beban bagi neraca impor energi, yang membatasi ruang pelonggaran moneter domestik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.