11 JUN 2026
TradFi Advisors Pilih Stablecoin & Tokenization — Bitcoin Ditinggalkan

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / TradFi Advisors Pilih Stablecoin & Tokenization — Bitcoin Ditinggalkan
Forex & Crypto

TradFi Advisors Pilih Stablecoin & Tokenization — Bitcoin Ditinggalkan

Tim Redaksi Feedberry ·11 Juni 2026 pukul 07.01 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
7 Skor

Pergeseran minat penasihat keuangan global meninggalkan Bitcoin untuk stablecoin dan tokenization memperkuat sentimen risk-off kripto — berdampak pada arus modal emerging market termasuk Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Bitwise’s Matt Hougan mengungkapkan bahwa penasihat keuangan tradisional (TradFi) kini lebih tertarik pada stablecoin dan tokenization daripada Bitcoin. Dalam diskusi terbaru, para penasihat menyebut Ethereum, Solana, Canton, Chainlink, Avalanche, serta platform Hyperliquid, Figure, Circle, dan Coinbase. Hougan menilai minat ini bisa menjadi pendorong pasar bull berikutnya, yang secara historis dipicu oleh terobosan produk baru dan tipe investor baru. 'Harapan terbaik' adalah bahwa penasihat keuangan dan investor institusional membentuk kelas investasi kripto baru, dan uang mereka kemungkinan akan mengalir ke investasi stablecoin dan tokenization. Pergeseran ini memperkuat narasi bahwa Bitcoin mungkin kehilangan daya tarik sebagai 'gerbang' adopsi institusional utama, digantikan oleh aplikasi blockchain yang lebih langsung bagi institusi — seperti penerbitan stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata.

Di sisi lain, dari artikel terkait, Bitcoin sendiri sedang menghadapi tekanan signifikan. Harga mendekati level psikologis $60.000, dengan margin penambang mencapai rekor terendah. Likuiditas global (M2) terus meningkat ke sekitar $122,6 triliun, namun Bitcoin justru terkoreksi dari puncak $126.000 — divergensi yang menjadi sinyal 'canary in the coal mine' bagi aset berisiko. Sementara itu, penutupan platform DeFi Bitcoin seperti Botanix menunjukkan permintaan untuk DeFi native Bitcoin masih lemah. Bagi Indonesia, pergeseran minat TradFi ke stablecoin dan tokenization memiliki dampak tidak langsung namun signifikan.

Investor ritel kripto Indonesia — yang aktif di platform seperti Reku, Tokocrypto, dan Pintu — akan menghadapi lingkungan pasar yang berubah: jika fokus global beralih ke stablecoin dan tokenization, eksposur Bitcoin di portofolio mereka mungkin menjadi relatif kurang diminati. Di sisi makro, Bitcoin telah menjadi proxy risk appetite global. Ketika Bitcoin tertekan, investor institusional cenderung menarik modal dari emerging market seperti Indonesia. Data pasar terkini mencatat IHSG di level 5.877 dan rupiah di Rp17.985 per dolar AS — keduanya sudah mencerminkan tekanan yang berlangsung. Jika Bitcoin gagal bertahan di atas $60.000 dan jatuh menuju $50.000–$55.000 seperti diperingatkan analis, gelombang risk-off baru dapat mempercepat aksi jual asing di saham dan obligasi Indonesia, menekan lebih lanjut valuasi emiten blue-chip dan memperlemah rupiah.

Emiten dengan utang dolar — properti, infrastruktur, maskapai — akan menanggung beban ganda.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran minat penasihat keuangan dari Bitcoin ke stablecoin dan tokenization bukan sekadar perubahan tren, melainkan sinyal bahwa adopsi institusional kripto tidak lagi bergantung pada Bitcoin sebagai aset spekulatif. Ini dapat mempercepat pertumbuhan ekosistem stablecoin dan tokenization di tingkat global, yang pada akhirnya mempengaruhi arus modal ke produk kripto yang lebih terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional. Bagi Indonesia, dampaknya terlihat melalui korelasi Bitcoin dengan risk appetite global — jika Bitcoin terus tertekan dan minat institusional beralih ke produk alternatif, arus keluar modal asing dari Indonesia bisa semakin deras. Selain itu, regulator seperti Bappebti dan OJK perlu mengantisipasi pergeseran fokus ini dalam kerangka regulasi aset digital domestik.

Dampak ke Bisnis

  • Platform exchange kripto lokal (Reku, Tokocrypto, Pintu) harus menyesuaikan strategi produk untuk mengakomodasi permintaan stablecoin dan tokenization, bukan hanya perdagangan Bitcoin. Jika tidak, mereka bisa kehilangan daya saing saat institusi masuk ke Indonesia.
  • Emiten dengan utang dolar (properti, infrastruktur, maskapai) menghadapi tekanan ganda jika risk-off global berlanjut: depresiasi rupiah meningkatkan beban utang, sementara biaya impor membengkak. Kondisi ini makin parah jika Bitcoin gagal bertahan di atas $60.000, memicu aksi jual asing.
  • Bagi investor ritel kripto Indonesia, portofolio yang terkonsentrasi di Bitcoin berisiko mengalami kerugian lebih dalam jika momentum bergeser ke stablecoin. Namun, jika mereka bertransisi ke produk stablecoin/yield, risiko volatilitas bisa berkurang — tetapi imbal hasil juga lebih rendah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level support psikologis Bitcoin di $60.000 — jika jebol, gelombang risk-off baru dapat mempercepat capital outflow dari Indonesia, menekan rupiah dan IHSG lebih dalam.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS (CPI) yang akan dirilis pekan ini — jika lebih tinggi dari ekspektasi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama akan memperkuat dolar AS dan menekan emerging market termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: arus dana ETF Bitcoin spot AS — jika outflow deras masih berlanjut, itu menandakan tekanan jual institusional belum reda; jika mereda, bisa menjadi sinyal awal stabilisasi yang meredakan tekanan risk-off global.

Konteks Indonesia

Meskipun artikel berfokus pada tren global penasihat keuangan yang beralih dari Bitcoin ke stablecoin dan tokenization, konteks Indonesia relevan melalui dua jalur. Pertama, investor ritel kripto Indonesia yang cukup aktif di platform lokal akan terpengaruh oleh pergeseran sentimen dan minat institusional. Kedua, Bitcoin sebagai proxy risk appetite global — ketika harganya tertekan akibat berkurangnya minat dari TradFi ditambah sentimen risk-off, arus keluar modal asing dari Indonesia cenderung meningkat, memperlemah rupiah dan menekan IHSG. Emiten dengan utang dolar menjadi paling rentan. Regulator domestik (Bappebti/OJK) perlu mengantisipasi potensi pergeseran arus modal dan produk kripto yang diminati.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.