8 JUL 2026
Toss-Optimism Uji Coba Stablecoin Won Korea — Gelombang Adopsi Institusional di Asia

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Toss-Optimism Uji Coba Stablecoin Won Korea — Gelombang Adopsi Institusional di Asia
Forex & Crypto

Toss-Optimism Uji Coba Stablecoin Won Korea — Gelombang Adopsi Institusional di Asia

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juli 2026 pukul 11.33 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

PoC ini adalah bagian dari tren global stablecoin yang kini didorong institusi keuangan tradisional; Indonesia sebagai pasar kripto ritel aktif dan pengguna stablecoin tinggi akan terpengaruh oleh arah regulasi dan persaingan antar stablecoin di Asia.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Aplikasi keuangan Korea Selatan Toss, yang mengklaim memiliki lebih dari 30 juta pengguna, dilaporkan bermitra dengan jaringan Optimism dan pengembang inti OP Stack Sunnyside Labs untuk melakukan proof of concept (PoC) stablecoin berbasis won Korea. PoC ini bertujuan menguji kelayakan stablecoin untuk pembayaran, dengan Optimism sebagai infrastruktur blockchain dan Sunnyside Labs menyediakan teknologi pelindung privasi untuk transaksi. Langkah Toss mengikuti inisiatif serupa dari institusi keuangan Korea lainnya: Shinhan Card telah bekerja sama dengan Solana Foundation pada April 2026 untuk menguji pembayaran stablecoin dan dompet non-kustodian, dengan target mengembangkan layanan DeFi sendiri menggunakan oracle blockchain.

Di tingkat global, Visa telah meluncurkan layanan penyelesaian USDC di jaringan Solana untuk institusi keuangan AS, sementara Mastercard dan BC Card Korea juga menjajaki stablecoin untuk pembayaran. Volume transaksi stablecoin yang disesuaikan mencapai rekor $1,79 triliun pada Juni 2026 — didominasi oleh Base (Coinbase) dengan $565 miliar, Ethereum $562 miliar, dan Tron $320 miliar — menurut data yang dikembangkan Visa dan mitra riset. Ini menandakan bahwa stablecoin semakin matang menjadi lapisan fundamental ekonomi Web3 yang beroperasi independen dari harga kripto spekulatif. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Indonesia adalah salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia, dengan OJK dan Bappebti tengah menyusun kerangka regulasi aset digital.

PoC stablecoin yang digerakkan oleh institusi perbankan dan pembayaran Korea dapat menjadi model bagi pengembangan stablecoin lokal atau bahkan mempercepat adopsi stablecoin dolar seperti USDC dan USDT di Indonesia. Namun, ada juga hambatan: bank sentral India (RBI) masih mendorong isolasi bank dari stablecoin privat, menunjukkan sikap regulator yang beragam di Asia. Bagi Indonesia, arah kebijakan domestik akan sangat menentukan — apakah Indonesia mengikuti pendekatan akomodatif seperti Singapura dan Korea, atau restriktif seperti India. Rupiah digital (CBDC) yang tengah dikembangkan BI juga akan menjadi faktor penentu persaingan.

Mengapa Ini Penting

PoC ini bukan sekadar uji coba teknologi, melainkan konfirmasi bahwa institusi keuangan mainstream di Asia serius mengadopsi stablecoin untuk pembayaran sehari-hari. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi di Indonesia melalui kemitraan antara bank, fintech, dan blockchain — mengubah lanskap sistem pembayaran domestik yang selama ini didominasi oleh perbankan tradisional dan e-money seperti GoPay/OVO. Ini juga memberi tekanan pada regulator Indonesia untuk segera mengeluarkan aturan yang jelas tentang stablecoin, agar tidak ketinggalan dalam persaingan inovasi keuangan regional.

Dampak ke Bisnis

  • Potensi disrupsi pada sistem pembayaran ritel Indonesia: jika stablecoin berbasis rupiah atau dolar diadopsi, biaya transaksi lintas batas dan settlement bisa turun drastis, mengancam pendapatan bank dari remitansi dan transfer.
  • Peluang bagi emiten fintech dan penyedia infrastruktur blockchain di Indonesia, seperti exchange lokal (misal: Tokocrypto, Pintu, Rekeningku) yang bisa menyediakan layanan konversi atau kustodi stablecoin jika regulasi mendukung.
  • Risiko regulasi: jika OJK/Bappebti mengikuti sikap RBI (India) yang menjauhkan bank dari stablecoin privat, maka proyek-proyek stablecoin di Indonesia akan terhambat, dan inovasi justru mengalir ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil resmi PoC Toss-Optimism — apakah akan dilanjutkan ke peluncuran komersial dan kapan timeline-nya; ini akan menjadi sinyal kepercayaan pasar terhadap stablecoin berbasis mata uang fiat Asia.
  • Risiko yang perlu dicermati: arah kebijakan OJK dan Bappebti terhadap stablecoin — jika Indonesia mengadopsi sikap restriktif serupa India (artikel terkait 4), hal ini dapat memicu capital outflow dari sektor kripto domestik dan menghambat adopsi stablecoin oleh lembaga keuangan.
  • Sinyal penting: volume transaksi stablecoin di Indonesia dari data exchange lokal — peningkatan volume secara signifikan dapat menjadi indikator adopsi yang perlu diantisipasi oleh regulator dan bank sentral.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang sangat aktif, dengan stablecoin (terutama USDT) sering digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap rupiah yang melemah dan untuk transaksi lintas batas. OJK dan Bappebti saat ini sedang menyusun regulasi komprehensif untuk aset digital, termasuk stablecoin. PoC Toss-Optimism menunjukkan arah adopsi stablecoin yang diatur oleh institusi keuangan, sejalan dengan tren global. Jika Indonesia tidak segera merumuskan kerangka yang jelas, risiko ketertinggalan inovasi dan hilangnya daya saing sektor fintech di kawasan Asia Tenggara akan meningkat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.